Renungan Minggu Biasa XXVII

Jangan kuatir, ucapkan syukur, dan damai sejahtera Allah

Mat 21:33-43

Hari Raya St. Fransiskus Assisi

Bacaan Injil hari ini menceritakan perumpamaan tentang pemilik kebun anggur dan para penggarap. Pemilik kebun anggur menyewakan kebunnya kepada para penggarap. Ia percaya sungguh kepada para penggarap tersebut. Dan betapa beruntungnya para penggarap tersebut. Dengan mendapat kesempatan untuk menjadi penggarap kebun anggur, maka mereka mempunyai pekerjaan yang bisa menjadi sumber kehidupan.

Akan tetapi, para penggarap itu ternyata orang-orang yang tidak tahu bersyukur. Ketika kebun anggur itu menghasilkan tentu wajar kalau hasilnya dibagi antara para penggarap dan pemilik kebun anggur. Karena itulah, pemilik kebun anggur mengirim utusan untuk menerima bagiannya. Tetapi utusan-utusan itu ditolak oleh para penggarap. Para utusan itu ditangkap, disiksa, dilempari batu, dan dibunuh. Bahkan, utusan terakhir yaitu anak dari pemilik kebun anggur itu pun mengalami hal yang sama.

Para penggarap kebun anggur merupakan gambaran dari orang yang tidak tahu bersyukur, tidak tahu berterima kasih. Mereka adalah orang-orang yang tamak, orang-orang yang tergoda untuk berkuasa atas sesuatu yang bukan haknya. Orang-orang seperti ini tidak segan-segan untuk melakukan segala cara demi mencapai tujuannya yaitu kekuasaan dan kekayaan. Tindak kekerasan pun akan mereka lakukan. Mereka tidak peduli lagi dengan siapapun yang dihadapi termasuk orang-orang yang berjasa dalam hidupnya sebagaimana digambarkan dalam sosok anak pemilik kebun anggur.

Bacaan kedua menyajikan paradigma yang berbeda dengan sikap para penggarap kebun anggur. Paulus mengajak jemaat di Filipi untuk melawan budaya tamak dan kekerasan dengan berkata, “janganlah kamu kuatir tentang apapun juga … nyatakanlah keinginan hatimu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Maka damai sejahtera Allah, … akan memelihara hati dan pikiranmu”. Jangan kuatir, ucapkan syukur, damai sejahtera Allah…tiga hal yang sangat penting untuk kita kembangkan.

Fransiskus Assisi yang kita rayakan hari ini adalah tokoh yang mengusahakan ketiga hal tersebut. Ia memilih untuk menjalani kemiskinan yang radikal sehingga terbebas dari segala kekuatiran. Ia mengucap syukur atas segala peristiwa yang dialami; bahkan pengalaman dihina, direndahkan, disiksa dan ditinggalkan pun dipandangnya sebagai sukacita yang sejati dan sempurna. Dan ia mewartakan perdamaian kemanapun ia pergi. Ia mendamaikan Uskup dan walikota Assisi yang berseteru, ia membantu seekor serigala ganas untuk berdamai dan bersahabat dengan warga kota Gubio. Ia mendatangi sultan untuk berdialog penuh kasih. Dan kepada kita, ia meninggalkan warisan yang sangat berharga yaitu “Doa Damai”.

Tuhan, semoga kami bisa menjadi alat damai-Mu!

RP. Oki Dwihatmanto, OFM

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

19 − 12 =