Renungan Minggu Palma

Pekan Suci adalah Pekan Cinta Kasih

 

Saudara-saudariku yang  terkasih,

Hari ini kita merayakan Hari Minggu Palma, hari pertama dalam Pekan Suci; Pekan yang dipersembahkan khusus untuk memperingati dan merayakan Sengsara, Wafat dan Kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus.

Salah satu ciri yang mencolok dalam perayaan-perayaan liturgis ini adalah bahwa dalam perayaan Ekaristi dan Upacara selama pekan ini dibacakan kisah Sengsara Tuhan kita Yesus Kristus. Yakni pada Hari Minggu Palma dan Hari Jumat Agung.

Saya kira alasannya cukup jelas mengapa dibacakan Kisah Sengsara itu. Malahan tidak sekedar dibacakan, tetapi selalu diajak untuk menyajikannya semeriah mungkin, yakni dengan dinyanyikan dan kalau bisa umat diajak menjawab dengan bernyanyi seruan-seruan yang dilontarkan oleh orang banyak itu. Koornya pun menyanyikannya dengan polyphonis, atau bernada banyak, empat suara atau lebih.

Tetapi karena pandemi virus Corona, maka tahun ini – seperti tahun yang lalu – segalanya disederhanakan: hanya dibaca saja.

Saudara-saudariku yang terkasih,

Dalam membaca, mendengarkan dan menghayati kisah sengsara Tuhan kita Yesus Kristus itu, beberapa hal perlu kita simak:

  1. Kisah Sengsara bukanlah laporan pandangan mata, melainkan sebuah narasi kesaksian orang-orang yang paham serta percaya bahwa sengsara dan kematian Yesus terjadi dalam rangka pengabdian-Nya untuk membangun kembali hubungan baik antara manusia dan Allah. Betapa merosotnya manusia yang menolak kehadiran Yang Ilahi dalam dunia dan dalam dirinya sendiri.
  2. Bukan untuk memicu rasa haru, menangis; sengsara Yesus Kristus itu memang 100% sungguh sengsara, bukan sandiwara, bukan pura-pura, tapi sungguh diludahi, dimahkotai duri, dilecuti dan tali berkawat runcing, dipaku pada kayu salib, digantung di salib selama tiga jam dan seterusnya. Film Mell Gibson “The Passion of the Christ” memang bagus sekali, sangat gampang menimbulkan rasa iba, sedih dan membongkar bendunga air mata hingga berhamburan. Tapi maksud Kisah Sengsara bukanlah drama yang sekedar memicu sedih tan tangis seperti itu. Boleh saja menangis, tidak dilarang, tapi janganlah berhenti disitu.
  3. Melainkan suatu kesaksian iman para saksi mata untuk membuat kita semakin menyadari sampai di mana kekuatan-kekuatan jahat dapat memerosotkan kemanusiaan; untuk menyadarkan manusia, kita, betapa kita bisa terperosok ke dalam jurang kedosaan yang paling ngarai; untuk mempersaksikan bahwa Yang Ilahi tidak bakal kalah atau meninggalkan manusia sendirian; untuk menyadarkan kita, manusia, betapa Tuhan tetap setia pada janji-nya: mencintai dan menyelamatkan umat manusia yang diciptakan-Nya itu.
  4. Suatu kesaksian betapa Tuhan karena cinta-Nya, mau menjemput manusia yang keras kepala, degil berkubang dalam dosa, supaya sadar akan asal usulnya yang ilahi, dan mau menangkap tangan Tuhan yang diulurkan kepadanya untuk menyelamatkannya.

Saudara saudariku yang terkasih,

Inilah kabar baik bagi semua orang, yang kita rayakan selama pekan ini. Selamat merayakan Pekan Suci, pekan cinta kasih, pekan penebusan umat manusia berkat Cinta Tuhan nan tak terbatas melimpahi kita semua yang mau membuka diri menyambutnya.

 

RP. Alfons S. Suhardi, OFM

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

9 + 10 =