Renungan Minggu Paskah IV, Minggu Panggilan

 

Yohanes 10:11-18

Mendengar, Mengenali dan Mengikuti Panggilan Sang Gembala Baik

Prinsip utama hidup Yesus sebagai gembala sejati ialah, memberikan nyawa  bagi domba-dombanya. Prinsip ini dijelasakan secara agak dramatis melalui gambaran tentang gembala-upahan yang bukan pemilik domba-domba. Dia muncul ditengah domba-domba demi uang semata. Seandainya dia tidak membutuhkan uang, ia barangkali tidak pernah akan mau repot sebagai gembala. Justru karena dalam hatinya tak ada cinta kepada domba-domba, maka gembala-upahan tidak dapat diandalkan pula. Khususnya disaat ada bahaya. Begitu melihat “serigala datang”, ia “meninggalkan domba-domba”, lalu “lari”. Akibatnya? Serigala mulai bertindak leluasa: menerkam dan mencerai beraikan domba-domba.

Ketika gembala yang baik berusaha agar domba-domba tetap bersatu, di sisi lain ancaman serigala yang berniat menerkam, membunuh, memangsa dan mencerai-beraikan ada di sekeliling si gembala.

Yesus memang bicara tentang domba dan serigala, namun kedua jenis hewan ini jelaslah manusia. Domba melambangkan manusia lemah namun baik, sedangkan serigala melambangkan manusia kuat namun jahat. Tugas gembala yang paling utama adalah berjaga-jaga supaya tidak ada satu domba pun yang diterkam serigala dan supaya semua domba tetap bersatu. Sebab semakin tercerai berai, semakin domba-domba itu lemah.

Mari kita kembali pada kemanusiaan kita, dimana ada “sisi kuat” dan “sisi lemah” yang masing-masing dari kita tidak sama. Belajar dari simbolisasi “serigala” dan “domba” yang digunakan oleh Yesus, kita diingatkan bahwa apabila kita tidak mampu mengendalikan “sisi kuat” dan “sisi lemah” kemanusiaan kita, maka dua hal itu akan sama-sama membahayakan diri kita dan juga sesama. Hukum rimba yang bukan hukum kasih, dimana “yang kuat menjadi semakin kuat dan yang lemah menjadi semakin lemah” akan merajalela dan membuat kita tercerai berai.

Yesus bersabda, “Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal suara-Ku”, kita diajak untuk membuka telinga, hati dan budi kita seluas-luasnya agar suara-Nya dan panggilan-Nya untuk kita masing-masing mampu kita dengar, kita kenali dan kita ikuti. Karena hanya dengan cara itu kita dimampukan untuk, Pertama, mengendalikan “sisi kuat” dan “sisi lemah kemanusiaan kita. Kedua, menerima “sisi lemah” yang ada dalam diri sesama dan mengapresiasi “sisi kuat”nya dengan memberikan kesempatan untuk berkembang serta membuka peluang untuk berbagi, melayani dan saling melengkapi. Dan ketiga, tetap bersatu dan berada bersama Yesus Sang Gembala Baik.

Tuhan Yesus memberkati, Bunda Maria merestui dan Santo Yosef mendoakan kita sekalian.

 

RP. Agustinus Anton Widarto, OFM

 

 

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

20 − 11 =