Renungan Minggu Paskah IV

Bacaan I   : Kis 13 ; 14. 43-52
Bacaan II : Why 7:9. 14b-17
Injil           : Yoh 10:27-30

Gembala dan Domba yang Baik

Sebagai putera-putera Fransiskus yang pencinta alam semesta, termasuk segala binatang di dunia ini, bahkan menyebut mereka saudara dan saudari, tidak lah berlebihan kalau kami juga suka dengan binatang. Di biara kami, Novisiat Transitus, kami memelihara banyak binatang, antara lain kambing. Kambing-kambing di biara kami mempunyai nama-nama yang unik, bahkan ada juga yang namanya mirip-mirip dengan nama kita. Ada Natalia, Juliet, Sabu, Carol, Horas, dan Bandot.

Seperti biasa, setiap pagi, khususnya apabila hari cerah, tidak turun hujan, kami akan mengeluarkan saudara-saudari kambing ini dari kandangnya untuk kami ikatkan di padang rumput, sehingga mereka bisa merumput dan menghirup udara segar setelah semalaman berada di dalam kandang yang bau kambing. Waktu itu sudah seharian saudara-saudari kambing berada di luar kandang, terikat di padang rumput untuk merumput. Tiba-tiba hujan turun dengan lebat.

Para frater yang mendapat giliran tugas untuk mengeluarkan dan memasukkan saudara-saudari kambing ini dengan cepat dan sigap segera memasukkan kambing dan mengikatnya di kandang masing-masing. Namun apa yang terjadi, tak lama setelah hujan reda, ada salah satu frater yang pergi ke kandang untuk memperbaiki kandang kambing yang sudah mulai rusak, sangat terkejut karena salah satu kambing jantan yang paling tua dan paling besar telah mati terkapar tak bernafas.

Selidik punya selidik ternyata frater yang memasukkan kambing dan mengikatnya di kandang tidak mengikatnya dengan baik, sehingga Saudara Bandot mati tercekik, untung masih belum terlambat, daging kambing tersebut masih bisa dimakan karena rupanya Saudara Bandot belum lama mati tercekik, dan demikian juga dengan kambing-kambing yang lain. Hampir semua kambing kiranya akan mati karena frater yang mengikat kambing tersebut mengikatnya dengan salah.

Reaksi spontan sang frater atas peristiwa ini adalah merasa bersalah dan beralasan ia tidak sengaja “membunuh” kambing tersebut. Ketidak sengajaan ini tentu saja benar, namun ada unsur lain selain ketidak sengajaan, yaitu kurang hati-hati, teledor, kurang peka, dan “kebodohan” karena tidak memikirkan dengan baik supaya kambing-kambing itu tidak mati tercekik.

Peristiwa tersebut di atas tentu bukan merupakan contoh yang baik. Ini menjadi contoh seorang “gembala” yang tidak mengenal kambingnya dengan baik, kurang perhatian, dan kurang peka. Berbeda dengan Tuhan Yesus. Yesus adalah gembala yang baik. Sebagaimana dalam bacaan Injil (Yoh 10:27-30), dikatakan bahwa Yesus mengenal domba-dombanya, memberikan yang terbaik bagi domba-dombanya, dan tidak akan membiarkan domba-dombanya binasa. Demikian juga dalam bacaan kedua (Why 7:9. 14b-17), Sang Anak Domba itu (yaitu Yesus) akan menggembalakan kawanan domba gembalaannya ke mata air kehidupan.

Kalau Yesus sebagai gembala yang baik yang mengenal kawanan domba gembalaannya, serta akan menuntunnya ke mata air kehidupan. Bagaimana dengan kita? Apakah kita mau mendengarkan suaranya dan mengikuti tuntunannya supaya kita dapat dibimbingnya ke mata air kehidupan, sehingga kita akan sampai kepada kehidupan yang kekal? Semoga di masa Paskah ini kita semakin mampu membuka hati kita untuk mendengar suaranya, mengikuti tuntunannya, dan sebagaimana dalam bacaan pertama (Kis 13:14.43-52) menjadi pewarta kabar gembira Kebangkitan Kristus bagi segala makhluk!

RP. Yustinus Damai Wasono, OFM

Berita dan Artikel Lainnya