Renungan Minggu Prapaskah III

PERATURAN MEMBANTU MANUSIA DALAM BERKOMUNIKASI DENGAN ALLAH

Para saudara/i yang terkasih dalam Tuhan

Dalam kehidupan ini kita senantiasa membutuhkan hukum/peraturan. Mengapa? Karenan/hukum peraturan mempunyai misi untuk menciptakan ketertiban, keselamatan, kenyamanan, keamanan, keadilan dan kesejahteraan semua orang. Hukum/peraturan bertujuan menjamin kepentingan umum/semua orang, bukan hanya kepentingan pribadi atau kelompok atau golongan tertentu. Karena itu setiap orang diminta untuk mematuhi dan menjalankan hukum/peraturan. Bisa dibayangkan dampaknya apabila dalam kehidupan bersama tidak mempunyai hukum/peraturan sebagai pegangan. Pelanggaran akan terjadi dimana-mana, orang bisa bertindak sesuka hati dan sewenang-wenang, orang bisa egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri dan kurang atau tidak memperhatikan kepentingan bersama atau orang lain. Kehidupan bersama yang harmonis dan saling memperhatikan tidak akan tercipta, orang akan selalu dihantui oleh perasaan takut dan cemas. Maka, hukum atau peraturan amat dibutuhkan agar kehidupan bersama yang lebih baik dapat diwujudkan dan hubungan antara sesama manusia bisa dijamin ketenteraman, kedamaian, kesatuan dan kebersamaannya.

Peraturan itu tidak hanya perlu untuk membangun relasi yang baik dengan sesama manusia tetapi juga membantu manusia dalam membangun kehidupan yang bahagia dengan Allah yang dimaninya. Maka, peraturan dibuat untuk menjamin relasi manusia/alam ciptaan dengan Allah. Karena itulah dalam bacaan pertama yang diambil dari kitab Keluaran dikisahkan bagaimana Allah memberikan sepuluh perintah-Nya kepada umat Israel agar mereka dapat menghayati kehidupan mereka sesuai dengan kehendak Allah. Perlu dingat bahwa Allah memberikan sepuluh perintah itu untuk mewanti-wanti umat Israel supaya mereka tidak memahami kebebasan sesuka hati. Bahwa setelah Allah membebaskan mereka dari perhambaan di Mesir mereka menjadi orang-orang merdeka. Tetapi kemerdekaan itu jangan lalu ditafsirkan secara keliru. Seolah-olah karena kemerdekaan itu mereka dapat bertindak seenaknya, menurut selera mereka saja. Sebagai bangsa pilihan yang telah mengikat diri melalui perjanjian dengan Allah, mereka hendaknya selalu mendengarkan Allah dan para nabi yang senantiasa berjalan bersama mereka menuju tanah terjanji, yaitu: Kanaan.

Kesepuluh perintah Allah itu dapat diringkas menjadi dua bagian utama, yaitu : perintah yang berkaitan dengan Allah dan perintah yang berkaitan dengan sesama. Tiga perintah yang pertama berbicara  tentang relasi manusia dengan Allah. Bahwa umat Israel tidak boleh terpikat oleh dewa dewi yang ada di sekitar/negara-negara tetangga. Umat Israel dilarang untuk menyembah dewa/dewi asing. Umat Israel dilarang untuk menduakan Allah. Artinya mereka tidak boleh menyembah Allah sekaligus menyembah dewa/dewi asing. Umat Israel hanya diminta untuk membangun relasi dengan Allah. Allah dicintai melampaui siapapun dan apapun yang ada di atas bumi ini. Umat Israel diminta untuk mengormati Allah. Mengapa? Sebab Allahlah yang telah membantu mereka sehingga mereka dikeluarkan dari perbudakan di Mesir. Umat Israel juga diminta untuk menguduskan hari Tuhan. Hari Tuhan hendaknya diperlakukan secara istimewa karena itu umat Israel tidak boleh melakukan pekerjaan yang dilarang pada hari itu. Umat Israel hendaknya beristirahat pada hari Sabat/hari Tuhan.

Ketujuh perintah berikutnya berisi tentang hubungan di antara sesama. Orangtua hendaknya diberi perhatian yang sepantasnya. Jangan menyia-nyiakan mereka terutama di usia mereka yang tidak muda lagi. Anak-anak mempunyai tanggungjawab untuk memelihara dan memenuhi keperluan mereka, supaya mereka hidup secara pantas dan layak. Perintah kelima sampai dengan kesepuluh berisi tentang moralitas umum dalam kehidupan bersama/bermasyarakat dan dalam kaitannya dengan kehidupan keluarga. Moralitas perkawinan amat ditekankan dalam perintah keenam dan kesembilan. Perhatian yang memadai pada kedua perintah itu memungkinkan terciptanya keluarga yang bahagia dan harmonis, sejahtera dan memungkinkan keluarga-keluarga bebas dari perselingkuhan, gosip dan penyelewengan.

Para saudara/i yang terkasih

Bacaan Injil menyoroti tindakan Yesus di Bait Allah kepada orang-orang Yahudi yang menggunakan Bait Allah untuk berdagang. Orang-orang itu tidak melihat Bait Allah sebagai tempat yang suci. Tempat dimana manusia dapat berjumpa dan bercakap-cakap/berdialog Allah dan Allah bercakap-cakap/berdialog dengan manusia. Mereka tidak menempatkan Bait Allah sebagai tempat utama yang hanya digunakan untuk membangun relasi yang pantas dan berkenan kepada Allah. Karena itu Yesus mengembalikan peran Bait Allah yang sesungguhnya, yaitu: sebagai rumah doa, tempat orang untuk berkomunikasi dengan Allah baik sebagai pribadi maupun bersama. Bait Allah janganlah dipergunakan untuk tujuan-tujuan ekonomis. Bait Allah tidak boleh dimanfaatkan sebagai tempat bertransaksi. Maka, Yesus bertindak tegas dengan menjungkirbalikkan dan menghamburkan uang dan barang dagangan orang-orang yang bertransaksi. Peristiwa penyucian Bait Allah yang dilakukan oleh Yesus itu terjadi di akhir masa pelayanan-Nya dan hal itu menyebabkan para pemimpin Yahudi semakin berusaha untuk menyingkirkan atau melenyapkan Yesus.                  

Dengan bercermin kepada tindakan Yesus yang mengembalikan peran Bait Allah sebagai tempat yang suci, tempat setiap orang dapat berkomunikasi dengan Allah, semoga kita mampu untuk menjadikan Bait Allah atau Gereja kita sebagai tempat yang suci dan tempat untuk berdoa. Karena itu kita hendaknya selalu menjaga keheningan dan kebersihannya ketika kita berada di dalam rumah Tuhan.  Di samping itu hukum atau peraturan/perintah sebagaimana disinggung dalam bacaan pertama membantu kita untuk menempatkan relasi kita dengan sesama dan dengan Allah dapat dipadukan secara pantas dan dengan selayaknya. Selamat berjuang, Tuhan memberkati.

RP. Bertolomeus Jandu, OFM 

 

 

 

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two × 4 =