Renungan Minggu Biasa XXVI

RENUNGAN HARI MINGGU XXVI/C
ORANG KAYA DAN ORANG MISKIN

Saudara-saudariku yang terkasih,

Dalam Injil Lukas hari ini, Luk. 16:19-31, Yesus menceriterakan sebuah ceritera perihal orang kaya dan orang miskin kepada orang-orang Farisi. Tidak boleh dilupakan objek dari ceritera ini: orang-orang Farisi, yang kita tahu sifat-sifatnya: merasa diri paling unggul, dikasihi Yahwe, tampil selalu dalam model pakaian khusus, hidup lebih mewah dari yang lain dan sebagainya. Mereka inilah yang mau diajari secara khusus oleh Yesus.

Ceritera Yesus berbicara perihal dua tokoh: yang satu kaya raya, penuh kemewahan pakaiannya saja berwarna ungu. Warna yang waktu itu sangat mahal. Dan seorang miskin, penuh penyakit dan borok, yang terbaring di dekat pintu rumahnya, yang bernama Lazarus, yang menantikan makanan yang jatuh dari meja orang kaya raya itu. Penyakitnya sedemikian parah, sehingga bahkan anjing-anjing itu menjilati luka-luka dan boroknya.

Akhirnya keduanya meninggal. Yang kaya masuk neraka dan yang miskin, Lazarus, masuk surga. Apakah Yesus dengan ini mau mengajarkan bahwa yang kaya pasti masuk neraka dan yang miskin masuk surga? Bahwa Yesus membenci orang kaya dan mencintai orang berpenyakitan ini? Sama sekali tidak.

Kekeliruannya adalah bahwa orang kaya tadi tidak mempedulikan si miskin. Kalau kita mau menghitung, sekurang-kurangnya ada tiga kesalahan si kaya.

Beberapa saja:

  1. Pertama: kelalaian. Dalam doa ‘Saya mengaku’ ada 4 sumber dosa kita akukan: … dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian. Kita sering lupa kelalaian: tidak berbuat apa-apa, padahal bisa dan mampu serta sempat. Si kaya tidak berbuat apa-apa. Bagaimana dengan hidup kita? Lingkungan sibuk beraksi: rosario, pendalaman iman, K.S., bersih-bersih gereja, menggalang dana untuk renovasi gereja…. Saya buat apa? Ditempati aja tidak mau.
  1. Sewaktu masih hidup: merasa puas diri, tak perlu orang lain, menempatkan diri di atas orang lain. Menganggap orang lain ada di bawahnya, suruhan. Setelah meninggal, sifat menutup diri (kelompok, keluarga), angkuh, dan tetap saja menganggap Lazarus sebagai orang suruhan: ‘suruhlah Lazarus…’ sampai dua kali!
  1. Tidak ada pertobatan: terbersit ada penyesalan, tetapi tidak terjadi pertobatan. Tetap menempatkan diri sebagai makhluk yang lebih berharga dari orang lain. Tetap memperlakukan Lazarus sebagai orang suruhan. Ini berbeda dengan sikap Lazarus: orang yang penuh iman pada apa yang ditentukan oleh Yahwe. Tidak mengeluh dan mengutuki orang kaya yang berdiam diri itu. Karena itu dalam ceritera ini dia mendapatkan nama Lazarus, yang berasal dari bahasa Ibrani Eleazar: yang berarti Tuhanlah Penolongku. Jarang sekali Yesus memberi nama kepada tokoh ceriteranya.

Saudara-saudariku yang terkasih,

Marilah kita tidak meniru orang kaya raya ini, tapi juga tidak usah menjadi orang fakir miskin yang penuh penyakit dan borok. Tetapi menjadi orang yang tahu diri dalam relasi kita dengan Tuhan dan sesama. Apapun yang kita miliki itu adalah anugerah Tuhan. Dalam yang besar sampai yang paling sederhana. Sukurilah dengan penuh rasa syukur, dan pergunakanlah juga bagi orang lain. Harta benda itu bersifat sosial. Jangan sampai kita lalai, tidak peduli terhadap mereka yang memang membutuhkan.

Marilah kita mempunyai jiwa seperti Lazarus, Eleazar, yang beriman bahwa Tuhanlah Penolongku.

RP. Alfons S. Suhardi, OFM

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two × five =