Tandatangan Pakta Integritas dan Pelepasan Burung Merpati Bukti Keseriusan Umat Ikuti Sinode II Keuskupan Bogor

Umat Paroki St. Paulus Depok membuka tahun Sinode Keuskupan Bogor pada Minggu, 03/03/2019 dengan menandatangani Pakta Integritas dan Pelepasan Burung Merpati usai Perayaan Ekaristi (Misa ke-3) yang dipimpin Pastor Paroki, Pater Alforinus Gregorius Pontus, OFM.

Perayaan yang diawali dengan perarakan meriah menyertakan para perwakilan peserta Sinode dari DPP-DKP, Ketua-ketua Wialayah dan Kordinator kategorial, disusul dengan panandatanganan pakta integritas kemudian diakhiri dengan pelepasan burung merpati oleh pastor paroki Pater Goris dan ketua Dewan Pastoral Paroki, Anton Wibisono sungguh memperlihatkan betapa umat paroki st. Paulus Siap mengikuti sinode Keuskupan Bogor di 70 tahun usianya dengan sungguh-sungguh dan penuh keiklasan.

Entusiasme sambutan umat terhadap sinode keuskupan ini nampak jelas dari pancaran wajah para delegatus yang tampil penuh sukacita sambil mengangkat panji kebanggaan masing-masing wilayah dan kelompok kategorial dari pelataran pastoran hingga depan pntu gereja.

Sinode II keuskupan Bogor yang dibuka tanggal 22/02 hingga ditutup 09 Desember 2019 nanti mengambil tema: ”Sukacita sebagai Communio yang Injili, Murah Hati, Cinta Alam dan Misioner”. Sementara teks inspiratif sebagai dasar biblis Sinode adalah peristiwa perjalanan dua murid Yesus ke Emaus (Luk. 24:
13 – 35).

Suatu tema yang sangat komplit dan kompleks menggambarkan situasi kebersamaan/kekompakan umat Keuskupan Bogor dengan penuh sukacita dalam membangun Gereja berdasakan nasihat Injil.

“Artinya pertemuan-perteuan itu dilaksanakan atas dasar Injil dan selaras dengan kehendak Tuhan. Sedangkan semangat sukacita artinya warna pertemuan-pertemuan dan hidup seluruh umat keuskupan Bogor diusahkan bercorak sukacita, bersaudara, hati riang gembira karena berjalan bersama Kristus, serta bersama umat lainnya”, terang Uskup Bruno dalam sambutan tertulisnya.

Kesulitan duniawi, kata Uskup Paskalis, tidak menghilangkan roh sukacita dan roh kegembiraan yang tulus. Semangat sederhana harus disatupadukan dengan kerendahan hati. “Artinya sinode ini tidak menyita biaya besar secara ekonomi, namun menciptakan rasa persaudaraan yang menyenangkan hati karena dihayati dalam semangat kesederahaan dan kerendahan hati. Kesombongan pribadi serta pembenaran diri yang disertai sikap menghakimi orang lain bukanlah jiwa sinode ini”, ujar bapa uskup.

Sementara pastor paroki, Pater Goris menggambarkan ada jangka pendek dan jangka panjang yang akan dibahas dalam sinode ini nantinya. Untuk jangka pendek, kata pater Goris, pihaknya mengharapkan agar pada tanggal 23-24 Maret 2019 nanti bisa sebanyak mungkin kelompok dan umat yang hadir dengan membawa berbagai ide dan gagasan sebagai masukan yang baik untuk dibawa ke level dekenat dan keuskupan untuk dibahas lebih lanjut.

Sedangkan untuk jangka panjang diharapkan agar pada level keuskupan dapat merumuskan apa yang bisa menjadi arah Gereja Lokal keuskupan Bogor 10-20 tahun ke depan. Sudah pasti 5 prioritas dalam roadmap itu akan menjadi pembahasan, namun akan dipertajam dengan beberapa isu seperti Pendidikan, terutama pendidikan formal di bawah keuskupan dan kedua adalah Masmedia. Bagaimana masmedia itu benar-benar bisa bermanfaat untuk evangelisasi baru. Selain itu keterlibatan dalam politik terkait komitmen sebagai politisi katolik yakni 100 persen katolik dan 100 persen warga negara.

Pater Goris menyatakan, sebagai pastor paroki dirinya optimis sinode ini akan lebih baik karena semua usulan dari bawah untuk diteruskan ke dekenat dan dilanjutkan ke keuskupan. Namun tidak bisa dibuat target karena di sana pasti banyak usulan yang masuk sehingga kita belum tau apakah usulan dari paroki kita masuk prioritas atau tidak.

Ketika ditanya soal usulan konkrit kepada umat Paulus pater Goris enggan memberi usulan secara tegas karena banyak ide yang dimiliki terutama di bidang pemberdayaan ekonomi dan sosial media namun semuanya sangat tergantung pada tanggapan dan kemauan umat untuk menjalakan atau tidak. “Terutama untuk umat Paulus, saya punya beberapa hal, ide di kepala saya tetapi itu musti dilaksanakan bersama-sama. Karena saya yang mengusulkan tetapi umatnya tidak melaksanakan itu juga tidak baik. Saya memiliki ide tetapi umat tidak jalankan mau bagaimana. Yang saya tekankan itu umat bisa jalan bersama-sama. Misalnya pemberdayaan ekonomi, ada bayak peluag yang bisa kita buat, tapi masalahnya orang bisa bergerak atau tidak”, ujar pater Goris mempertanyakan.

Sementara soal penggunaan sosial media, menurut pater Goris saat ini sudah tidak bisa dihindari, bahkan menjadi pilihan utama dalam pewartaan evangelisasi baru. Namun bagi mantan misionaris Thailand ini, pewartaan evangelisasi baru tidak cukup berhenti pada sosial media melainkan harus sampai pada hubungan personal. Sebab di sana iman bekerja sehingga terjalin komunikasi yang bermuara pada saling berbagi dan saling membantu. “Karena sekarang dengan sosial media ini bisa saja kita buat hoax yang tidak benar. Karena itu memang dalam pewartaan evangelisasi baru itu tidak ada pilihan lain, sosial media menjadi pilihan utama tapi tidak berhenti di situ, hars sampai pada hubungan personal. Di situ iman bekerja yang menyentuh orang agar bisa saling membantu” terangnya.

Maka untuk sosial media, kata pater Goris, setiap pengguna tidak bisa asal klik info yang masuk tanpa membaca terlebih dahulu. Dan hanya membaca pun tidak cuku, melainkan harus menggunakan kesadaran kritis untuk menilainya baru disebarkan. (ber)

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 × one =