Renungan Minggu Biasa XXV

 

Mrk. 9:30-37

Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku” (Mrk 9,36-37)

Saudara-saudari yang terkasih,
Tindakan dan kata-kata Yesus ini maknanya sangat mendalam. Ia memberi contoh kepada para murid bagaimana cara yang baik untuk bergaul dengan-Nya dan menyambut-Nya. Dan menariknya, contoh yang Dia pakai adalah dengan mengatakan “menyambut seorang anak seperti ini”.
Nah, pertanyaannya sekarang, “seperti ini” itu maksudnya apa dan bagaimana?
Kita temukan jawabannya pada ayat 36: “Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka”.
Tindakan Yesus mengambil anak kecil itu bisa kita maknai sebagai memanggil dan mengundang. Yesus memanggil anak kecil itu dan anaknitu datang kepada Yesus.
Jadi, Yesus meminta para murid untuk mengundang dan menyambut-Nya seperti Ia mengundang dan menyambut seorang anak kecil, yakni dengan menempatkannya di tengah-tengah mereka.
Kalau Yesus menempatkan seorang anak kecil di tengah, itu artinya Ia menjadikan anak itu sebagai pusat perhatian.
Kita bisa mengambil contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari kita. Dalam sebuah keluarga, di mana ada seorang anak kecil, entah itu anak atau cucu, biasanya ia selalu menjadi pusat perhatian. Seorang ibu yang sedang mempunyai anak kecil, biasanya mencurahkan seluruh kasih dan perhatiannya terhadap anaknya itu. Sang bapak pun, begitu pulang kerja juga langsung mencurahkan kasih sayang padanya. Bahkan, kakek dan neneknya juga rela menghabiskan waktunya untuk jadi MC, alias momong cucu yang masih kecil itu.
Dengan demikian, menjadi sangat jelas bagi kita: apa artinya mengundang dan menyambut Yesus seperti menyambut anak kecil. Yaitu, kita mengundang dan menjadikan Yesus sebagai pusat hidup dan pusat per*HATI*an kita. Kita boleh sibuk dengan tugas dan pekerjaan kita sehari-hari, tidak dilarang pula untuk beristirahat dan berekreasi, namun kita tetap harus menjadikan Tuhan sebagai pusat dari roda kehidupan kita.
Semoga sabda Tuhan yang kita dengar, baca dan renungkan serta sakramen Ekaristi yang kita sambut meneguhkan kita dalam usaha kita menjadikan Yesus sebagai pusat hidup dan hati kita.
Tuhan memberkati.

RP. Agustinus Anton Widarto, OFM

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

17 + twelve =