Renungan Minggu Biasa XXIII B 2018

“Ia menjadikan segala-galanya baik! Yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berbicara.”

Mrk 7:31-37

Intro:

Yesus membuka telinga orang tuli di daerah Dekapolis, sewaktu Yesus kembali dari Tyrus lewat Sidon ke Galilea. Yesus pun berkuasa di daerah luar Israel, kafir, itu.

Hati dan iman kita pun seringkali tertutup, tuli terhadap macam-macam bisikan Tuhan, baik melalui hati nurani, maupun melalui tegur sapa sesama kita.

Marilah kita menghadap Tuhan mohon ampun atas segala ketulian kita itu dan semoga pun Yesus berkenan menyembuhkannya, supaya kita pantas menerima kedatangan-Nya dalam perayaan Ekaristi kudus ini.

Khotbah:

Ceritera pembuka:

Seorang exorsist, imam, mengusir sepuluh setan yang merasuki seseorang. Sembilan setan langsung lari terbirit-birit, tetapi yang satu ini tak bergeming, tetap saja duduk dengan tenang. Bolak-balik imam itu mencoba mengusirnya, tapi tak bergerak sedikit pun. Juga dng Salib St. Benediktus pengusir setan yang terkenal itu, Setan satu itu tetap tenang di tempatnya. Sang imam pun nyaris putus asa. Pada wktu itu datanglah kesembilan setan yang telah lari itu. Imam bertanya sambil membentak: “Mau apa kalian!?” Jawab mereka serentak: “Mau jemput teman saya yang satu ini!” “Kena;a?” tanya si imam. “Maaf Pastor, dia itu tuli!”

Saudara-saudara yang terkasih,

Dalam Injil, Yesus menyembuhkan orang bisu tuli di Dekapolis dalam perjalannya kembali dari Tyrus di Libanon ke daerah Galilea di Israel Utara. Dia ambil jalan putar.

Cara penyembuhan juga sangat detail, rinci. Tidak hanya dijamah atau dipegang-Nya orang yang dianggap najis oleh orang Yahudi itu, tapi lebih dari itu: dimasukkannya jarinya ke dalam lubang telinga orang itu, meludah, dan disentuhnya lidahnya; menarik nafas dalam-dalam sambil melihat ke atas, dan dengan suara nyaring berkata “Effata” (terbukalah). Sembuhlah dia.

Orang banyak takjub dan berseru: “Ia menjadikan segala-galanya baik! Yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berbicara.”

Saudara-saudara terkasih,

Tuli (dan karenanya bisu) merupakan kekurangan yang sangat menghambat perkembangan seseorang (contoh di Sekolah bisu tuli di Kebon Jeruk).

Juga tuli (dan bisu) dalam bidang rohani dan iman.

Yang menjadikan tuli: macam-macam: kesombongan, marah-marah, dengki, irihati dll.

Fransiskus Asisi: “Hendaknya kalian, karena dosa dan kesalahan orang lain, janganlah menjadi marah-marah dan gusar, karena kemarahan dan kegusaran menutup hati kalian dan hati orang lain terhadap rahmat Tuhan.”

Betapa kita sering tuli dan buta, karena kemarahan. Istilah “Mata gelap!” memang tepat.

Hendaknya dengan rendah hati menghadap Tuhan, berani menyerahkan diri ke dalam tangan Tuhan, seperti orang tuli di Dekapolis itu. Supaya telinga kita dikorek-korek dengan jarinya nan kudus dan penuh kuasa itu.

Semoga kita pun bisa terbuka bagi karya Tuhan yang agung dan bisa berseru seperti orang-orang Dekapolis itu:

“Ia menjadikan segala-galanya baik! Yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berbicara.”

Selamat berusaha sekuat tenaga membuka telinga kepala, dan telinga hati kita masing-masing.

Puji Tuhan. Tuhan memberkati.

 

Alfons Suhardi, OFM

Berita dan Artikel Lainnya