Berita Paroki

Retret Yubelium Pembina SEKAMI

“Recharge Semangat untuk Melayani dari Hati” Di tengah padatnya rutinitas kuliah, pekerjaan, dan pelayanan setiap minggu, kadang semangat itu perlahan bisa memudar. Kami pun menyadari bahwa hati kami butuh waktu untuk diisi ulang bukan karena ingin berhenti, tapi agar tetap setia melangkah dengan cinta. Dari kerinduan itulah kami, para pembina SEKAMI Paroki Santo Paulus Depok, mengadakan Retret Yubelium Pembina SEKAMI 2025 pada 4–5 Oktober 2025, diikuti oleh 29 peserta. Selama dua hari satu malam kami mengambil waktu hening untuk memperbarui iman, menyegarkan batin, dan menemukan  kembali sukacita dalam mendampingi anak-anak misioner kecil di paroki. Pelayanan SEKAMI adalah panggilan yang indah sekaligus menantang. Di tangan para pembina inilah anak-anak belajar berdoa, mengenal Yesus, dan tumbuh dalam semangat misioner. Tapi di balik tawa anak-anak setiap Minggu, ada para pembina yang juga butuh dikuatkan. Karena itu, retret ini hadir untuk menyegarkan kembali semangat pelayanan, merefleksikan perjalanan SEKAMI selama setahun, memperkuat kerja sama antar pembina, memperdalam spiritualitas, dan menyusun program baru yang relevan bagi anak-anak zaman sekarang. Retret ini bukan sekadar acara tahunan, tapi ruang istirahat rohani tempat setiap pembina menata ulang hati, menengok panggilan, dan belajar lagi untuk melayani dengan sukacita. Hari pertama diisi dengan berbagai sesi reflektif dan inspiratif. Setelah doa pembukaan, para pembina mengikuti sesi bertema “Menjadi Pembina yang Melayani dengan Hati” untuk merenungkan perjalanan pelayanan mereka. Sesi sharing iman membuat suasana semakin hangat, ketika satu per satu pembina berbagi kisah nyata dari rasa bangga melihat anak-anak mulai berani memimpin doa sampai perjuangan menghadapi anak-anak yang special. Siang harinya, suasana berubah jadi lebih seru dengan kegiatan outbound dan team building yang penuh tawa. Permainan sederhana tapi bermakna ini mengingatkan bahwa kerja sama dan saling percaya adalah dasar dari setiap pelayanan yang hidup. Malam harinya menjadi momen yang paling berkesan. Dalam malam keakraban, para pembina tidak hanya menikmati teh hangat dan bernyanyi bersama, tetapi juga mendapatkan kejutan istimewa. Kak Vero dan Kak Ira, dua senior yang telah menjadi saksi perjalanan panjang Bina Iman Anak di Paroki Santo Paulus Depok, hadir untuk berbagi kisah dan berbagi  pengalaman mereka selama menjadi pembina. Dengan penuh kehangatan, mereka menceritakan suka duka pelayanan di masa lalu tentang tawa, tantangan, dan kasih yang mereka temukan dalam setiap pertemuan bersama anak-anak. Kisah mereka menjadi pengingat indah bahwa pelayanan selalu berakar pada cinta, dan setiap pembina adalah bagian dari rantai kasih yang terus bersambung dari generasi ke generasi. Di akhir malam, dilakukan simbolis penyerahan kepemimpinan kepada pengurus baru, yaitu Kak Vienna, Kak Erly, Kak Zera, Kak Phia, Kak Gita dan Kak Agnes. Momen ini menandai semangat regenerasi dalam pelayanan SEKAMI bahwa setiap generasi dipanggil untuk meneruskan cinta dan karya misi Tuhan. Hari kedua diawali dengan doa Rosario yang kami daraskan bersama dalam suasana hening dan penuh syukur. Setelah itu, kami mengikuti sesi penyusunan program kerja serta refleksi pribadi dan bersama. Dalam momen ini, kami saling menguatkan satu sama lain dalam pelayanan dan belajar kembali untuk bergandengan tangan membangun semangat kebersamaan di tengah tugas sebagai pendamping iman anak-anak. Hari itu menjadi semakin istimewa karena kehadiran Rm. Stefanus Harkam Nampung, OFM, yang mengisi sesi kami hari itu. Romo Stefan juga membagikan pengalamannya ketika melalui masa Novis bersama anak-anak di SEKAMI, cerita beliau menghadirkan semangat dan nostalgia, sekaligus menyalakan kembali rasa syukur atas perjalanan panggilan yang telah kami jalani bersama. Setelah banyak inspirasi dan semangat yang terkumpul sejak hari pertama, Retret pun kami tutup dengan Misa syukur dan foto bersama yang penuh senyum dan kehangatan. Wajah-wajah ceria itu bukan sekadar karena acara yang menyenangkan, tetapi karena hati kami telah diperbarui. Retret Yubelium ini menjadi pengingat bahwa melayani bukan soal siapa yang paling sibuk atau paling hebat, melainkan tentang siapa yang mau terus belajar mencintai dengan sederhana. Makna sejati pelayanan bukan sekadar kegiatan, tetapi perjumpaan dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan diri kami sendiri yang mau terus melayani dengan hati yang tulus. -Ocy-