Renungan Minggu Biasa XXXII

BERJAGA MENANTIKAN KEDATANGAN TUHAN

Saudara/i yang terkasih dalam Tuhan

Beberapa kali Matius dalam Injilnya menggunakan perumpamaan untuk mengungkapkan maksudnya kepada para pendengar/pembaca. Dalam Injil yang dibacakan pada hari Minggu biasa XXXII tahun A ini, Matius melakukan hal yang sama. Kerajaan Allah itu diumpamakan seperti sepuluh orang gadis yang mempersiapkan kedatangan seorang mempelai. Persiapan para gadis itu bervariasi. Lima orang di antaranya adalah bijaksana karena mempersiapkan pelita mereka dengan minyak cadangan untuk mengantisipasi kedatangan sang mempelai yang tidak bisa diprediksi saatnya yang tepat. Sementara kelima gadis lainya adalah bodoh sebab mereka tidak mempersiapkan minyak cadangan untuk pelita mereka.

Untuk dapat berpartisipasi dalam perjamuan bersama dengan sang mempelai memang membutuhkan persiapan yang memadai sebagaimana yang dilakukan kelima gadis yang bijaksana. Orang hendaknya senantiasa berjaga. Bagaimana caranya? Dalam konteks Injil Matius dikisahkan bahwa orang berjaga dengan mendengarkan firman Tuhan dan melakukannya. Mendengarkan sabda Allah sambil berbuat baik kepada sama.  Banyak hal yang difirmankan oleh Tuhan dan diharapkan orang melakukan apa yang telah mereka dengar. Firman Tuhan itu ada yang bersifat perintah, seperti perintah untuk mencintai Allah dan sesama. Orang diharapkan untuk mencintai Allah dan sesama melalui tindakan yang nyata misalnya, memperhatikan orang miskin, orang asing, janda dan anak yatim (seperti yang sudah dikisahkan dalam bacaan pertama Minggu lalu), memperhatikan orang yang berkebutuhan khusus, dll.

Firman Allah itu juga bersifat penegasan seperti pernyataan Yesus dalam Yoh 14:6, bahwa Yesus adalah kebenaran. Sebagai murid Yesus kita diminta untuk selalu buat yang benar apapun tantangannya. Untuk mewujudkan kebenaran itu memang bukan hal yang mudah. Orang hendaknya dengan tekun dan setia untuk terus mengupayakannya. Itulah beberapa hal yang mestinya kita  lakukan untuk menantikan kedatangan sang mempelai yang tidak bisa diprediksi. Sehingga kapanpun sang mempelai datang kita dalam keadaan siap dan pintu dibukakan dan membiarkan kita bersama mempelai masuk ke dalam perjamuan nikah.

Sebaliknya kelima gadis yang bodoh tidak dapat masuk ke dalam ruang perjamuan bersama dengan sang mempelai karena mereka tidak mengantisipasi kedatangan sang mempelai dengan persiapan yang matang. Mereka tidak berjaga-jaga. Mereka tidak melakukan seperti yang dilakukan oleh kelima gadis yang bijaksana. Pintu ruangan perjamuan ditutup untuk mereka dan mereka tidak dapat mengambil bagian dalam perjamuan.

Saudara/i yang terkasih

Kristus akan datang pada akhir zaman. Kedatangan-Nya tidak bisa diprediksi. Karena itu kita tidak boleh lengah. Kita hendaknya menantikan kedatangan-Nya dengan bijaksana. Kita senantiasa berjaga dengan tekun dan setia sehingga kita bisa mengambil bagian dalam keselamatan yang Yesus tawarkan sebagaimana kelima gadis yang bijaksana. Selamat berjuang, Tuhan memberkati.

 

RP. Bertolomeus Jandu, OFM

 

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × 5 =