Renungan Minggu Biasa XXIV

MENGAMPUNI TANPA BATAS

Saudara/i yang terkasih dalam Tuhan

Suster A dalam sebuah pembicaraan dengan Romo pembimbing rohaninya berkata, “Romo saya amat membenci suster B teman sekomunitasku karena dia pernah memarahiku karena sebuah kesalahan kecil yang pernah saya lakukan kepadanya. Saya begitu membencinya. Kalau kebetulan berpapasan saya tidak memandang mukanya dan kadang-kadang saya menghindar daripadanya kalau harus duduk bersebelahan dengannya di meja makan atau di ruang doa. Saya minta bantuan Romo bagaimana saya sebaiknya harus bersikap kepada suster B itu. Romo pembimbing rohaninya memberikan dua opsi kepada suster A itu. Pertama, suster hendaknya berdamai dengan suster itu dan memberikan pengampunan kepadanya dan meneruskan panggilan suster serta memulai lagi secara baru berkomunikasi dengan suster B. Kedua, suster sebaiknya meninggalkan konggregasi suster/keluar dari suster, karena suster tidak cocok untuk mempertahankan panggilan suster dan hidup bersama dengan suster yang lainnya, terutama dengan suster B itu. Saya beri waktu satu Minggu untuk suster merefleksikan dan memberikan keputusan terhadap kedua opsi yang saya tawarkan itu. Setelah satu Minggu berlalu, suster A datang menemui Romo pembimbingnya dan memberikan jawaban positif dengan memilih opsi yang pertama, yaitu: memberikan maaf kepada suster B dan berusaha berdamai dan membangun komunikasi secara baru dengannya. Pada titik ini, amat tepatlah apa yang dikatakan oleh para bijak bahwa “kesalahan menciptakan musuh tetapi pengampunan menciptakan sahabat, dosa menimbulkan benci tetapi pengampunan memunculkan perdamaian dan persahabatan”.

Salah satu ajaran kristiani yang paling sulit diterapkan dalam kehidupan sehari-hari adalah soal mengampuni. Betapa tidak. Kita diminta untuk memberikan maaf kepada orang lain yang jelas-jelas melakukan kesalahan/kejahatan kepada kita. Kita lebih sering marah, mengumpat, mengutuk bahkan mendendam kepada orang lain yang melakukan kesalahan dalam kehidupan kita daripada harus mengampuninya. Bahkan ada orang yang begitu membencinya kepada seseorang, sampai bersumpah, “sampai mati pun aku tidak akan memaafkan kamu”.

Meskipun dalam kenyataannya aspek mengampuni amat susah untuk diterapkan/dilaksanakan tetapi sebagai pengikut Kristus kita tetap diminta untuk mewujudkan hal mengampuni itu dalam kehidupan kita, sebab kita telah memilih untuk mengikuti Yesus Kristus. Maka, sebagai pengikut-Nya kita hendaknya berjuang, apapun tantangan/kesulitannya dengan berguru kepada Yesus Kristus dan Allah Bapa sendiri yang senantiasa memberikan pengampunan tanpa batas kepada orang-orang yang berdosa/melakukan kesalahan. Bacaan-bacaan hari Minggu biasa XXIV ini menuntun kita supaya kita dapat merealisasikan aspek mengampuni itu dengan belajar pada kemurahan Allah yang senantiasa memberikan maaf kepada siapapun yang dengan rendah hati dan jujur memintanya.

Injil Matius dalam bacaan Minggu biasa XXIV ini dimulai dengan Petrus yang mendatangi Yesus serta memberikan pertanyaan mengenai pengampunan yang hendaknya diberikan kepada seseorang yang berbuat dosa. Petrus mencoba memberikan jawaban terhadap pertanyaannya sendiri dengan berkata, sampai tujuh kali? Angka ini disebut oleh Petrus karena dia mengetahui bahwa angka tujuh dalam Kitab Suci adalah angka sempurna. Dengan demikian Petrus menginsafi bahwa jawabannya itu paling ideal dan sempurna dan karena itu tidak akan dikoreksi oleh Yesus. Ternyata jawaban Petrus itu belum tepat. Karena itu Yesus mengoreksi jawaban Petrus itu dengan berkata, “bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”. Dengan demikian Yesus mau menegaskan bahwa pengampunan kristiani itu tidak ada batasnya. Setiap kali orang melakukan kesalahan atau dosa pengampunan senantiasa diberikan kepadanya. Orang berdosa yang mendapat pengampunan dari Allah diharapkan juga untuk bisa memberikan pengampunan kepada orang lain atau sesamanya yang melakukan kesalahan terhadapnya. Pengampunan tanpa batas yang diberikan oleh Allah hendaknya menjadi patokan ketika kita memberikan pengampunan kepada orang lain yang melakukan kesalahan kepada kita. Kalau Allah sedemikian memberikan pengampunan tanpa batas kepada kita, kendati dosa-dosa yang telah kita lakukan, maka kita hendaknya melakukan hal yang sama kepada sesama kita yaitu: memberikan pengampunan tanpa batas.

Untuk menegaskan hal itu maka ditampilkan sebuah perumpamaan dalam lanjutan kisah Injil Matius tentang seorang hamba yang berhutang kepada tuannya dengan nominal yang amat besar yaitu: sepuluh ribu talenta yang menurut Rm Martin Harun, OFM angka itu setara dengan triliunan rupiah. Hamba yang berhutang itu berikut isteri, anak dan semua miliknya akan dijual untuk melunasi hutangnya. Saya kira dengan gaji seorang hamba yang relatif kecil tidak mungkin bisa membayar utang-utangnya kendati harus bekerja selama-lamanya di tempat sang tuan. Tetapi hamba itu memohon kepada tuannya agar diberi waktu untuk melunasi hutangnya. Tuan itu berbelaskasihan kepada hambanya itu dan membebaskan dia dari hutangnya. Akan tetapi hamba itu tidak menyatakan belaskasihannya kepada temannya yang berhutang hanya 100 dinar kepadanya yang menurut Rm Martin Harun angka 100 dinar itu setara dengan jutaan rupiah. Karena itu tuannya marah dan menyerahkan hamba yang tidak berbelaskasihan itu kepada “para algojo sampai ia melunaskan seluruh hutangnya”.

Tuan yang berbelaskasihan dan memberikan pengampunan kepada hambanya itu tidak lain adalah Allah sendiri yang karena belaskasihan dan pengampunan-Nya senantiasa memberikan pengampunan kepada setiap orang yang berdosa. Orang yang telah mengalami belaskasihan dan pengampunan dari Allah hendaknya juga melakukan hal yang sama kepada orang lain atau sesama. Nanti ketika pengadilan terakhir digelar orang yang tidak berusaha untuk mengampuni sesamanya akan mendapatkan hukuman dari pihak Allah sendiri, sebagaimana diungkapkan dalam bagian terakhir dari Injil Matius hari Minggu biasa XXIV Tahun A, yaitu: ”Demikianlah Bapa-Ku yang di Surga akan berbuat terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu”. Selamat berjuang, Tuhan memberkati.

 

RP. Bertolomeus Jandu, OFM

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 × 2 =