Sang Penabur

Sdr  Ari Leto OFM

INJIL hari ini mengisahkan perumpamaan tentang seorang penabur. Penabur menabur benih dipinggir jalan, di tanah yang berbatu, di tanah yang bersemak, dan di tanah yang subur.

Semuanya dikisahkan dengan gamblang oleh Yesus. Jika dibaca secara keseluruhan, rasanya para imam hari ini tidak perlu berkhotbah, dan saya juga tidak perlu menuliskan renungan ini, karena semua telah dijelaskan oleh Yesus.

Kita tinggal berefleksi dan menempatkan diri sebagai tanah macam mana untuk tumbuhnya benih firman Allah. Apakah lebih suka menjadi tanah dipinggir jalan, yang menjadi sasaran empuk para iblis?

Apakah ingin menjadi tanah berbatu-batu yang tidak mampu mempertahankan pertumbuhan benih? Atau, tanah bersemak yang penuh dengan kekhawatiran menumbuhkan benih?

Ataukah menjadi tanah subur, yang mampu menghasilkan buah?

Pasti semua akan memilih untuk menjadi tanah yang subur, karena manusia tidak pernah terlepas dari sifat alamiahnya, yaitu “mau yang baik”.

Cukupkah kita hanya berperan sebagai tanah yang baik? Kiranya tidak! Kita pun harus berperan sebagai “penabur” benih yang baik. Kita juga mempunyai tanggungjawab untuk bersikap aktif dalam pewartaan firman Allah.

Dengan bantuan rahmat Tuhan, kita perlu menjadi penabur untuk diri sendiri, untuk keluarga, dan juga untuk masyarakat. Bapak berperan sebagai penabur untuk untuk isteri dan anak-anaknya, isteri berperan sebagai tanah yang subur untuk manghasilkan buah kasih di tengah keluarga dan  anak-anak sebagai benih yang unggul perlu dirawat oleh orangtua, agar tumbuh dan menghasilkan buah. Ataupun sebaliknya sesuai dengan peran yang mau digeluti.

Dalam mengambil peran entah sebagai penabur maupun sebagai tanah yang subur bagi keluarga dan lingkungan hidup kita, tidak harus dengan hal-hal yang ekstrim atau yang besar-besaran. Kita dapat mengambil peran tersebut dengan melakukan hal yang sederhana namun memiliki nilai iman, seperti selalu berdoa bersama keluarga, membaca kitab suci dan merenungkannya serta mengaktualisasikannya dalam hidup berkeluarga dan bermasyarakat, mengajari anak berdoa, agar anak-anak tidak kehilangan iman Katholik.

Semua itu dilakukan supaya dengan bergulirnya waktu, iman kita akan Yesus Kristus tidak goyah, kesatuan kita dengan Gereja Katolik tidak akan guncang dengan berbagai macam ancaman dari pihak lain. Maka Kita harus berperan sebagai penabur yang telaten, untuk memberi harapan pada sesama, benih yang baik untuk berperan serta dalam hidup bermasyarakat, juga menjadi tanah yang subur untuk selalu menumbuhkan firman Tuhan dalam diri, agar diri kita menjadi tempat nyaman untuk kediaman Tuhan. Amin  ( Ari Leto OFM)

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 + 17 =