Renungan Minggu Hari Raya Tritunggal Mahakudus

TUHAN YANG MAHAKASIH SELALU MENYERTAI KITA

 

Hari ini adalah Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Ada baiknya kita ingat kembali serta merenungkan kenyataan yang berikut.

          Ketika Musa dipanggil, Tuhan menampakkan diri-Nya dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Hal itu terjadi di padang gurun dekat gunung Horeb. Musa mula-mula tidak mengetahui apa yang terjadi. Namun dia disuruh untuk melepaskan kasutnya. Dia mengetahui bahwa dia sedang berhadapan dengan Yang Mahatinggi sendiri. Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepadanya dengan berkata: ”Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub” (Kel 3: 1-6). Lalu Tuhan mengutus Musa  untuk mengantar orang Israel keluar dari Mesir. Namun dia tidak berani dan takut. Karena itu dia meminta tanda bukti dari Tuhan: Bila aku berkata kepada orang Israel: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu dan mereka bertanya: Siapa nama-Nya, apa yang harus kujawab?  Lalu Tuhan menjawab: “Aku adalah Aku; dan beginilah engkau katakan kepada mereka: Akulah Aku telah mengutus aku kepadamu” (Kel 3: 11-14) (KWI, Iman Katolik. Buku Informasi dan Referensi. Kanisius – Obor. Yogyakarta- Jakarta, 1996, 42-43).

          Tuhan tidak memperkenalkan diri-Nya sebagai Allah yang tersembunyi, tetapi sebagai Tuhan yang sudah mewahyukan diri-Nya kepada Abraham, Ishak dan Yakub. Melalui mereka Dia dikenal oleh orang-orang Israel. Kepada Musa Dia sudah mengatakan: “Aku menyertai engkau”. Dan pernyataan tersebut berarti bahwa Tuhan hadir pada Musa. Namun Dia tidak hanya hadir pada Musa saja. Dia juga hadir pada kita. Dalam Kitab  Wahyu: Aku, “Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang” (Why 1: 4.8).  Dengan pernyataan ini mau dikatakan bahwa Tuhan itu selalu beserta kita, selalu hadir dan tidak pernah meninggalkan kita.

          Selanjutnya, dalam perintah untuk mewartakan Injil Yesus Tuhan Yesus mendekati murid-muridNya dan menyampaikan pesan yang berikut kepada mereka. “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman (Mat 28: 16-20). Dengan ini juga ditunjukkan bahwa Tuhan selalu menyertai murid-murid-Nya, selalu hadir, tidak akan meninggalkan mereka. Namun demikian kiranya tidak bisa tidak dikatakan bahwa Dia juga selalu  beserta kita, selalu hadir dan tidak pernah meninggalkan kita.

          Akhirnya, manusia baru sungguh dipersatukan dengan Allah, bila Allah itu sampai ke dalam lubuk hatinya. Itu terjadi oleh Roh ‘yang menghidupkan’: “Tidak tahukah kamu ahwa kamu  adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1 Kor 3: 16; 6: 19). Karena Allah memberikan diri-Nya, maka karya keselamatan Allah  sekaligus juga merupakan pewahyuan hidup Allah itu sendiri. Atas dasar yang dibuat Allah terhadap manusia dapatlah (sedikit) dipahami bagaimana hidup Allah dalam diri-Nya sendiri tersebut. Namun hal yang pokok bukanlah itu. Hal yang pokok itu, sebaliknya, adalah bahwa manusia dianugerahi mengamabil bagian dalam hidup Allah itu sendiri, yakni dalam cinta Bapa dan Putera dan Roh Kudus ( KWI, op. cit., 323-324).

          Dari beberapa teks yang dikutip itu mau ditunjukkan sedikit betapa Tuhan itu sangat mencintai kita. Dia mencintai kita dengan cinta yang tiada duanya, tiada taranya. Dia bahkan membuat diri kita menjadi kenisah, tempat kediaman-Nya. Sadarkah dan bahkan yakinkah kita akan martabat kita yang sangat luhur itu? Sadarkah dan bahkan yakinkah kita akan tugas kita untuk menjaga kenisah, tempat kediaman-Nya agar tetap murni dan bersih ? Bila Tuhan begitu mencintai kita, bagi kita juga tidak ada pilihan lain selain membalas cinta-Nya dengan cinta yang dikaruniakan-Nya kepada kita. Selain itu juga tidak ada pilihan lain selain membalas cinta-Nya  dengan mencintai semua saja yang membawa dan mengemban gambar dan rupa-Nya.

RP. Alex Lanur, OFM

 

Berita dan Artikel Lainnya