Renungan Minggu Biasa XVII

BERDOA ITU JANGAN EGOIS

 

     Alkisah dikisahkan, ada tiga orang laki-laki yang terdampar di sebuah pulau yang sunyi dan terpencil. Meski terdampar di sebuah pulau, namun mereka dapat bertahan hidup karena di pulau tersebut berlimpah sumber air dan makan-makanan serta buah-buahan yang dapat mereka makan, sehingga mereka dapat hidup berbulan-bulan di tempat itu. Hingga akhirnya ketiga orang ini menjadi sahabat yang baik. Setelah hampir satu tahun tinggal di pulau tersebut, ketika mereka jalan-jalan di tengah hutan, salah satu dari mereka menemukan sebuah guci yang terbuat dari emas. Kontan teringatlah mereka akan sebuah kisah yang sedang digandrungi oleh para penikmat film, yaitu film tentang Aladin. Lalu mereka pun sepakat untuk mengosok-gosok guci emas tersebut, dengan harapan dari dalam guci akan keluarlah jin yang bisa mengabulkan segala permintaan mereka.

     Awalnya mereka ragu-ragu apakah guci emas tersebut memang berisi jin yang siap mengabulkan tiga permintaan mereka. Namun ternyata benar, kisah tentang Aladin, kini benar-benar terjadi lagi. Setelah mereka menggosok-gosok guci emas tersebut, keluarlah asap putih dari dalam guci. Asap putih yang mengepul tersebut lama-lama membentuk sosok makhluk raksasa, “Ho…ho…ho…, terimakasih tuanku, Tuanku telah membebaskan aku dari dalam guci sialan ini. Kini sebagai imbalan jasa, aku akan mengabulkan tiga permintaan kalian. Karena kalian berjumlah tiga, maka masing-masing dari kalian boleh mengajukan satu permintaan. Apa pun permintaan kalian pasti akan kuturuti. Tiada yang mustahil bagi jin seperti aku ini. Lalu tampilah si A (Paijo), dan berkata, “Trimakasih Saudaraku Jin, sebenarnya aku sudah betah tinggal di pulau ini, namun aku teringat akan orang-orang yang aku cintai, yaitu akan istri dan anak-anakku. Mereka tentu akan sangat mengawatirkan aku. Belum lagi rumah, vila, dan perusahaanku pasti akan terbengkalai karena telah aku tinggalkan hampir selama satu tahun di tempat ini. Maka kalau perkataanmu itu benar, kini kabulkanlah permintaanku: yaitu kembalikan lah aku ke rumahku, sehingga aku bisa berkumpul kembali dengan orang-orang yang kurindukan!” “CLING…., dan benarlah permintaan Paijo pun dikabulkan, setelah memejamkan mata dan membuka matanya kembali kini sia berada di dalam ruangan keluarga bersama dengan isteri dan anak-anaknya, Kejadian yang telah dialaminya seolah-olah hanya lah mimpi buruk belakang. Demikian juga dengan orang kedua (katakanlah Paino namanya), Ia pun juga rindu akan sanak-saudara, serta harta bendanya di rumah, maka ia mengajukan permohonan yang sama seperti yang diajukan oleh Paijo. Dan demikianlah terjadi, secara ajaib, Paino pun kembali berkumpul bersama keluarganya. Kini tinggalah paimo seorang diri di pulau itu. Ia pun bersedih. “Ho ho ho…, mengapa kamu bersedih, apakah kamu tidak mau pulang bertemu dengan saudara-saudarimu juga?” kata Om Jin. “Aduh Om Jin, kamu tidak tahu keadaan saya. Saya ini bukan siapa-siapa di tempat asal saya saya tidak mempunyai siapa-siapa lagi: kedua orang tua saya sudah lama meninggal; jangankan menikah, pacaran pun belum pernah, sehingga saya tidak punya anak; Kakak-adik saya jahat sama saya; Teman-teman mudika saya suka mengolok-olok saya sebagai anak jomblo yang nggak laku-laku; Aku tidak punya harta kekayaan, hidupku sehari-hari dikejar-kejar oleh rentenir karena aku punya hutang di mana-mana; Aku sudah menemukan kedamaian di tempat ini; Bahkan di tempat ini aku telah menemukan 2 sahabat yang baik, baru saja ditinggal Paijo dan Paino, aku merasa sangat kehilangan mereka. Aku sangat rindu dengan mereka. Aku kesepian di sini. Och, Om Jin, tolong lah kabulkan satu permintaanku, kembalikan kedua sahabatku, Paijo dan Paino kepadaku. Aku sangar rindu mereka. “Ho…ho…ho…, baiklah aku kabulkan permintaanmu, dan selamat tinggal tuanku…!”… Cling…cling…, akhirnya kembalilah kedua sahabat ini berkumpul lagi di pulau terpencil ini.

      Saudara-saudara, dalam Injil hari ini Yesus berseru kepada kita, “Mintalah, maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat”. Pertanyaannya, apakah dalam doa-doamu selama ini hanya berisi dengan permintaan-permintaan demi kepentingan dirimu sendiri, keluargamu, atau sahabat dan handai taulanmu? Apakah kamu pun juga peduli akan kebutuhan orang lain, bahkan mereka yang membencimu? Dalah Bacaan Pertama (Kej. 18:20-33), Musa berdoa, berdialog dengan Tuhan bukan meminta untuk kepentingannya sendiri, melainkan untuk kota Sodom dan Gomora, supaya terhindar dari malapetaka dan kehancuran. Paulus dalam bacaan kedua melalui suratnya kepada jemaat di Kolose, mengingatkan kepada kita bahwa Kristus yang adalah Allah yang datang ke dunia ini bukan untuk diri-Nya sendiri, melainkan untuk keselamatan kita. Berkat pembatisan yang telah kita terima, kita pun telah dikuburkan dan dibangkitkan bersama Kristus, diampuni dosa-dosa dan pelanggaran kita, supaya kita hidup bukan sebagi orang yang berhutang, tetapi sebagai orang yang merdeka dan selamat. Semoga kita pun tidak hidup hanya bagi diri kita sendiri. Semoga kita tidak hanya berdoa memohon kepentingan diri sendiri, melainkan juga berdoa bagi mereka yang bukan apa-apa kita, bahkan juga berdoa bagi mereka yang menganiaya serta memusuhi kita, sebab Allah sendiri bersabda, “Dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni kesalahan kami”, dan lagi Ia juga pernah bersabda, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat. 5:44) Amin.

 

Novisiat Transitus, Depok, 26 Juli 2019

RP. Yustinus Damai Wasono, OFM

 

Berita dan Artikel Lainnya