Renungan Minggu Biasa, XXVII

“Tuhan Tambahkanlah Iman Kami”
“Tuhan tambahkanlah iman kami” merupakan jawaban para murid akan perintah Yesus yang menghendaki kita untuk mengampuni dosa mereka yang bersalah kepada kita, “Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu, dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.” (Luk 17:4).
Iman adalah tanggapan manusia atas Firman atau Cinta Kasih Allah yang disampaikan kepada kita. Meski untuk dapat menanggapi Cinta Kasih Allah ini, kita memerlukan rahmat Allah, namun tetap ditutut adanya usaha dari pihak manusia. Memang rahmat itu sudah ditawarkan, bahkan sudah diberikan oleh Allah kepada manusia (dalam istilah teologi disebut “Gratia Operans”). Namun rahmat yang telah diberikan itu akan berbuah atau tidak juga sangat dipengaruhi oleh bagaimana kerja sama atau tanggapan kita akan Rahmat Allah tersebut (dalam istilah teologi disebut, “Gratia Cooperans”. Ia ibarat ayam yang berada di dalam lumbung padi. Apakah ayam itu akan kekenyangan atau mati kelaparan, juga tergantung pada ayam itu sendiri, mau kah dia menerima dan memakan padi yang ada di dalam lumbung tersebut. Kalau Firman atau tawaran Cinta Kasih Allah itu tidak kita tanggapi, malahan dengan jelas-jelas kita menolaknya, maka bisa saja kita akan menjadi seperti ayam yang mati di dalam lumbung padi.
Rasul Yakobus berkata, “Iman tanpa perbuatan adalah sia-sia” (Yak. 2:26), dengan demikian iman (tanggapan positif kita akan Firman atau Cinta Kasih Allah ini harus kita wujudkan dengan perbuatan kita. Tidak lah cukup kita mengimani bahwa Allah adalah sumber kekuatan dan keselamatan jiwaku, namun ketika sedikit saja kita mengalami masalah dalam hidup kita, kita langsung “lari kepada ilah-ilah lain”. Iman yang terwujud dalam perbuatan itu semestinya juga menghasilkan buah, yaitu buah-buah kebaikan, baik untuk diri sendiri, maupun sesama, dan bahkan seluruh alam ciptaan.
Namun, ketika kita berhasil melakukan suatu tindakan yang baik dan berguna bagi sesama, bahkan seluruh alam ciptaan, janganlah kita berbangga dan bermegah diri karenanya, melainkan bersyukurlah dan kembalikan lah apa yang baik kepada Tuhan. Ketika kita iman kita menghasilkan buah-buah yang baik, kita diajak oleh Yesus untuk tidak sombong, melainkan mengambil sikap seperti seorang hamba, “Kami ini adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan” (Luk 17:10). Semoga sikap ini juga menjiwai karya pelayanan kita di manapun kita berada: entah di gereja (misdinar, lektor-lektrik, petugas koor, anggota dewan paroki); di rumah (sebagai anak, ibu, dan bapa) di tempat kerja (pelajar, kantor); dan di manapun Anda berada.
St. Fransiskus dari Assisi menasehati putera-puteri (para pengikutnya) untuk mengembalikan segala yang baik kepada Tuhan. Dalam Anggaran Dasar tanpa Bula pasal XVII ayat 17 dan 18, Fransiskus menulis, Marilah kita mengembalikan semuanya yang baik kepada Tuhan Allah Yang Mahatinggi dan Mahalulur dan mengakui, bahwa semua yang baik adalah milik-Nya; marilah kita mengucap syukur kepadanya atas segala-galanya, karena dari Dialah berasal semua yang baik. Dia, Yang Mahatinggi dan Mahaluhur, satu-satunya Allah yang benar, semoga Dia memiliki, dan hendaknya kepada-Nya dikembalikan, dan semoga Ia sendiri menerima segala hormat dan bakti, segala pujaan dan pujian, segala syukur dan kemuliaan; milik Dialah segalanya yang baik, Dia satu-satunya yang baik. Dan lagi, Fransiskus juga menulis, “Tetapi orang yang dihidupkan oleh roh kitab suci, ialah mereka yang tidak menganggap setiap huruf yang mereka ketahui atau ingin mereka ketahui sebagai milik diri sendiri, tetapi mengembalikannya kepada Tuhan Allah Yang Mahatinggi, pemilik segalanya yang baik, baik dengan kata-kata maupun dengan teladan mereka” (Petuah Fransiskus Pasal VII ayat 4 b.)
RP. Yustinus Damai Wasono OFM

Berita dan Artikel Lainnya