Renungan Minggu Biasa XXI

Masuk Melalui Pintu yang Sempit

Yesus berjalan menuju Yerusalem. Perjalanan-Nya ini bukanlah perjalanan seorang peziarah yang pergi ke Bait Allah untuk memenuhi kewajiban keagamaannya. Menurut Lukas, Yesus berkeliling kota dan desa untuk ‘mengajar’. Ada hal yang perlu disampaikan kepada orang-orang yang mengikuti-Nya atau yang ditemui-Nya: Allah adalah Bapa yang baik yang menawarkan keselamatan kepada semua orang. Semua diundang untuk menerima pengampunan dari-Nya. Pewartaan Yesus ini mengejutkan semua orang. Orang berdosa dipenuhi dengan sukacita mendengar Dia berbicara tentang kebaikan Allah yang tak terduga: bahkan mereka dapat berharap untuk memperoleh keselamatan. Namun, orang-orang Farisi mengkritik pewartaan Yesus ini dan juga sikap Yesus yang menerima para pemungut pajak, pelacur dan orang berdosa: dengan demikian bukankah Yesus membuka jalan yang memperlemah agama dan mengajarkan moral yang tidak dapat diterima?

Seseorang dari kerumunan menyela Yesus, untuk bertanya kepada-Nya tentang berapa banyak orang yang akan diselamatkan pada akhirnya. Akankah mereka sedikit? banyak? semua orang? hanya beberapa? Yesus tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Yang penting bukanlah mengetahui secara tepat berapa banyak yang akan diselamatkan. Yang menentukan adalah hidup dengan sikap yang jelas dan bertanggung jawab untuk menyambut keselamatan dari Allah, Bapa yang baik itu. Yesus mengingatkan mereka semua: ‘Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu’. Dengan cara ini, Yesus menegur orang-orang yang memahami pewartaannya sebagai ajakan yang melemahkan hidup keagamaan. Keselamatan bukanlah sesuatu yang diterima seseorang tanpa ada tanggung jawab. Keselamatan juga bukan hak istimewa dari beberapa orang terpilih. Tidak cukup menjadi anak-anak Abraham. Tidaklah cukup dengan mengenal Mesias, dengan mendengar dan melihat-Nya. Orang juga perlu mengikuti-Nya.

Ajakan untuk ‘masuk melalui pintu yang sempit’ dapat dibaca dengan mengingat perkataan Yesus yang lain: ‘Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat’ (Yoh 10:9). Masuk melalui pintu sempit adalah ‘mengikuti Yesus’; belajar hidup seperti Dia; memikul salib-Nya dan memercayai Bapa yang telah membangkitkan-Nya dari kematian. Dalam mengikuti-Nya, tidak semua hal adalah penting, tidak semuanya sama; yang kita perlukan menanggapi kasih Bapa dengan setia. Apa yang Yesus minta bukanlah penerapan hukum atau peraturan secara ketat, tetapi cinta radikal kepada Tuhan dan sesama. Itu sebabnya panggilan-Nya tidak lepas dari tuntutan, tetapi bukan kecemasan. Yesus Kristus adalah pintu yang selalu terbuka. Tidak ada yang bisa menutupnya, kecuali diri kita sendiri jika kita menutup diri dari pengampunan-Nya.

RP. Oki Dwihatmanto, OFM

 

Berita dan Artikel Lainnya