Siapa yang Lebih Saya Kasihi?

Mendengar perkataan Yesus dalam Injil hari ini, mungkin kita bertanya-tanya: bagaimana mungkin kasih kepada keluarga menghalangi kita untuk menjadi pengikut Yesus?

Semua orang berasal dari sebuah keluarga dan bertumbuh besar dalam keluarga, mana mungkin kita tidak mengasihi keluarga? Tuntutan Yesus dalam Injil ini memang tidak biasa.  

Bacaan Injil hari ini mengisahkan Yesus yang memperingatkan para murid-Nya tentang konsekuensi kemuridan.

Yesus menghendaki supaya murid-murid-Nya berani menjadi murid sejati. Murid yang sejati adalah mereka yang bersedia melepaskan diri dari segala kelekatan di dunia ini.

Harta kekayaan, keluarga, dan nyawa adalah kelekatan yang dapat menghalangi orang untuk mengikut Yesus. Lantas, apakah kita pun juga diminta untuk melaksanakan pesan Yesus tersebut? Jawabannya, iya, kita juga.

Arti perkataan Yesus itu dapat kita pahami secara sederhana saja. Yesus meminta kita untuk lebih memilih dan mengutamakan Dia daripada yang lain.

Yesus tidak berkenan jika kita lebih mencintai hal-hal lain daripada mencintai Dia. “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Dan barangsiapa mengasihi putranya atau putrinya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” (ay. 37)

Mengasihi sanak keluarga adalah sesuatu yang wajar dan alamiah. Yesus justru mengambilnya sebagai contoh ekstrem untuk dipertandingkan dengan kedudukan-Nya sebagai Tuhan. Kata ‘lebih’ dalam perkataan Yesus itu menjadi penanda bahwa tidaklah benar jika Tuhan dinomorduakan. Mengasihi Tuhan harus lebih utama daripada yang lain, karena pada dasarnya Ia telah lebih dahulu mengasihi kita manusia. Kedudukan Tuhan Yesus tidak boleh dan tidak bisa digantikan oleh apapun dan siapapun.

Lalu kalau begitu, apakah kita tidak boleh atau tidak perlu mengasihi keluarga dan sesama? Jawabannya, tidak. Kalau kita mengasihi Tuhan sebagai yang pertama dan utama, pasti kita juga akan mengasihi sesama yang adalah citra-Nya sendiri. Sebab, cintakasih yang benar kepada Tuhan pasti terwujud dalam cintakasih kepada sesama. Sesama itu tidak lain ialah keluarga kita, teman-teman kita, orang-orang di sekitar kita, dan semua orang. Jadi, dengan kita mengasihi Tuhan, sudah pasti kita mengasihi sesama.

Sebaliknya, kalau kita pertama-tama mengasihi sesama, kita belum tentu juga akan mengasihi Tuhan. Mengapa? Karena kasih kepada sesama jika tidak diinspirasi oleh kasih Tuhan, akan mudah diliputi oleh sikap egois, mencari untung, munafik, pamrih, dan sikap negatif lainnya. Itulah bahayanya kalau menomorduakan Tuhan.

Bila kita mengasihi Tuhan Yesus dan mengenal cintakasih yang diperbuat-Nya, kita baru akan bisa mengasihi sesama dengan benar, tanpa pamrih, tanpa mencari kepentingan diri, melainkan tulus seperti Ia sendiri. Kita, murid-murid Tuhan, diajak oleh Yesus supaya tidak terbalik-balik dalam berbuat kasih. Baik Tuhan maupun sesama harus kita kasihi, tetapi Tuhan harus lebih dulu. Kasih kepada Tuhan itulah yang menuntun kita untuk mengasihi sesama. Yusuf Raditya Prima R.

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × four =