Renungan Minggu Biasa XXVII

Tuhan tambahkanlah iman kepada kami? Saudara-saudari yang terkasih, ketika saya membaca Injil tadi dan mulai pelan2 merenungkan, muncul pertanyaan dalam pikiran saya,mengapa para murid meminta iman? Kira-kira apa alasannya sehingga mereka meminta iman?
Lalu mengapa Yesus tidak langsung memberikan iman itu? Malahan Yesus memberikan sebuah cerita tentang Tuan dan hambanya.
Saudara-I yang terkasih jawaban pertama yang muncul adalah, beriman atau percaya kepada Kristus tidak bisa dilepaskan dari bagaimana kita berperilaku kepada sesama kita. Artinya beriman kepada Kristus ditandai ketika kita bersikap baik kepada sesama kita. Mungkin
kita bertanya, apa sih arti iman? Iman boleh kita artikan sebagai jawaban positif kita atas pewahyuan Tuhan kepada manusia. Sederhanya, iman berarti kita memiliki kepercayaan kepada Tuhan.
Saudara-I yang terkasih, hampir kita semua di sini mungkin memiliki karyawan di rumah kita. Para karyawan itu bekerja bersama kita. Mereka melakukan pekerjaan sesuai dengan kesepakatan yang sudah kita buat. Dan mereka kita gaji juga berdasarkan kesepakatan yang sudah kita buat. Lalu mengapa Yesus mengambil kisah ini, untuk menjawab permintaan para murid? Yesus mengajarkan kepada kita agar iman yang sudah ada dalam hati kita masingmasing juga terwujud di dalam perilaku kita. Yesus berharap agar iman yang kita miliki itu mesti mampu dirasakan oleh orang lain, secara khusus mereka yang ada di sekitar kita; mereka yang selalu bekerja dengan kita; mereka yang kita jumpai setiap hari. Dan bagaimana caranya agar iman kita itu juga mampu dirasakan oleh orang lain? ya ketika kita menyadari bahwa mereka adalah rekan kerja kita, ketika kita mengakui bahwa mereka adalah bagian dari hidup kita, ketika kita bersikap adil kepada mereka, ketika kita peduli pada mereka, ketika kita mampu merasakan apa yang mereka rasakan, ketika kita menghargai mereka, ketika kita senantiasa
mengucapkan terimakasih setiap kali mereka membantu kita, dan karena itu, mari kita bertanya apakah kita selama ini tidak sulit mengatakan terimakasih kepada orang-orang yang bekerja dengan kita, atau sebaliknya. Dan jawaban yang kedua dari permintaan para murid dan kisah yang diangkat oleh Yesus tadi yakni beriman atau memiliki iman itu membutuhkan proses. Beirman itu tidak sekali jadi.
Kita tidak bisa langsung meminta, Tuhan berikan kami iman, lalu Tuhan menjatuhkan dari langit. Sebaliknya beriman itu membutuhkan proses, membutuhkan perjuangan, dan karena itu dibutuhkan kepekaan terhadap sesama. Dan kepekaan itu, bisa kita miliki apabila kita
mempunyai relasi yang baik dengan Tuhan.
Saudara-I yang terkasih, dari permintaan para murid tadi kita bisa belajar bahwa untuk memiliki iman yang besar (setidak-tidaknya sebesar biji sesawi), dibutuhkan proses, dibutuhkan perjuangan, dibutuhkan kesetiaan, dibutuhkan kepekaan. Dan bukti kita sudah
memiliki iman yang besar kepada Kristus jika kita sudah berperilaku baik kepada sesama. Jika kita mengatakan bahwa kita memiliki iman kepada Tuhan maka mari kita tunjukkan hal itu kepada sesama kita. Kwalitas iman kita sungguh ditentukan bagaimana kita berperilaku kepada
sesama, terkhusus bagi mereka yang mungkin berbeda dengan kita.
Saudara-I yang terkasih, bagi saya Bunda Maria adalah model yang sempurna bagaimana kita beriman kepada Tuhan. Bunda Maria menunjukkan dua hal kepada kita yakni kerendahan hatinya dan penyerahan dirinya seutuhnya kepada Tuhan. Bunda Maria dalam hidupnya tidak banyak meminta kepada Tuhan, sebaliknya ia percaya bahwa Tuhan akan menunjukkan hal-hal yang lebih besar dari apa yang ia pikirkan dan harapkan.

 

Diakon Santono Situmorang, OFM

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 × three =