Renungan Minggu Biasa XV

RENUNGAN Minggu Biasa XV TAHUN B
Mengebaskan Debu Kegagalan

Menggantungkan masalah yang membebani hidup kita

pada “Pohon masalah”

Am 7:12-15; Ef 1:3-14 (10); Mrk 6:7-13

Pada sore hari, seorang dosen, dengan mobilnya, mengantar montir yang telah memperbaiki mobilnya ke rumahnya. Sesampai di rumah montir itu mengundangnya masuk, untuk berkenalan dengan keluarganya. Sebelum masuk rumah, dosen melihat si montir itu menjamah daun cabang pohon yang berdiri di depan rumahnya. Pintu pun terbuka, dan anak-anak dengan riang gembira menyambutnya, demikian juga isterinya. Dia masuk dengan muka cerah bersama si dosen, tamunya.

Sewaktu berpamitan pulang dosen bertanya, mengapa dia tadi menjamah pucuk dedaunan pohon itu?

“O, Pohon itu adalah ‘pohon masalah’ saya. Saya tahu bahwa dalam kerja saya, saya tidak dapat terhindar dari macam-macam masalah. Tetapi satu hal pasti: masalah-masalah itu bukanlah milik anak-anak dan isteri saya. Karena itu setiap sore saya menggantungkan semua masalah-masalah kerjaku pada pohon itu, dan pagi berikutnya saya ambil lagi masalah-masalah itu. Yang lucu ialah bahwa setiap pagi, ketika saya mengambilnya kembali dari pohon itu, jumlah masalah itu masih tetap sama dengan yang kemarin.”

Saudara-saudara terkasih

Kita perlu mempunyai sebatang ‘pohon masalah’

Masalah dan kesulitan hidup seringkali banyak, bisa menumpuk, membebani, bahkan melindas hidup kita. Stress!

Yesus memberi nasehat kepada para Rasul yang diutus berdua-dua, bila ada masalah, bila ada desa yang menolak mereka. “Kebaskan debu masalah itu, dan keluar, pergi ke desa lain yang baru, mulai lagi dengan semangat dan hari yang baru.”

Kita pun perlu sebatang ‘pohon masalah’, seperti para Rasul itu. Mengapa?

Janganlah terlalu lama mendekam dalam masalah dan kegagalan yang terjadi, bahkan disimpan, bahkan membiarkannya menghapus semangat dan kegembiraan dari hidup kita.

Mengapa masalah dan kegagalan itu kita biarkan menggelantungi hidup kita? Gantungkanlah semua itu pada ‘pohon masalah’ kita, sekurang-kurangnya untuk sementara.

Bagaimana kalau kita tidak punya ‘pohon masalah’? Semua debu masalah dan kegagalan melekat pada kaki kita, menggelayut, semakin memberati, mengganggu langkah kita. Kita bisa saja menjadi putus asa. Menyerah. Tidak bisa atau tidak berani lagi pergi ke “desa yang baru”, ke proyek kerja yang baru.

Yesus tidak menginginkan para Rasul, juga tidak menghendaki kita, menjadi orang yang gampang menyerah, putus asa, terpuruk dalam kegagalan atau digelayuti oleh macam-macam masalah.

Yesus ingin kita menjadi orang yang mau dan berani mulai lagi dengan sesuatu yang baru, pada hari yang baru. Hari yang baru dengan kesempatan dan tantangan yang baru.

Saudara-saudara terkasih.

Sebagai umat Allah, marilah kita sekarang bersykur kepada Tuhan, karena telah memberikan jalan keluar bagi kegagalan, kelemahan dan ketidak sempurnaan kita. Orang beriman yang baik bukanlah mereka yang sempurna dan tidak pernah membuat kesalahan.

Orang beriman yang baik adalah orang-orang yang menyadari kesalahan-kesalahan mereka, mengakuinya, menggelutinya, dan bisa meninggalkan semua itu dan bergerak terus ke depan, mulai lagi setiap pagi dengan suatu harapan yang baru.

Tuhan, dalam kasih sayangnya, telah menyediakan bagi kita sebuah batang ‘pohon masalah’, yakni Yesus Kristus sendiri. Bukankah Yesus  sendiri telah berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Mat. 11:28). Petrus dalam suratnya pun berkata: “Dia sendiri telah memikul dosa-dosa kita dalam tubuh-Nya pada pohon salib” (1 Ptr 2:24).

Melalui Sakramen-sakramen, khususnya Sakramen Tobat, kita dapat mendekati dan memasuki pohon kehidupan ini. Kita dapat juga memanfaatkannya melalui doa-doa kita. Rasul Petrus berkata: “Buanglah semua kegelisahan hatimu pada-Nya, karena Dia memperhatikan kamu.” (1 Ptr 5:7).

Yesus adalah “pohon masalah” kita. Datanglah kepada-Nya tanpa takut atau ragu. Dalam masa pandemi Covid19 yang sedang menggelayuti semua orang ini, siapakah yang tidak terbebani masalah? Sudahkan kita menggantungkan masalah-masalah itu pada Yesus Kristus dan bersama dengan Dia tetap maju teguh dalam iman? Ataukah kita jalan terseok-seok, malahan sambil mengeluh kanan kiri, karena kita mau menanggungnya sendiri, lupa akan Yesus Kristus yang senantiasa mengulurkan tangan-Nya untuk membantu kita?

Tuhan memberkati.


RP. Alfons S. Suhardi, OFM

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

17 + four =