Tentang Ayo Vaksin di Paroki St Paulus Depok

SEMULA memang penuh keraguan. COVID-19 mengambil lebih banyak dari yang diperkirakan. Tidak cuma keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat. Tetapi, lebih menakutkan dari itu adalah kreativitas. Talenta untuk bergerak. Hingga kasih terbesar untuk para sahabat.

COVID-19 seperti Jumat Agung yang sesungguhnya. Ceritanya penuh dengan ketakutan, kekecewaan, penderitaan, tangisan, dan keputusasaan. Seperti pada setiap berita duka yang diterima. Juga ketika kita harus dipaksa tinggal dalam getho, pada keterasingan yang menyedihkan.  Persis ketika Yesus telah mati dan para murid-Nya bersembunyi dalam ketakutan dan keputusasaan.

Jumat Agung memang tidak bisa dielakkan jika ingin cerita kebangkitan. Bagaimana mungkin ada kebangkitan tanpa Jumat Agung? COVID-19?

Apa yang terjadi pada Simon dari Kirene, Veronica, Kosmas dan Dimas. Mereka para sahabat dalam penderitaan. Yang ‘tidak mau tahu’ dengan keadaan dan kondisi dirinya sendiri. Mereka bergerak dengan talenta dan kasihnya, menghampiri si empunya penderitaan.

Kehadiran para sahabat itu dan selanjutnya cerita kebangkitan Yesus mengurai ketakutan, kekecewaan, penderitaan, tangisan, dan keputusasaan. Ya, selalu ada sahabat dalam penderitaan.

Sama benarnya dengan mengatakan, tak pernah ada penderitaan yang kekal. Keterasingan yang menyedihkan, yang berakhir pada kesia-siaan. Para sahabat adalah optimisme, yang mengantar perjalanan Jumat Agung menjadi lebih ringan dan berbuah kemenangan. Seperti Simon dari Kirene kepada Yesus, dan akhirnya Yesus kepada kita semua. *

“Terima kasih sudah dikasih kesempatan vaksin di Paulus. Beberapa kali telah mencoba di tempat lain, selalu saja gagal. Saya punya riwayat darah tinggi. Selalu gagal di tensi. Mungkin Paulus adalah rumah kita, di kelilingi orang-orang yang kita kenal. Saya nyaman dan bisa vaksin.”

“Agak repot kalau jalan jauh. Kaki saya sudah tidak sempurna. Paulus dekat, tidak butuh banyak biaya dan tenaga untuk sampai ke sini.”

“Dengan kursi roda, terbatas sekali ruang gerak kami untuk mengantar anak kami. Apalagi kalau harus berebutan dengan orang lain. Di sini nyaman, ada perhatian khusus untuk mereka yang berkebutuhan khusus atau prioritas.”

“Kami ragu untuk antar orang tua kami dengan jarak yang jauh dan di tengah kerumunan. Usia orang tua kami sudah sepuh. Ini tempat terbaik dan kami yakin dengan protokol yang diterapkan.”

“Kami yang berjualan di sekitar gereja dapat kesempatan vaksin di sini. Susah orang seperti kami bisa dapat kesempatan untuk vaksin.”

Lain kesempatan. Ada juga yang berkeluh kesah. “Harusnya bisa vaksin, tetapi kemarin ada keluarga yang datang. Tidak bisa menolak. Besoknya mereka kabari, kalau dua dari antara mereka positif. Saya harus bagaimana?”

“Sudah tiga hari demam tidak turun-turun. Gatal-gatal juga di seluruh badan. Sudah minum obat. Antigen sampai tiga kali, dan hasilnya negatif. Tapi, saya ragu mau datang vaksin. Takutnya, malah bawa masalah.”

Demikian cerita-cerita yang masuk ke call center panitia Ayo Vaksin di Paulus. Masih banyak. Tetapi, sekelumit itu sudah cukup menjadi bingkai. *

Romo Agustinus Anton Widarto OFM menemani warga yang takut divaksin

Pada vaksin dosis pertama, 530 peserta yang terdaftar. Ramai berdatangan para peserta. Pukul 07.00 WIB, sudah ada yang mulai mengantri. Kendati baru pukul 08.00 WIB vaksinasi mulai dibuka. Kewalahan, ya, jelas. Setiap peserta datang dengan persepsi, “saya mungkin tidak akan kebagian. Jadi, harus cepat datang.”

Mengurai kerumunan menjadi salah satu prioritas panitia. Karena kerumunan, di mana pun dan dengan alasan apapun, lebih berujung pada petaka. Kerumunan itu anonimitas. Tak kenal identitas. Dan menjadi masalah besar, dalam kondisi seperti ini.

Boleh dibilang berhasil. Tidak ada isu soal kerumunan. Zero accident. Kendati ambulans siap siaga dan ruang OMK mendadak disulap jadi mini polik. 506 berhasil divaksin pada tahap pertama, dari 550 dosis vaksin yang disiapkan Polres Metro Depok.

“Ini luar biasa. Salah satu yang terbesar di Depok. Nyaman, rapi, tertib. Sukses untuk panitia,” kata Kapolsek Pancoran Mas.   

Pada vaksin dosis kedua. Datang tantangan. Stok sinovac terbatas. Ayo Vaksin di Paulus kebagian 250 vial, yang 1 vialnya berisi 2 dosis. Artinya, memang hanya 500 dosis. Mau dikemanakan 6 peserta lainnya?

Sementara di luar sana, vaksin anak terus diburu. Dosis kedua di berbagai tempat, khusus untuk sinovac, tidak dilayani. Call center panitia Ayo Vaksin pun dibanjiri permintaan. “Bisakah kami dari tempat lain numpang vaksin dosis 2 di Paulus?” Anda tentu tahu jawabannya.

Tuhan tidak tidur. Badai laut yang menimpa para murid kembali membuat nyali para muridNya ciut. Tak ada tunas kemanusiaan yang tumbuh. Padahal, Tuhan ada bersama mereka. Merentangkan tangan, dan angin ribut itu pun reda.

500 dosis untuk 500 peserta. Demikian vaksin periode kedua berakhir dengan happy ending. Untuk semua: peserta, Polres Depok, panitia, dan tentunya Gereja Paulus. *

Jadi, tidak ada penderitaan yang kekal. Dalam setiap penderitaan selalu ada sahabat. Seorang yang siap ‘menyerahkan nyawanya’ untuk sahabat-sahabat lainnya. Demikian pun untuk COVID.

Tuhan selalu hadir. Selalu dengan kemenangan-Nya yang bahkan mustahil untuk dipikirkan, dialami, dan dirasakan.

Bolehlah sesekali menjadi Thomas yang harus mencucukkan jarinya ke luka Yesus untuk mengakui kebangkitan-Nya. Atau menjadi murid-murid dalam perahu ketakutan. Tetapi, pada akhirnya Tuhan memaklumkan kehadiran-Nya secara absolut, tidak terbantahkan, dan sempurna.

Terima kasih juga untuk Anda sekalian yang telah menjadi para sahabat dalam litani Jumat Agung COVID-19 ini. Dengan cara apapun. Sekecil apapun.

Terima kasih juga untuk para sahabat dan relawan, donatur, dan pemerhati Ayo Vaksin di Paulus. Sampai ketemu pada litani kasih berikutnya. (AY)

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen + fourteen =