Renungan Pesta Keluarga Kudus, Yesus, Maria, Yusuf

Jangan Takut, Hari ini Telah Lahir Juru Selamat

 

Natal tahun ini jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Gua atau kandang dan pohon natal dibuat dengan kondisi pandemi. Patung-patung drama natal dihias dengan gambaran protokol kesehatan yang ketat. Bapa Yusuf, Mama Maria, bayi Yesus, para gembala, tiga raja, bahkan para malaikat diberi masker dan face shield. Ada malaikat yang bertugas di depan gua natal, sigap dengan thermogun di tangan. Dikisahkan bahwa tiga raja dari Timur, sebelum berjumpa dengan bayi Yesus, harus menjalani karantina dulu selama 14 hari. Lagu “Hai mari berhimpun” pun ditiadakan karena bisa dianggap sebagai ajakan yang mengakibatkan kerumunan.

Natal di tengah pandemi

Ya, saat ini kita mengalami perayaan Natal dalam segala keterbatasan. COVID-19 terus menyebar seperti api di hutan yang gersang, tanpa diskriminasi. Dampaknya dirasakan oleh semua pihak. Ia telah merobek tatanan sosial, menyebabkan pengangguran besar-besaran dan bahkan kelaparan, merusak hubungan kita satu sama lain, mengungkapkan dan memperburuk ketidaksetaraan, meningkatkan kekacauan dan perbedaan pendapat, dan bahkan mengancam institusi pemerintahan yang baik.

Keluarga, teman, saudara, pendek kata, kita semua telah merasakan dampak psikologis dan emosional yang muncul sebagai akibat dari menjaga jarak sosial, mengenakan masker pelindung, dan menahan diri untuk tidak mengungkapkan bentuk kasih sayang secara fisik, merampas sesuatu yang sangat vital dan perlu bagi kehidupan manusia. Orang-orang semakin dibawa pada kemiskinan kronis. Korban jiwa terus berjatuhan. Ada peningkatan rasa takut, ketidakpastian, ketidakberdayaan, dan keputusasaan.

Perayaan Natal di gereja dan keluarga tahun ini pun dilaksanakan dengan menjaga jarak fisik dan pembatasan lain yang ditimbulkan oleh kepedulian kita untuk melindungi satu sama lain dari virus Corona. Bahkan di beberapa tempat, misa offline ditiadakan dan kita kembali harus misa online. Kita merayakan misa natal tanpa ikut gegap gempita dan sorak sorai bersama menyanyikan kidung-kidung natal. Kita merayakan natal di rumah, di kontrakan, di kos, atau mungkin di tempat kerja kita masing-masing. Kita sungguh mengalami “sunyi senyap” sebagaimana ada dalam lagu Malam Kudus.

Fajar Pengharapan

Dalam keheningan dan kesunyian natal kali ini, coba kita renungkan kembali kelahiran Yesus: “Ia melahirkan seorang anak laki-laki, dibungkusnya anak itu dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan” (Luk 2:7).

Juruselamat kita tidak datang dengan perlengkapan senjata bukan pula dalam segala kemewahan dan jaminan keamanan. Ia lahir di kandang, tempat yang kotor, yang kiranya juga beraroma tak sedap dari kotoran hewan. Ia dibaringkan di palungan, tempat makan hewan yang mungkin juga banyak virus, kuman, bakteri yang bisa menjangkiti Yesus, bayi yang baru lahir. Namun, justru kekuatan Juruselamat ada dalam kerentanan-Nya. Sekarang dan di kayu salib, kerentanan-Nyalah yang akan menunjukkan kepada kita bagaimana hidup, mencintai dan diselamatkan.

Pada Natal yang sunyi ini, yang tidak terlihat seperti masa-masa yang lalu, biarkan Anak di palungan membimbing kaki kita melewati bayangan kematian, ketakutan, kekhawatiran akibat pandemi menuju jalan damai. Kelahiran Yesus adalah kelahiran kemungkinan baru, hidup baru yang menang atas kematian dan keputusasaan.

Paus Fransiskus baru-baru ini menegaskan bahwa, dalam kerentanan manusiawi dan harapan ilahi kita, kita adalah Fratelli Tutti, semua adalah saudara dan saudari. Pada hari Natal, Tuhan masuk ke dalam setiap situasi kita sebagai salah satu dari kita, bukan untuk berkubang dalam penderitaan kita tetapi untuk menjanjikan kepada kita sesuatu yang lebih baik: kehidupan kekal, Natal yang berlangsung selamanya.

Apa pun tantangan Anda saat ini, Natal berkata kepada Anda: ada harapan, ada kegembiraan yang akan datang, Anda dicintai tanpa batas.

Tuhan memberkati Anda semua, Pace e Bene!

 

RP. Oki Dwihatmanto, OFM

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × two =