Renungan Minggu Hari Raya Pentakosta

Roh yang Menghasilkan Buah

Di gereja-gereja terdapat karya-karya seni untuk membantu penghayatan iman umat. Kebanyakan berupa patung, lukisan atau kaca patri. Karya seni itu sebagian besar gambar Yesus, Maria, Yusuf, para rasul dan orang-orang kudus. Ada juga gambar beberapa tokoh Perjanjian Lama seperti Abraham dan Sara, atau Musa. Roh Kudus, yang perayaannya kita rayakan pada hari Pentakosta, tidak mudah untuk dilukiskan. Gambar tradisional yaitu burung merpati diambil dari kisah pembaptisan Yesus. Di sana diceritakan bahwa Roh Kudus seperti burung merpati turun ke atas Yesus (bdk. Mrk 1:10).

Ada dua gambar lain dari Roh Kudus dalam bacaan Kisah Para Rasul hari ini. Lukas mengatakan bahwa semua orang yang berkumpul di satu ruangan mendengar bunyi seperti tiupan angin keras dari langit; dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa tampak kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api. Sama seperti para penginjil tidak menggambarkan seekor merpati yang sebenarnya pada saat pembaptisan Yesus, Lukas tidak mengatakan bahwa angin dan api pada hari Pentakosta adalah fenomena yang nyata. Roh Kudus tidak mungkin untuk divisualisasikan, karena Roh tidak dapat dilihat. Walau begitu, Roh Kudus sangat nyata.

Banyak hal di alam semesta ini yang nyata meskipun tidak terlihat oleh mata telanjang. Apa yang kita lihat dengan mata kita hanyalah sebagian kecil dari dunia fisik kita. Roh Kudus adalah dunia spiritual, dan secara alami kita tidak dapat melihat-Nya dengan mata jasmani kita. Namun, ada cara-cara yang membantu untuk membayangkan Roh Kudus.

Santo Paulus menggunakan imaginasi alam ketika ia mengatakan bahwa Roh menghasilkan buah. Yang dimaksud adalah efek Roh yang terlihat pada kehidupan seseorang. Kita mungkin tidak dapat melihat Roh Kudus, tetapi kita dapat melihat efek Roh dalam hidup kita, sama seperti kita tidak dapat melihat angin tetapi dapat melihat efek angin pada manusia dan benda-benda lainnya. Paulus mengatakan bahwa di mana pun kita menemukan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, sikap lemah lembut dan penguasaan diri, Roh Kudus ada di situ (bdk. Gal 5:22-23). Roh Kudus menjadi terlihat di dalam dan melalui kualitas-kualitas dan kebajikan-kebajikan ini.

Orang yang secara penuh memiliki kualitas atau kebajikan itu adalah Yesus karena dia penuh dengan Roh Kudus, penuh dengan kehidupan Allah. Roh Kudus pada dasarnya adalah kehidupan Allah, dan kehidupan Allah itu adalah kehidupan kasih. Kehidupan ilahi itulah, kasih ilahi itulah, yang dicurahkan pada hari Pentakosta, mula-mula kepada para murid tetapi juga kepada kita semua yang terbuka untuk menerima karunia yang agung dan luar biasa ini.

Paulus mengungkapkannya secara sederhana dalam suratnya kepada jemaat di Roma, “Kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita melalui Roh Kudus yang telah diberikan kepada kita” (Rm 5:5). Roh, kasih Allah yang telah kita terima itulah yang menghasilkan buah-buah yang kaya dalam hidup kita sebagaimana disampaikan oleh Santo Paulus dalam Bacaan kedua hari ini. Roh Kudus terus bekerja dalam hidup kita, menjadikan kita semakin menyerupai Yesus. Ungkapan sehari-hari dalam kebaikan dan kemurahan, kesetiaan dan pengendalian diri, kesabaran dan kelemahlembutan, semuanya itu merupakan perwujudan Roh yang telah diberikan kepada kita oleh Allah. Kita dapat mengenali kehadiran Roh Kudus melalui peristiwa biasa dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang spiritual bukanlah sesuatu yang di luar duniawi. Bahkan, hal yang spiritual akan membawa pada kemanusiaan yang sejati.

Kemanusiaan yang sejati kita temukan pula dalam bacaan pertama hari ini. Pentakosta menghasilkan ikatan yang luar biasa dari orang-orang dari seluruh Kekaisaran Romawi. Mereka bersatu dalam mengagumi dan memuji keajaiban Tuhan. Terlepas dari perbedaan bahasa dan budaya, ada persekutuan yang nyata di antara mereka. Di mana persekutuan hati dan pikiran ada di antara orang-orang dengan latar belakang yang berbeda, Roh Kudus bekerja. Kesatuan dalam keanekaragaman adalah tanda Roh.

Semoga pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta ini membawa kita kepada kebenaran yang sejati dan memampukan kita untuk terus mengupayakan kesatuan dan persatuan, solidaritas dan belarasa, di tengah dunia yang penuh dengan kebencian, pertentangan, perselisihan dan perpecahan ini.

RP. Oki Dwihatmanto, OFM

Berita dan Artikel Lainnya