Renungan Minggu Paskah V

Berakar pada pokok anggur yang benar

Ceritera Indian:

Seorang anak menempatkan sebutir telur rajawali pada sarang ayam hutan. Menetas dan menjadi besar bersama dengan anak-anak ayam hutan itu. Tidak pelak lagi, dia pun hidup dan berperilaku persis seperti ayam hutan. Setelah berumur, dan tua: terheran-heranlah dia ketika melihat di langit terbang seekor burung besar sekali. “Itu rajawali, burung terbesar dan terhebat. Tidak seperti kita. Jangan pernah berpikir untuk jadi seperti dia!” kata ayam hutan yang lain. Akhirnya dia tetap menganggap diri sebagai ayam hutan. Dan mati sebagai ayam hutan.

Saudara-saudariku yang terkasih.

Proses identifikasi diri perlu waktu dan sangat dipengaruhi bahkan ditentukan oleh lingkungan di mana kita hidup: orang tua, keluarga, teman dan masyarakat, suku bangsa.

Padahal sangatlah penting jawaban atas pertanyaan: “siapakah saya ini?” Hal ini menentukan nyaris seluruh kehidupanku: tempatku dalam masyarakat, kemampuan dasarku: sejauh mana saya bisa, sejauh mana martabat saya, masa depan saya, cita-cita saya, bahkan gambaran hidup saya sesudah hidup di dunia fana ini. Inilah identitas diriku.

Identitas diri menelorkan kebanggaan! Di situlah saya hidup dan berkembang.

Saudara-saudariku yang terkasih,

YESUS bersabda: “Kamu adalah carang-carang, Aku pokok anggur yang benar, sejati.” Itulah identitasmu! Karena itu: “Tempellah saya selalu, bersatu dengan saya! Maka engkau akan subur dan berbuah.”

Jadi, saudara-saudariku yang terkasih, Siapakah saya ini?

Saya adalah orang Katolik yang berkat sakramen baptis dipersatukan dengan Yesus Kristus bagaikan carang yang menempel erat selalu pada pokok anggur yang benar: yakni Yesus!

JANGAN menempel pada pokok anggur yang tidak benar, palsu; eperti anak rajawali itu menempel pada anak-anak ayam hutan. Tempellah pada Yesus Kristus: selalu dan senantiasa,  tidak “kowar-kawir” setengah lepas, tapi menempel kokoh erat bersatu, menyatukan diri pada pokok anggur itu.

Bangga! Tanpa gentar menepuk dada: “Saya adalah carang anggur yang menempel, menyatukan diriku pada Yesus Kristus. Sehingga dapat tumbuh dan berkembang dan berbuah lebat, manis, bermanfaat bagi diri sendiri dan sesama!

Jadilah demikian! Tanpa ragu-ragu!

Selamat menempel erat pada Yesus Kristus.

 

RP. Alfons S. Suhardi, OFM.

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four × 3 =