Page 4 - Warta Edisi 407 THN XL 10 MAR 2019
P. 4

Liputan KHUSUS


        diingatkan bahwa kita ini diciptakan dari   memberikan berkat pada orang tersebut
        debu tanah (Lih. Kej 2:7), dan suatu saat   dengan  air  suci  sambil  berkata  ,”Ingat
        nanti kita akan mati dan kembali menjadi   engkau berasal dari debu dan akan
        debu. Olah karena itu, pada saat menerima   kembali  menjadi  debu.”  Sesudah  itu,
        abu di gereja pada ibadat Rabu Abu, kita   imam akan bertanya, “Puaskah engkau
        mendengar ucapan pastor, “Bertobatlah,   dengan  kain kabung dan abu sebagai
        dan percayalah kepada Injil” atau, “Kamu   pernyataan  tobatmu  di hadapan  Tuhan
        adalah debu dan akan kembali  menjadi   pada  hari  penghakiman?”  Yang  mana
        debu” (you are dust, and to dust you shall   akan dijawab orang tersebut dengan,
        return).”                            “Saya puas.”
            *Asal Usul Hari Rabu Abu             * Abu Sebagai Simbol
            Penggunaan abu dalam liturgi  Rabu   Abu menjadi  sesuatu hal  yang
        Abu ini berasal dari Perjanjian Lama, dimana   dibenci  orang bersih, sebab abu akan
        abu menjadi  lambang perkabungan, rasa   mudah menempel  dan bertebaran
        sesal, dan juga pertobatan umat. Pada   dimanapun yang akan merusak atau
        abad ke-5 SM setelah Yunus berseru supaya   mengurangi keindahan. Akan tetapi, debu
        orang kembali pada Tuhan dan melakukan   dan  juga abu mudah  untuk  dibersihkan
        pertobatan,  Kota  Niniwe  kemudian   dan kumpulan abu juga mudah terbang
        memaklumkan puasa serta mengenakan   berserakan saat terhembus  angin. Selama
        kain kabung dan taja menyelubungi dirinya   beberapa abad sebelum Kristus, abu
        dengan kain kabung sembari duduk  di   sudah digunakan sebagai arti pertobatan
        atas abu. Yesus juga sudah menyinggung   dan dalam Kitab Kejadian disebutkan jika
        tentang pemakaian abu yang ditujukan   manusia tercipta dari debu tanah dan
        untuk kota yang menolak melakukan    akan kembali  menjadi  debu. Ini  terjadi
        pertobatan dari dosa walau sudah     sebelum Roh Allah dihembuskan pada
        melihat sendiri  mujizat secara nyata dan   manusia, sebab tanpa adanya Roh Allah
        mendengarkan kabar gembira.          maka  manusia  tidak  akan  ada  artinya
            Gereja Perdana menggunakan abu   layaknya seperti debu dan tanpa adanya
        sebagai simbol serupa. Tertulianus menulis   Allah, maka manusia hanya bisa berbuat
        dalam  bukunya  yakni  “De  Poenitentia”   dosa.
        sekitar  160  sampai  220,  jika  pendosa   Jika dilihat dari segi teologis, makna
        yang mau bertobat harus hidup tanpa   dari Rabu Abu sendiri adalah para umat
        bersenang-senang  dan  mengenakan  kain   yang percaya mengungkapkan sikap
        kabung serta abu.                    penyesalan  serta  pertobatan  yang
            Pada abad pertengahan, mereka yang   didasari dengan kesadaran kefanaan diri
        sedang menghadapi ajal akan dibaringkan   serta betapa bergantungnya kita dengan
        di atas tanah beralaskan kain kabung lalu   rahmat Kristus. Sedangkan tanda salib
        diperciki dengan abu dan imam akan   dari abu di dahi yang diberikan pada


         04   Warta Paroki St. Paulus - Depok | Edisi 407 | THN XL | 10 MARET 2019
   1   2   3   4   5   6   7   8