Pola Komunikasi Penuh Kasih, Resep Jitu Keluarga Bahagia
KOMUNIKASI yang baik dan asertif menjadi salah satu kunci kebahagiaan sebuah keluarga. Banyak kasus, sebuah perkawinan menjadi tidak harmonis bahkan sering kali biduk rumah tangga kandas hanya gara-gara gagal dalam berkomunikasi. Itulah pentingnya memahami dan mempraktikkan pola komunikasi penuh kasih. Hal tersebut disampaikan oleh psikolog Marcella Siddidjaja dalam rekoleksi Terus Konek Jangan Korslet di lantai 3 Gedung Pastoral St Yohanes Paulus II, Paroki St Paulus Depok Lama, Sabtu (9/8/2025).Rekoleksi yang mengambil tema “Komunikasi Keluarga, Tantangan di Era Digital untuk Menjaga Api Cinta Keluarga tersebut juga menghadirkan Romo Yustinus Ardianto Pr, Direktur Pusat Pusat Pastoral Samadi Klender, Jakarta. Acara ini digagas oleh Seksi Kerasulan Keluarga Paroki St Paulus Depok Lama. Turut hadir dalam acara tersebut Romo Agustinus Anton Widarto OFM, Romo Yustinus Agung Setiadi OFM, dan jajaran DPP-DKP Paroki St Paulus Depok. “Ada beberapa faktor kunci penyebab perceraian, di antaranya perselingkuhan, masalah ekonomi dan kekerasan dalam rumah tangga. Tapi data statistik menyebutkan penyebab utama perceraian adalah buruknya komunikasi pasangan. Perbedaan pandangan dalam berumah tangga, pola asuh, atau campur tangan keluarga besar bisa membuat biduk keluarga kandas jika tidak dikomunikasi dengan baik,” kata Marcella.“Komunikasi yang buruk menyumbang 53 persen penyebab perceraian. Biasanya kita cenderung menyalahkan pasangan setiap kali ada masalah keluarga. Ada juga yang secara sengaja mengalihkan perhatian seolah tidak ada masalah. Bahkan ada yang cuek dan mengabaikan masalah meski harus menekan perasaan. Jika ini dibiarkan, suatu saat bisa menjadi persoalan besar. Lantas bagaimana cara berkomunikasi yang baik? Leveler atau setara. Kita harus memposisikan diri setara dengan pasangan, jangan ada yang merasa paling dominan, saling menghormati,” tuturnya. Mengutip psikolog Amerika Serika Prof Dr John Gottman, Marcella mengatakan sebuah hubungan bakal rusak jika komunikasi dipenuhi dengan kritik, hinaan, defensif dan stonewalling. Stonewalling adalah sikap diam dan abai dari pasangan dalam sebuah konflik. Sikap diamnya pasangan ini kerap dianggap seperti dinding batu yang keras, diam, dan dingin. “Kuncinya kita harus mampu membangun komunikasi yang efektif namun penuh cinta. Bagaimana membuat pasangan bisa memahami pesan yang kita sampaikan sekaligus tetap merasa dicintai. Tidak mudah karena sering kali komunikasi dibalut emosi, tapi kita harus bisa melakukannya,” imbuh Marcella.Menurutnya ada 3 kualitas penting dalam komunikasi. Pertama adalah kehangatan. Kehangatan membuat pasangan kita merasa diterima. Kehangatan membuat pasangan tetap bisa menjadi diri sendiri dan apa adanya, lebih relaks, bebas dan damai. Yang kedua adalah genuiness atau keaslian, tampil apa adanya, dan jujur. Keaslian ini bisa dilihat dari intonasi, ekspresi verbal, gerak mata dan gestur tubuh.“Seringkali kita mencoba tampil atau bersandiwara seolah-olah kita adalah pasangan sempurna untuk istri atau suami kita. Ingat, tidak ada manusia yang sempurna, jadi berkomunikasilah dengan jujur, apa adanya,” kata Mercella.“Dan yang ketiga adalah empati. Sering dalam pernikahan kita berasumsi bahwa pasangan kita tahu apa yang kita alami, yang kita rasakan, padahal tidak. Jadi kita harus mampu berempati, dengan menggunakan hati dan pikiran kita agar bisa memahami pasangan. Cobalah berkomunikasi dengan sentuhan,” ujarnya.Dalam rekoleksi tersebut Marcella juga mengajak peserta mengenal, memahami diri sendiri, dan mengelola emosi. Menurutnya, sangat penting untuk mengenal dan memahami diri sendiri untuk mengelola emosi. Spiritualitas PengampunanPada sesi kedua, Romo Yustinus Ardianto Pr menyebut tidak ada keluarga yang sempurna sejak awal, dan terbentuk begitu saja. Menurut Romu Yus, dokumen “Amoris Laetitia” (Kegembiraan Cinta) menyebut keluarga membutuhkan waktu untuk tumbuh dan berkembang dalam cinta, dan ini adalah proses yang berkelanjutan.“Artinya keluarga harus terus berjuang menuju kesempurnaan, sekaligus kita juga mengakui bahwa tidak ada keluarga yang sempurna di dunia ini,” kata Romo Yus. Sebagai catatan, dokumen Amoris Laetitia adalah sebuah nasehat apostolik pasca-sinode yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus, yang membahas tentang kasih dalam keluarga. Dokumen ini diterbitkan pada tanggal 8 April 2016, dan merupakan hasil refleksi dari dua Sinode tentang Keluarga yang diadakan pada tahun 2014 dan 2015. Dokumen ini membahas berbagai aspek kehidupan keluarga, tantangan yang dihadapi, serta memberikan panduan pastoral untuk membangun keluarga yang baik sesuai dengan ajaran Gereja. Romo Yus juga mengingatkan bahwa hakikat perkawinan adalah perjanjian perkawinan antara pria dengan seorang wanita membentuk di antara mereka kebersamaan seluruh hidup. Sifat hakiki perkawinan adalah monogami dan tidak terceraikan.“Jadi sangat penting untuk merawat cinta setiap hari, setiap saat, Cinta yang tidak dirawat biasanya berakhir dengan tragedi. Harus dipahami bahwa pasangan yang menikah dengan Anda tidak 100 persen sempurna,” kata Romo Yus.“Kesalahpaham adalah sebuah keniscayaan. Namun kita harus terus tumbuh dan semakin matang. Yesus mengatakan, ‘Ampunilah 70×7 kali. Hendaklah amarahmu pada sebelum matahari terbenam’ dan itu adalah spiritualitas pengampunan,” imbuhnya. djanur buana








