Renungan Kamis Putih

“Supaya Kamu Juga Berbuat Sama Seperti Yang Telah Kuperbuat Padamu”

Yoh 13:15

 

Kita semua pasti tahu hukum utama yang diberikan Yesus. “Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. … Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:37.39). Melalui tindakan-Nya membasuh kaki para murid dan pengorbanan diri-Nya bagi kita, Yesus memberi teladan bagaimana melaksanakan hukum kasih itu sepenuh-penuhnya. Kedua tindakan itulah yang kita kenangkan pada Malam Kamis Putih ini.

Malam Kamis Putih, di mana Perjamuan Malam Terakhir kita peringati, kita mengenang 2 (dua) tindakan simbolis Yesus yang menyatakan kasih, yaitu perjamuan makan bersama dan membasuh kaki para murid. Perjamuan malam terakhir merupakan pengenangan akan Perjamuan Paskah Yahudi sebagaimana dikisahkan dalam bacaan I. Namun, yang dibuat oleh Yesus tidak sama persis dengan Perjamuan Paskah Yahudi karena bagi Yesus, perjamuan Paskah yang sesungguhnya adalah pengurbanan diri-Nya di salib.

Dalam Perjamuan Paskah Yahudi, biasanya dikurbankan seekor lembu/ domba/ kambing dan darahnya dioleskan pada palang pintu rumah. Para penghuni rumah yang palang pintunya terdapat olesan darah binatang korban itu akan selamat. Dalam perjamuan malam terakhir, yang dikurbankan bukan binatang tetapi diri Yesus sendiri yang menyerahkan tubuh dan darah-Nya dalam rupa roti dan anggur.

Namun, tindakan Yesus ini baru merupakan antisipasi atas pengurbanan diri-Nya di kayu salib esok harinya. Pada malam itu, Yesus menggunakan roti dan anggur sebagai simbol tubuh dan darah-Nya yang dikorbankan. Pengorbanan diri Yesus yang sesungguhnya baru terlaksana di kayu salib di mana darah-Nya yang dioleskan dalam palang salib (bukan pada palang pintu rumah) mendatangkan keselamatan bagi kita.

Pada malam itu, Yesus juga memberikan perintah bahwa perjamuan yang diadakan-Nya itu harus terus-menerus dilakukan untuk mengenangkan Dia (bdk. 1Kor 11:24.25). Nah, inilah yang kita lakukan setiap kali kita merayakan Ekaristi. Dengan Ekaristi, kira merayakan dan mensyukuri kasih Allah yang tanpa batas, serta menimba daya penyelamatannya yang memperbarui hidup kita.

Untuk menyatakan kasih yang tak berkesudahan, masih ada satu lagi tindakan simbolis Yesus, yaitu membasuh kaki para murid. Dalam tradisi Yahudi ada kebiasaan untuk mencuci kaki sendiri sebelum masuk ruang perjamuan. Hanya tamu yang amat dihormati yang kakinya dibasuhkan. Nah, dalam tindakan pembasuhan kaki para murid tersebut, terjadi sesuatu yang unik. Pembasuhan kaki dilakukan pada saat perjamuan. Yang dibasuh oleh Yesus justu kaki para murid, padahal Yesus adalah Guru dan Tuhan yang sangat dihormati para murid (Yoh 13:13). Hal ini menegaskan bahwa bagi Yesus, para murid sangat-sangat berharga dan terhormat. Oleh karena itu, Yesus mengasihi mereka sepenuh-penuhnya.

Tindakan Yesus ini dilakukan sebelum Ia kembali kepada Allah (Yoh 13:3) supaya para murid mendapat bagian dalam Dia (Yoh 13:8). Bagian yang dimaksud adalah agar para murid juga mendapat bagian untuk kembali kepada Allah dan memperoleh anugerah keselamatan abadi. Oleh karena itu, dengan ikut serta dalam perjamuan Tuhan, yang sekarang ini kita alami dalam perayaan Ekaristi, kita juga dibasuh oleh-Nya sehingga kita mendapat bagian keselamatan abadi dalam Dia.

Di akhir perjamuan, Yesus mengutus para murid untuk mengikuti teladan-Nya dan setiap akhir Ekaristi pun kita diutus untuk makin mengasihi Tuhan dan sesama. Yesus juga mengingatkan kita,”..kamu sudah bersih, hanya tidak semua (Yoh 13:10), masing-masing kita memiliki kekurangan dan kesalahan. Sudah sepantasnya kita saling mengampuni dan saling memberi ruang untuk memperbaiki diri. Berkat Tuhan melimpah bagi siapa saja yang berani merendahkan diri di hadapan Tuhan dan sesama.

RP. Agustinus Anton Widarto, OFM

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × 1 =