Renungan Minggu Biasa XXVIII

ALLAH MENGUNDANG KITA BERPARTISIPASI DALAM PERJAMUAN-NYA

Sudara/i yang dikasihi Tuhan

Injil Matius suka mengumpamakan kerajaan Allah dengan beberapa kiasan. Kerajaan Allah kadang-kadang diumpamakan dengan seorang raja yang mempunyai kebun anggur yang mempekerjakan pekerjanya pada lima jam yang berbeda tetapi diberinya upah yang sama banyaknya. Kerajaan Allah juga diumpamakan seperti pukat yang menjaring semakin banyak orang untuk berpartisipasi di dalamnya apapun latar belakang yang dimilikinya. Atau kerajaan Allah itu diumpamakan seperti tuan tanah yang menyewakan tanahnya kepada penggarap-penggarap kebun anggur lalu berangkat ke negeri orang. Tentang hal yang sama jugalah yang disampaikan dalam Injil Matius yang dibacakan pada hari Minggu biasa XXVIII hari ini. Bahwa kerajaan Allah itu diumpamakan oleh Matius sebagai seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin.

Dalam perjamuan kawin itu tuan perjamuan yaitu Allah sendiri mengundang semua orang untuk berpartisipasi dalam perjamuan nikah yang diselenggarakan. Dikatakan di dalam Injil bahwa orang-orang yang telah diundang itu tidak mau datang ke perjamuan itu. Siapakah orang orang itu? Dalam konteks Injil Matius orang-orang yang telah diundang itu tidak lain adalah orang-orang Yahudi, pemimpin-pemimpinya yaitu: ahli-ahli Taurat, imam-imam kepala, para penatua jemaat, ahli-ahli Taurat, orang-orang Farisi. Sejatinya perjamuan nikah itu mau mengungkapkan tentang keselamatan Allah yang dipersiapkan untuk orang-orang Yahudi. Keselamatan yang ditawarkan kepada orang-orang Yahudi ini tidak mereka tanggapi/menolaknya. Karena itu sang tuan pesta meminta hamba lainya untuk mengundang para tamu undangan dengan pesan bahwa segala sesuatu untuk perjamuan itu sudah dipersiapkan. Cara inipun gagal karena orang-orang yang diundang masih menyibukkan dirinya dengan urusanya masing-masing. Mereka tidak menghiraukan undangan untuk datang ke pesta perjamuan itu. Orang-orang ini hanya mementingkan dirinya dan kepentingannya. Mereka hanya mengutamakan kebahagiaan dan kesenangannya.  Mereka menolak untuk menjadi bagian dari kebersamaan dalam perjamuan itu. Yang lebih parah dan tragis lagi bahwa hamba-hamba itu ditangkap, disiksa dan dibunuh. Karena itu tuan perjamuan murka dan membinasakan para pembunuh dan kota mereka. Tindakkan tuan perjamuan ini mengindikasikan tindakan Allah sendiri yang tidak mau mengandalkan orang-orang Yahudi untuk menjadi bagian dari kerajaan-Nya. Allah mau membangun relasi dengan orang-orang yang membuka diri kepada keselamatan yang ditawarkan-Nya.

Skenario yang diterapkan untuk mengundang orang agar mengambil bagian dalam perjamuan yang diadakan itu diubah. Sasarannya bukan lagi orang-orang Yahudi tetapi terbuka kepada semua orang dengan latar belakang dan asal-usulnya yang beraneka ragam. Cara inipun bukannya tanpa masalah. Orang menyangka bahwa waktunya mendesak karena itu tidak sempat lagi untuk mempersiapkan diri secara pantas. Karena itu ada juga dari undangan itu yang datang dengan pakaian seadanya/tidak berpakaian pesta. Ketika tuan perjamuan masuk ke dalam ruangan pesta ia mendapati orang yang ada dalam ruangan pesta itu yang tidak berbusana yang sepantasnya. Kepada orang yang tidak mengenakan pakaian pesta itu, Tuan perjamuan itu berkata, “Hai saudara, bagaimana Saudara masuk kemari tanpa mengenakan pakaian pesta?”. Pertanyaan tuan perjamuan ini memperlihatkan bahwa semua orang memang diundang ke perjamuan nikah itu tetapi undangan itu tidak berarti orang mengabaikan apa yang seharusnya dilakukan untuk menghadiri pesta perjamuan itu. Setiap orang yang diundang ke pesta perjamuan nikah sebagaimana lazimnya mempersiapkan diri dengan baik, memantaskan diri dengan mengenakan busana pesta. Busana pesta yang pantas dan memadai memungkinkan orang untuk mengalami kebersamaan dengan tuan pesta beserta dengan para undangan lainnya. Sebaliknya orang yang tidak mengenakan pakaian pesta tidak diperkenankan untuk mengalami kebersamaan dengan tuan pesta dan para undangan.

Saudara/i yang terkasih dalam Tuhan

Dari perumpamaan itu kita mendapati tiga kelompok orang dengan karakter yang berbeda. Kelompok yang pertama adalah kelompok ekstrim yaitu orang-orang yang dengan jelas menolak undangan namun disertai dengan tindakan anarkis yaitu: menangkap, menyiksa dan membunuh utusan tuan perjamuan. Mereka ini berusaha untuk menggagalkan perjamuan nikah yang mau diadakan. Hal itu menunjukkan bahwa mereka menolak Allah yang berusaha memberikan kebahagiaan, yang memberikan keselamatan, kedamaian yang dihadirkan dalam perjamuan nikah itu. Meski imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi menolak untuk menerima keselamatan itu, Allah dengan cara-Nya meneruskan karya penyelamatan-Nya dengan merangkul orang dari bangsa-bangsa lain. Kelompok kedua ini berusaha untuk menerima tawaran keselamatan Allah itu dengan mempersiapkan diri secara pantas dan karena itu mereka dapat mengambil bagian dalam keselamatan itu. Kelomok ketiga adalah orang yang menerima tawaran keselamatan dari Allah namun dia tidak mempersiapkan diri secara pantas. Karena itu orang ini tidak diperkenankan oleh Allah untuk mengalami keselamatan itu. Melalui tindakkan Allah itu mau ditunjukkan bahwa semua orang memang diundang untuk mendapatkan keselamatan itu, namun pada waktunya Allah akan menentukan nasib semua orang itu berdasarkan kebaikan dan perilaku mereka. Hanya orang yang dianggap pantas dan berkenan kepada Allah yang boleh mengambil bagian dalam keselamatan yang Allah tawarkan. Maka, Matius menutup Injilnya dengan berkata, “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikitlah yang dipilih”. 

Saudara/i yang terkasih dalam Tuhan

Kita semua telah diundang oleh Allah untuk mengambil bagian dalam keselamatan-Nya. Tanggapan kita atas undangan Allah itu telah kita berikan ketika kita menerima pembaptisan. Pembaptisan yang kita terima itu tidak bersifat instan. Artinya pembaptisan yang kita terima tidak membuat kita secara otomatis bisa bersatu dengan Allah dan mengalami keselamatan. Keselamatan itu hendaknya kita perjuangkan dengan menjalankan apa yang menjadi hak dan kewajiban kita sebagai angota Gereja. Di samping itu kita juga dapat mengalami keselamatan Allah itu melalui sikap dan tutur kata kita yang baik, perilaku kita, keadilan, kebaikan dan kedamaian yang kita perjuangkan, relasi serta persekutuan yang kita jalin, baik dengan sesama kita maupun dan terutama dengan Allah sendiri. Selamat berjuang, Tuhan memberkati.

 

RP. Bertolomeus Jandu, OFM 

 

 

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 × five =