Renungan Minggu Biasa XXXI

Orang Kudus

Hari ini, Gereja universal merayakan hari raya Semua Orang Kudus. Ada yang berpikir bahwa Gereja sedang merayakan dan mengenangkan St. Fransiskus, St. Antonius, St. Bernardeth, St. Padre Pio, St. Mother Theresa, dll. Ketika disebut orang kudus, seringkali langsung terlintas santo santa seperti tadi.

Gereja mengajarkan bahwa dengan babtisan kita semua dipanggil pada kekudusan. Ada orang-orang tertentu yang oleh Gereja secara resmi dinyatakan sebagai orang kudus (dimasukkan dalam daftar orang kudus Gereja). Sebenarnya masih banyak orang kudus lainnya yang tidak atau belum masuk dalam daftar resmi orang kudus Gereja. Kiranya jumlah mereka jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan santo santa yang resmi diakui oleh Gereja.

Bulan lalu, Paus Fransiskus menetapkan seorang remaja yaitu Carlo Acutis menjadi beato. Carlo Acutis adalah seorang gamer dan programmer computer. Ia juga seorang penggemar sepak bola. Carlo Acutis membuka pikiran kita. Seringkali kita mengidentikkan orang kudus itu dengan aneka raga olah kesalehan. Orang kudus identik dengan doa, devosi, mati raga, rajin ke gereja, sopan, penuh ketenangan dan keheningan. Tentu saja itu tidak seluruhnya benar. Orang-orang kudus adalah manusia sepenuhnya. Mereka bergumul dengan godaan; mereka menikmati kegembiraan hidup. Mereka tidak sempurna, tetapi dengan cara mereka sendiri mereka adalah manusia yang hebat.

Dengan demikian, sebenarnya kita bisa menjumpai banyak orang kudus di sekitar kita. Tidak menutup kemungkinan bahwa orang tua, saudara, teman kelas, orang paroki kita. Bisa jadi juga tukang sayur, tukang sampah, satpam, karyawan kita, adalah orang-orang kudus di sekitar kita. Kita semua bisa menjadi orang kudus karena kita sudah diangkat untuk menjadi anak-anak Allah (1Yoh 3:1-2).

 

RP. Oki Dwihatmanto, OFM

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sixteen − 9 =