RP. Alforinus Gregorius Pontus, OFM: WKRI Jangan Duduk Diam dalam Keheningan Gedung Gereja dan Ritus-Ritus Sakramen

 

DEPOK – Dalam Konfrensi Cabang V Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Dewan Pengurus Cabang Santo Paulus Depok yang diselenggarakan  pada Sabtu, 25 Agustus 2018, Paula Soedira akhirnya terpilih kembali sebagai ketua, Lusia Mugiyati sebagai wakil ketua.

Sidang pleno Konfrecab WKRI yang mengangkat tema “Peran Wanita Katolik Republik Indonesia Peduli Membangun Persatuan dalam Kebhinekaan sebagai bagian dari Pertobatan Kristiani” di lantai tiga aula gedung Santo Yohanes Paulus II, Paroki Santo Paulus Depok, dihadiri ratusan ibu-ibu bernuansa biru khas Wanita Katolik.

Hadir kesempatan itu diantaranya Ketua Presidium DPD Bogor, MF. Nining B, Penasihat Rohani WKRI, RP. Alforinus Gregorius Pontus, OFM, Ketua DPC Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) Kota Depok, Darius Leka, Politisi PSI, Adi Luviantoro dan para undangan lainnya.

Patricia Dewi Soedira, Ketua Panitia dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas kerjasama dari semua pihak dalam mendukung suksesnya acara Konfrecab WKRI Santo Paulus Depok. Lebih lanjut ajaknya agar WKRI untuk penduli dan responsive dengan situasi saat ini, menjelang pesta demokrasi tahun 2019.

“Wanita Katolik khususnya dari wilayah kerja cabang Santo Paulus Depok untuk paham dan peduli dengan keadaan yang terjadi di tahun politik 2019 yaitu dengan memberikan contoh kasih yang baik kepada anak-cucu untuk bertanggungjawab 100% Katolik dan 100% Indonesia dalam hal menjaga kelestarian kebhinekaan melalui sikap saling menghormati satu dengan yang lainnya”, ucap Patricia.

Hal yang sama juga disampaikan Ketua Wanita Katolik Republik Indonesia, Paula Soedira bahwa sebagai ibu dari anak-anak, menjelang pesta demokrasi 2019 diharapkan dapat memberikan pendidikan politik yang baik kepada pemilih pemula agar bisa berpartisipasi dalam pemilu.

Selain itu harap Paula, dalam perbedaan janganlah dijadikan sebagai suatu pertentangan atau lawan melainkan harus menumbuhkan kasih sesuai dengan ajaran iman Katolik.

“Kita harus memiliki rasa peduli dan menghormati orang lain sebagai hal yang penting. Tidak menimbulkan pertentangan atau lawan melainkan tumbuhkan kasih sesuai dengan ajaran Katolik dengan memperkenalkan hal-hal baik kepada generasi muda sebagai penerus bangsa dan negara Indonesia”, ujar Paula.

Sementara RP. Alforinus Gregorius Pontus, OFM sangat mengapresiasi terselenggaranya Konfrecab WKRI yang mengangkat tema “Peran Wanita Katolik Republik Indonesia Peduli Membangun Persatuan dalam Kebhinekaan sebagai bagian dari Pertobatan Kristiani”.

Pater Goris beralasan bahwa Wanita Katolik Republik Indonesia telah peduli dan respon dengan situasi saat ini dimana dalam empat tahun terakhir situasi politik di Indonesia dan dunia  cukup bergejolak. Ancaman intoleransi makin kasat mata dengan menggunakan agama untuk melakukan intimidasi yang menunjukan arogansi mayoritas.

“Menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah menunjukan rendahnya penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia. Hal ini apabila terus dibiarkan akan menjadi ancaman terhadap persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia”, ucap Pater Goris geram.

Oleh karenanya pesan Pater Goris dalam situasi Indonesia dan dunia seperti ini sebagai anggota Wanita Katolik yang diberi tambahan Republik Indonesia, tidak hanya duduk diam dalam keheningan gedung gereja dan ritus-ritus sakramen tetapi berkewajiban dan dipanggil untuk keluar dari dirinya sendiri untuk bekerjasama dengan kelompok-kelompok lain tanpa kehilangan indentitasnya sebagai orang Katolik untuk menyuarakan keadilan, persatuan dalam kehidupan berbangsa yang lebih baik dan sejahtera. (Darius-Koordinator Kerasulan Awam (Kerawam) Santo Paulus Depok)

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three × 2 =