Renungan Minggu Biasa XIII

Mengikuti Yesus Kristus harus total

1Raj 19:16b. 19-21; Gal 5:1.13-18; Luk 9:51-62

Zaman dahulu, ada seorang penjaga mercu suar, dia diberi jatah minyak persis cukup untuk 30 hari. Baru kemudian kapal datang lagi untuk mengantar jatah yang baru untuk bulan berikutnya. Selama bulan itu datang orang yang sangat mendesak minta bantuan. Tidak sampai hati dia memberi bantuan beberapa liter. Beberapa kali, orang lain lagi datang dengan keperluan yang serupa, dan diberi. Pada hari ke 29 minyak habis. Malam ke 30, gelap, dan karenanya ada sebuah kapal yang menabrak pulau karang itu, tenggelam di gelap gulita, 150 orang penumpangnya mati semua. Dia dihukum, dipecat. Alasan sosial tidak diterima. Tugasnya adalah menjaga supaya lampu mercu suar itu tetap menyala demi keselamatan kapal-kapal yang berlayar di sekitar batu karang itu.

Saudara-saudara terkasih, pencobaan atau godaan biasanya dimengerti sebagai pilihan antara baik dan buruk. Menghadapi hal ini, orang harus memilih yang baik dan menolak yang buruk. Tetapi dalam hidup kita seringkali kita menghadapi pilihan yang lebih sulit, karena kita dihadapkan pada dua hal yang keduanya adalah baik. Seperti contoh di atas. Menaati peraturan demi keselamatan kapal-kapal, atau menolong orang yang berkebutuhan. Dalam Injil hari ini, diungkapkan 4 (empat) peristiwa:

  1. Orang Samaria: sebenarnya cukup menaruh simpati pada Yesus dan para muridnya, tetapi begitu tahu mereka akan pergi ke Yerusalem, maka rasa patriotisme Samaria muncul dan mengalahkan simpati pada Yesus dan para murid-Nya: mereka menolak memberikan pertolongan pada Yesus. Patriotisme mereka menutup mata dan hati mereka terhadap nilai rohani yang lebih unggul.
  2. Seseorang berkata: “Saya mau mengikuti Engkau ke mana pun Engkau pergi”. Tetapi Yesus menjawab “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang. Tetapi Anak Manusia tidak mempuyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” Mengapa Yesus berkata demikian? Mungkin karena orang itu dilihat-Nya mau mengikuti-Nya hanya mau mencari fasilitas yang lebih baik. Memang tidaklah keliru, bahkan baik bila orang ingin mencita-citakan fasilitas atau kekayaan yang lebih baik, tapi kalau hal itu menghalangi orang untuk mengikuti Tuhan dengan segenap hati, maka ada yang keliru di situ.
  3. Yang ke tiga, ada orang yang mau menguburkan dulu bapa dan ibunya, baru kemudian dia mau mengikuti Yesus (waktu itu bapa dan ibunya masih hidup!). Menghormati orang tua memang merupakan perintah Allah. Orang ini mempunyai tingkat moralitas yang tidak rendah. Tetapi bila hal itu dapat menghalangi orang untuk mengikut Yesus yang terus menerus bergerak dari tempat yang satu ke tempat yang lain untuk mewartakan Injil. Kapan orang tuanya meninggal juga tidak ada yang tahu.
  4. Akhirnya ada pemuda yang mau pamitan dahulu pada orang tuanya, baru kembali. Orang ini memiliki kepekaan sosial dan kekeluargaan (mau meniru nabi Elisa pada bacaan pertama tadi), tetapi dalam mengikuti Yesus mewartakan Kerajaan Allah, hal itu harus disingkirkan, karena akan menjadi penghalang, antara lain, kalau dia kembali sesudah pamitan, dia tidak tahu lagi di mana Yesus yang terus menerus bergerak itu. “Yang meletakkan tangannya pada bajak dan menengok ke belakang tidak layak bagi kerajaan surga”

Saudara-saudara terkasih, dari beberapa ceritera di atas itu, dapat disimpulkan bahwa untuk mengikuti Yesus orang harus mengambil sikap tegas, total, tidak setengah-setengah. Harus konsisten, tidak menengok kanan kiri atau malahan melongok ke belakang, apalagi mengubah arah. Sikap seperti ini dikatakan oleh Yesus “Tidak layak untuk Kerajaan Surga”. Itu memang tidak mudah, perlu bahkan sangat perlu perjuangan yang seringkali tidak ringan. Kalau gagal? Tidak usah khawatir, kita bangkit kembali dan mencoba berjuang lagi. Tuhan juga memberikan pertolongan dengan macam-macam sakramen, khususna Ekaristi dan Pengampunan. Santa Theresia dari Kalkuta pernah berkata: “Tuhan tidak menghitung kesuksesan kita, tetapi perjuangan kita untuk bangkit kembal bila kita gagal dan terjatuh. Itulah yang diperhitungkan Tuhan.”

Selamat berjuang dalam nama Tuhan.

 

RP. Alfons S. Suhardi, OFM

 

Berita dan Artikel Lainnya