Renungan Minggu, Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam

Yesus Kristus Raja Adil

 

Prologue. Setiap tahun Gereja merayakan Hari Raya Kristus Raja Semesta alam. Ada dua dimensi yang tampak di dalam perayaan ini, yakni dimensi kosmik dan skatologis. Dimensi kosmik hendak menekankan bahwa Kristus tidak hanya menjadi Raja bagi manusia tetapi bagi segenap ciptaan atau semesta alam. Sementara dimensi skatologis menekankan pada Kristus yang akan datang dalam kemuliaanya dan akan mengadili manusia dengan kasih.

Dalam renungan ini, saya mau mengajak kita untuk merefleksikan secara mendalam satu hal yang amat penting yaitu,Kristus sebagai raja adil. Kristus adalah Raja sekaligus sebagai hakim yang mengadili manusia dengan penuh kasih pada akhir zaman. Yesus sebagai raja dan hakim yang adil itu ditampakkan dalam bacaan Mat. 25:31-46. Matius menunjukkan kepada kita bagaimana kelak Yesus Kristus akan menentukan orang yang duduk di sisi kanan dan yang di sisi kiri yang diumpamakan dengan domba dan kambing. Pemisahan itu bukan terjadi semata-mata karena kuasa Yesus Kristus, tetapi berdasarkan pada tindakan kasih dan kebaikan manusia.

Latar belakang Historis

                 Perayaan Kristus raja semesta alam ditetapkan oleh Paus Pius XI, pada 1925. Pada waktu itu perayaan ini dilaksanakan pada setiap hari Minggu  terakhir bulan Oktober, menjelang pesta segala orang kudus. Maksud utama dari Perayaan ini mempunyai makna spiritual-pedaggogi. Hal ini terungkap secara jalas dalam ensiklik “Quos Primas” oleh Paus Pius XI. Tujuannya untuk menentang paham ateisme dan sekularisme yang berkembang pada waktu itu. Ensiklik ini menekankan bahwa Kristus melampaui segala kekuatan dan kuasa manapun di dunia ini.

                  Dalam perkembangannya pemaknaan dan penekanan pada hari raya ini berubah. Sejak tahun 1970 perayaan Kristus Raja semesta alam dimaknai dalam corak kosmis dan eskatologis. Pemaknaan ini juga membawa perubahan pada penetapan tanggal perayaan dalam penanggalan liturgi. Sebagaimana kita ketahui sekarang perayaan itu dilaksanakan pada minggu biasa XXXIII/XXXIV menjelang minggu pertama masa Adven. Secara jelas pula bahwa perayaan ini sebagai penutup seluruh rangkaian tahun liturgi Gereja. Di sini kita dapat memahami bahwa Kristus adalah alfa dan omenga atau Kristus adalah awal dan akhir dari segala sesuatu.

              Setiap tahun liturgi mempunyai  makna dan penekanan yang berbeda pada Kristus sebagai Raja Semesta alam. Pertama, bacaan Injil Tahun A diambil dari Mat 25:31-46 menekankan pada kabar kedatangan Putra Manusia dalam kemuliaan untuk mengadili manusia dengan penuh kasih pada akhir zaman. Dalam bacaan ini terlihat begitu jela dimensi kosmis-eskatologis. Kedua, bacaan Injil Tahun B diambil dari Yoh 18:33b-37 tentang Kristus di hadapan Pilatus. Yesus menjawab pertanyaan Pilatus dengan mengatakan “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini.” Tampak dimensi pengalaman mistik umat beriman, di mana Yesus menekankan asal-usul kuasa-Nya. Ketiga, bacaan Injil Tahun C diambil dari Luk 22:35-43. Dalam bacaan ini ditekankan bahwa Kristus yang tersalib adalah Raja bangsa Yahudi. Di sini, kita dapat melihat dimesi penderitaan Kristus sampai wafat-Nya di kayu salib. Dalam peristiwa penderitaan itu ditampakkan sekaligus urapan imamat Sang Raja yang mengurbankan diri sebagai santapan keselamatan abadi. Pada tahun ini, kita diajak untuk merefleksikan secara mendalam akan Kristus sebagai raja yang adil dan penuh kasih. Untuk itu, perenungan kita akan lebih fokus pada Injil Matius 25:31-46.

Kristus Raja Adil dan Penuh Kasih

            Penginjil Matius menggambarkan kepada Kita bahwa Kristus adalah Raja semesta Alam. Ia adalah raja adil yang akan melakukan penghakiman berdasarkan pada tindakan kasih. Penginjil Matius menulis demikian, “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.” (Mat. 31). Dalam tahkta-Nyalah, Ia akan melakukan pemisahan terhadap orang fasik dan orang benar. Orang Fasik digambarkan sebagai kambing dan orang benar digambarkan sebagai domba. Penghakiman dan pemisahan itu bukan berdasarkan pada kekuasaan Sang Raja semata, akan tetapi berdasarkan pada tindakan kasih dan kebaikan dari manusia. Tindakan kasih itu dilakukan pada orang-orang yang menjadi milik Kristus. Mereka yang menjadi milik Kristus itu sungguh tampak dalam mereka yang menderita dan terpinggirkan atau seperti yang diakatakan oleh Yesus, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (ay. 40).

            Mereka yang dimaksudkan Yesus adalah orang-orang lapar, mereka yang haus, mereka yang tidak mempunyai tumpangan, mereka sakit, dan mereka yang ada dipenjara. Yesus menghendaki pelayanan yang sungguh pada mereka-mereka itu. Jadi pelayanan terhadap Kristus Raja Semesta Alam itu akan terwujud secara konkret ketika kita melayani orang-orang yang miskin dan terpinggirkan.

            Setiap hari kita jumpai begitu banyak saudara-saudari yang menderita, yang tidak mempunyai tumpangan, dan yang tidak mempunyai makanan. Pertanyaannya adalah apakah kita sudah tergerak hati untuk menolong mereka? Ataukah kita menaruh curiga dan prasangka atas mereka? Terkadang pransangka dan curiga kita itu membuat kita gagal dalam melayani mereka yang miskin dan terpinggirkan. Kristus sang raja itu menghendaki sebuah pelayanan yang tulus, sungguh-sungguh dan penuh kasih terhadap mereka yang miskin, kecil atau hina dan terpinggirkan itu, dengan itu kita melayani Kristus.  

Epilogue. Kristus Raja Semesta Alam adalah raja sejati dan kekal. Dia adalah alfa dan omega. Dia merajai dunia dan kerajaan-Nya kekal. Setiap kita mempunyai kesempatan untuk masuk ke dalam kerajaan-Nya. Syaratnya sangat sederhana, yaitu dengan melayani Sang Raja Alam Semesta itu dengan kasih dan kebaikan. Bagaimana melayaninya? Pelayanan dapat diwujudkan melalui tindakan kasih, yaitu mengunjungi mereka yang sakit, memberi makan kepada yang lapar, memberi minum kepada yang haus, memberi pakaian kepada yang telanjang, dan mengunjungi mereka yang di penjara dan lain-lain.

            Sebagai pengikut Kristus kita dituntut untuk rela berkorban dalam melayani mereka. Ingat, Kristus yang kita imani atau raja semesta alam itu adalah kasih. Kasih yang disalibkan, atau kasih yang berkorban dan menderita untuk keselamatan umatnya. Dalam terang itu, maka kita diundang untuk memberi diri, rela berkorban terhadap yang lain, terutama mereka yang kecil, hina, miskin dan terpinggirkan. Sekali lagi dengan melayani mereka, kita melayani Kristus Raja Semesta Alam.  Tindakan pelayanan yang penuh kasih dan kebaikan terhadap mereka akan membawa kita  masuk dalam kerajaan-Nya.      

 

RP. Marciano A. Soares, OFM

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

20 + 9 =