Renungan Minggu Biasa XVIII

Dari follower yang baik menjadi leader yang baik

Banyak orang ingin menjadi leader dan influencer tapi merasa tidak tertarik menjadi follower. Sebaliknya tidak sedikit juga, lebih suka menjadi follower dan tidak mau susah-susah menjadi leader/influencer. Padahal menurut saya, menjadi leader, influencer atau follower adalah suatu proses yang alamiah dalam perjalanan hidup dan kadang menjadi suatu urutan yang alami. Seperti kita ketahui, bahwa banyak kemampuan dasar kita, diperoleh melalui proses meniru atau mengikuti.

Yesus dalam Injil hari ini, menunjukkan pelayanan belas kasih-Nya. “Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit”(ay.14b). Para rasul yang berjalan mengikuti dan berjalan bersama Yesus, tentunya tidak asing lagi dengan tindakan-tindakan Yesus ini. Mereka sudah biasa melihat pelayanan-pelayanan Yesus. Namun pertanyaannya adalah apakah banyaknya pengalaman itu sudah menyentuh pikiran dan hati para rasul? Ternyata dalam Injil hari ini, jawabannya adalah belum. Terbukti bahwa para rasul malah meminta Yesus menyuruh orang banyak pergi karena hari sudah mulai malam (ay.15). Yesus kemudian menegur dan menyuruh para rasul,”kamu harus memberi mereka makan”(ay.16).

Dari pengalaman para rasul dalam Injil hari ini, mereka masih pada tahap menjadi viewer. Mereka belum bergerak dari viewer menjadi follower apalagi leader atau influencer. Panggilan Yesus kepada para rasul tentunya bukanlah hanya untuk menjadikan para rasul sebagai viewer.  Yesus meminta agar dari pengalaman para rasul melihat apa yang dilakukan Yesus dalam berbagai mukjizat, mereka tergerak untuk menjadi followers yang belajar dan meniru belaskasih Yesus. Followers yang mempunyai mata dan hati yang peka melihat situasi nyata dan dalam aksi nyata meniru belas kasih Leader-Nya, Yesus Kristus. Dengan demikian para rasul dibentuk untuk pada akhirnya bisa menjadi leader dan influencer yang berbelaskasih seperti Yesus, The Real Leader.

Semoga kitapun, para follower Yesus dalam terang ajaran para rasul, senantiasa melihat pada diri kita masing-masing. Dimana posisi kita dalam hubungan kita dengan Yesus? Apakah kita masih sekedar viewers, atau sudah menjadi followers yang mulai belajar dan meniru belas kasih Yesus? Semoga hidup kita selalu mengarah ke depan agar kita juga pada akhirnya bisa menjadi leader yang berbelas kasih seperti Yesus dalam keluarga, komunitas, sekolah, Gereja dan masyarakat. Tuhan Yesus memberkati.

“Aku senantisa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu atas kasih karunia Allah yang dianugerahkan-Nya kepada kamu dalam Kristus Yesus”.(1 Kor 1:4)  

 

RP. Anton Widarto,OFM

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 × one =