Renungan Pesta Pembaptisan Tuhan

Pembaptisan Tuhan

Yesus diwisuda

“Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepadamulah Aku berkenan”
(Mrk 1:11)

Hari ini adalah hari Minggu Penutup masa Natal. Besok kita mulai dengan Masa Biasa Tahun Liturgi B. Pada hari Minggu Penutup Masa Natal ini Gereja Katolik, kita, merayakan pesta Pembaptisan Tuhan Yesus, sebagai pembuka aktivitas Yesus Kristus sebagai Mesias yang berkeliling mewartakan kabar baik kepada umat manusia pada umumnya dan orang-orang Yahudi di Palestina pada khususnya.

Pembaptisan Yesus di sungai Yordan oleh Yohanes Pemandi bagaikan upacara Wisuda seorang mahasiswa. Sebagaimana seorang mahasiswa dengan wisudanya diakui dengan resmi bahwa masa studinya sudah paripurna, dan sekarang sudah siap untuk diberi tanggungjawab melaksanakan tugas dalam bidang pilihannya, demikian Yesus dengan permandian ini dinyatakan bahwa persiapannya di dalam dan bersama keluarganya di Nazaret selesai sudah dan dinyatakan oleh Bapa di surga sendiri siapakah Dia itu. Bapa di surga berkata dan didengarkan oleh banyak orang: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, Kepadamulah aku berkenan” (Mrk 1:11; Mat 3:17; Luk 3:22b).

Setelah pembaptisan ini mulailah Yesus menjalankan tugas-Nya sebagai Mesias dan seluruh perjalanan hidup Yesus itu kita rayakan selama Masa Biasa yang dimulai besok Hari Senin dalam Minggu pertama.

Dengan demikian pembaptisan Yesus ini tidak ada sangkut pautnya dengan penyucian Yesus dari dosa asal, karena Yesus yang adalah Allah, yang memang tidak berdosa, kendati menjadi manusia sepenuhnya, kecuali dalam hal dosa.

Dengan pembaptisan-Nya ini, maka lengkaplah dia sebagai orang Yahudi yang “bertobat”, disucikan oleh Yohanes. Orang-orang Yahudi sezamannya, yang belum mengenal siapakah Dia itu, tanpa canggung-canggung menerima Dirinya sebagai orang yang layak mewartakan sesuatu yang lebih dari hal-hal yang biasa-biasa.

Saudara-saudariku yang terkasih,

Sebagaimana orang yang baru diwisuda harus berjerih payah mencari pekerjaan yang sesuai, demikian juga Yesus yang telah “diwisuda” dengan pembaptisan ini, lalu diantar oleh Roh memasuki padang gurun untuk dicobai oleh iblis ataupun roh jahat. Setelah itu barulah Yesus secara full mulai mewartakan kabar gembira, Injil, kepada orang banyak.

Pewartaan Yesus sebagai Mesias ini tetap dikumandangkan kepada umat manusia, termasuk kita, saya, sepanjang sejarah umat manusia. Pertanyaannya ialah: bagaimana saya menanggapinya. Apakah saya dengan hati terbuka siap mendengarkan-Nya dan melaksanakannya?

Ternyata tidak semua orang yang telah dengan mata kepala sendiri menyakasikan apa yang diperbuat dan diwartakan oleh Yesus, mampu membuka hati untuk beriman pada-Nya, sehingga Tuhan perlu mengulang kembali penegasan wisuda ini khusus kepada Petrus, Yakobus dan Yohanes di puncak gunung Tabor waktu Yesus menunjukkan kemuliaan-Nya dan Bapa di surga tidak hanya berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan”, tapi masih ditambahkan dengan perintah: “dengarkanlah Dia.” (Mat 17:5)

Saudara dan saudariku yang terkasih,

Marilah kita membuka hati dan budi kita untuk mendengarkan pewartaan Tuhan itu, yang disampaikan kepada kita setiap hari dalam peristiwa sehari-hari.

Tuhan memberkati.

 

RP. Alfons S. Suhardi, OFM

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two − one =