Renungan Minggu Biasa, XXIII

MEMANGGUL SALIB KRISTUS

Saudara/i yang terkasih dalam Tuhan, Perkembangan ilmu dan teknologi (untuk selanjutnya disingkat IPTEK) semakin memudahkan manusia untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Banyak hal dipermudah karena perkembangan IPTEK itu. Kalau seseorang mau pandai dalam berkomunikasi  ia akan belajar jurus-jurus komunikasi dan hal itu sudah banyak tersedia dalam banyak buku ataupun ulasan para pakar dalam bidang komunikasi yang tersaji di berbagai media massa ataupun membacanya melalui internet. Demikianpun apabila seseorang mau sukses dalam berbisnis dia akan belajar ilmu ekonomi atau managemen sebaik-baiknya sehingga dia dapat menguasai pasar. IPTEK membantu manusia untuk semakin sukses dalam membangun relasi dan komunikasi yang efektif dengan sesama dan dalam dunia  perbisnisan/ perekonomian.

Saudara/i yang mengasihi dan dikasihi Tuhan, Sebagaimana IPTEK yang punya dampak positif bagi kehidupan manusia seperti digambarkan di atas, dalam kehidupan beriman Katolik, kita pun mempunyai jurus-jurus khusus untuk memperoleh kebahagiaan hidup/keselamatan dari Allah. Bacaan Injil hari Minggu biasa XXIII Tahun C minggu ini menyodorkan sebuah tuntutan yang hendaknya kita upayakan agar mengalami kebahagiaan/keselamatan itu. Bahwa keselamatan itu akan kita miliki apabila kita mengikuti Yesus Kristus dengan memikul salib-Nya. Sebuah tuntutan yang tidak mudah untuk diterima dan dihayati oleh orang kebanyakan yang mau memperoleh kebahagiaan/keselamatan dengan cara yang biasa-biasa atau yang ringan-ringan saja. Mengapa harus bersusah-susah kalau ada cara yang paling mudah untuk memperoleh kebahagiaan/keselamatan itu?

Untuk menjawab pertanyaan itu kita mesti mengacu kepada tokoh kita ialah Yesus Kristus. Dialah model/pola/dasar/contoh untuk kita agar kita dapat menjalankan tuntutan Yesus itu. Bahwa Yesus Kristus memperoleh keselamatan atau kemuliaan-Nya justru dengan jalan perendahan diri yaitu dengan memikul salib. Dia menderita dan wafat di Salib dan karena itu Dia dimuliakan oleh Allah. Maka konsekwensinya adalah setiap orang yang mau mengikuti Yesus Kristus hendaknya menempuh jalan yang sama. Tidak bisa lain. Dengan menempuh jalan Yesus Kristus itu kita pun akan memperoleh kebahagiaan atau keselamatan. Apakah resep yang Yesus Kristus gunakan sehingga Ia berhasil dalam menjalankan tugas-Nya?  Ada banyak alasan yang mendorong Yesus Kristus dapat mengemban misi perutusan-Nya. Dua di antaranya yaitu kasih dan ketaatan pada kehendak Bapa-Nya.

Kasih itu mewarnai sekaligus menjadi dasar seluruh perutusan Yesus Kristus. Yesus Kristus karena kasih-Nya memberikan dirinya untuk semua orang yang Dia kasihi terutama orang-orang berdosa dan orang-orang yang menderita dan yang dianggap sampah oleh masyarakat. Ia berpegang pada komitmen-Nya untuk mencintai dan menjadi saudara bagi semua orang. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawa-Nya untuk sahabat-sahabat-Nya”. Di samping kasih, hal lain yang juga menjadi penekanan Yesus Kristus dalam mengemban tugas perutusan-Nya adalah ketaatan-Nya pada kehendak Bapa. Kehendak Bapa-Nya sebagaimana kita ketahui adalah supaya  semua orang selamat. Maka Yesus Kristus diutus ke dunia ini untuk merealisasikan kehendak Allah itu. Hal itu tercetus-ungkapkan ketika dari atas salib Yesus Kristus berseru, “Ya bapa bukan kehendak-Ku melainkan kehendak-Mulah yang terjadi”. Yesus Kristus wafat di salib terutama karena kasih-Nya kepada manusia dan ketaatan-Nya pada kehendak Bapa.

Saudara/i yang terkasih, Di samping tuntutan Yesus Kristus untuk memikul salib, aspek lain yang disinggung adalah kerelaan para murid untuk mengambil jarak dengan keluarga dan melepaskan kekayaan dan harus kehilangan nyawa. Tuntutan Yesus ini amat berat tetapi mesti disikapi sambil melihat dan belajar pada Sang Guru Agung dan sejati ialah Yesus Kristus sebagaimana juga disinggung di atas. Setiap murid yang mau mengikuti Yesus hendaknya mengambil jarak dengan keluarga supaya dapat lebih fokus pada panggilannya. Orang yang masih memikirkan keluarga dianggap tidak pantas untuk kerajaan Allah. Allah hendaknya diutamakan melebihi keluarga. Manakala orang yang dipanggil itu memiliki harta kekayaan supaya diberikan kepada orang yang lebih membutuhkannya. Masih banyak orang miskin di luar sana yang harus dibantu dengan kekayaan yang dimilki itu. Tuntutan terakhir dan yang teramat berat adalah resiko kehilangan nyawa. Setiap murid Yesus Kristus hendaknya siap untuk kehilangan nyawa dalam tugas perutusannya mewartakan kabar baik kepada sesama. Banyak pengikut Kristus yang meninggal di medan misi karena tugas mewartakan kabar baik kepada bangsa dan kebudayaan lain.

Untuk mewujudkan hal-hal di atas, maka apa yang dikatakan dalam bacaan pertama maupun bacaan kedua menjadi relevan. Dalam bacaan pertama digambarkan bagaimana setiap murid Tuhan Yesus hendaknya bertindak. Setiap murid Tuhan Yesus diminta untuk bertindak bijaksana dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Dan kebijaksanaan itu hanya kita temukan di dalam Tuhan. Maka carilah kebijaksanaan itu di dalam Tuhan. Kebijaksanaan itu memungkinkan kita untuk tidak mudah menyerah/putus asa dalam menghadapi perosalan hidup dan tetap bisa berlaku sebagai saudara bagi yang lain sebagaimana Paulus tekankan dalam bacaan yang kedua. Selamat berjuang, Tuhan memberkati.

 

RP. Bertolomeus Jandu, OFM

 

Berita dan Artikel Lainnya