Renungan Minggu Biasa XIX

“Tuhan, tolonglah aku”

 

Dinamika yang dialami Petrus selama mengikuti Yesus sangat menarik. Petrus dipilih oleh Yesus untuk menjadi pengikut-Nya bukan pertama-tama karena kualitas pribadinya yang unggul, bukan pertama-tama karena imannya yang begitu kokoh kuat bak batu karang. Dalam Injil hari ini, kita melihat bagaimana imannya goyah karena ketakutan.

Pada awalnya, Petrus mengungkapkan imannya dengan gagah berani, “Tuhan, jika benar Tuhan sendiri, suruhlah aku datang pada-Mu dengan berjalan di atas air”. Dan benar, setelah Yesus menjawab, “datanglah”, di tengah danau yang bergelombang karena angin sakal, ia melakukannya dengan percaya diri. Ia turun dari perahu dan berjalan di atas air menuju Yesus. Kita tahu apa yang terjadi kemudian. Ya, Petrus takut dan mulai tenggelam. Untunglah Yesus mengulurkan tangan-Nya dan menyelamatkan Petrus.

Kisah Petrus ini menarik dan menjadi dinamika hidup beriman kita juga. Kita menjawab undangan Yesus untuk “datanglah” dengan penuh semangat, dengan keyakinan yang begitu kuat yang bahkan terkadang melampaui rasionalitas. Tetapi tak jarang kemudian kita malah berada di tengah situasi yang menakutkan, yang membuat kita mulai tenggelam dan yang kemudian membuat kita berteriak mencari bantuan, “Tuhan, tolonglah aku”.

Iman bukanlah sesuatu yang siap jadi, yang dapat kita terima sekali untuk selamanya. Ini merupakan sebuah kisah hidup yang bisa berkembang atau malah berkurang. Ini tergantung dari sikap percaya diri kita yang berlebihan atau penyerahan diri secara total kepada Dia yang mengulurkan tangan-Nya kepada kita. Janganlah patah semangat kalau Yesus menegur kita, “orang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” karena terkadang kita terlalu percaya diri dan lupa menyerahkan diri kepada-Nya. Ketika cobaan dan goncangan hidup datang, kita menjadi ketakutan. Jangan sampai kita dikuasai oleh ketakutan dan lupa berserah diri kepada-Nya. Jangan ragu untuk berseru, “Tuhan, tolonglah aku”.

(Renungan ini merupakan modifikasi dari renungan saya yang diterbitkan secara online oleh LBI pada Selasa, 3 Agustus 2020)

 

RP. Oki Dwihatmanto, OFM

 

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

9 − six =