Renungan Minggu Biasa X Tahun 2018

Kenangan akan seseorang selalu menyangkut dua hal yaitu: keunggulannya dan juga kerapuhannya. Bacaan pertama dari Minggu biasa ke sepuluh ini menampilkan sosok Adam dan Hawa nenek moyang kaum beriman kristiani, kakek dan nenek kita semua yang aspek kerapuhannya mau diteropong. Dalam bacaan itu dikisahkan bagaimana Adam dan Hawa diperdaya oleh Ular sehingga mereka makan buah yang sudah diwanti-wanti oleh Allah sendiri bahwa mereka boleh makan semua yang ada di taman Eden tetapi tentang buah kehidupan yang ada di tengah-tengah taman itu tidak boleh mereka makan buahnya.

Nenek moyang kita ini percaya kepada berita palsu atau hoax sang Ular karena Ular dengan licik memelintir kata-kata Allah sendiri bahwa mereka dilarang makan buah pohon di tengah taman itu agar mereka tidak akan menjadi sama dengan Allah. Terprovokasi oleh kata-kata Ular inilah manusia pertama itu jatuh ke dalam dosa karena makan buah pohon di tengah taman Eden yang dilarang oleh Allah untuk mereka makan. Demikianlah jatuhnya Adam dan Hawa ke dalam dosa sebagai dampak dari berita palsu. Bagi kita umat beriman kristiani berita palsu yang dialami oleh manusia pertama itu merupakan berita palsu yang paling: asali, alkitabiah dan permanen. Mengapa? Dalam sejarah kekristenan berita palsu yang dialami Adam dan Hawa baru pertama kali terjadi. Bersifat alkitabiah karena berita palsu itu dikisahkan dalam kitab suci umat beriman kristiani. Permanenlah sifatnya berita palsu itu karena jatuhnya Adam dan Hawa ke dalam dosa itu mengenai semua keturunannya.

Dalam bacaan kedua Rasul Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus menegaskan betapa pentingnya iman akan Allah. Iman itu memberikan visi dan mengarahkan mengapa saya atau seseorang harus melakukan ini dan bukan itu. Santo Paulus berkata, Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”. Maka kami pun juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata. Karena kami tahu, bahwa Allah yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus”. Menurut Paulus berkat iman akan Allah kita manusia akan diberi kasih karunia/rahmat dan mumungkinkan kita untuk mengucapkan syukur kepada Allah. Akhirnya iman itu memungkinkan kita untuk senantiasa mengandalkan Allah dengan selalu berharap kepada-Nya. Bahwa kehidupan yang ada sekarang di dunia ini hanya bersifat sementara, sesuatu yang bersifat abadi dan kekal akan dianugerhkan kepada orang beriman oleh Allah. “Kami tahu, bahwa jika kemah kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu kediaman di surga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang bukan buatan tangan manusia”. Marilah kita beriman dan berpengharapan karena keduanya memungkinkan dan menjamin keselamatan kita.

Dalam bacaan Injil dikisahkan beberapa hal yang berkaitan dengan kehidupan Yesus dan pelayanan-Nya. Karena begitu sibuk dengan tugas pelayanan-Nya Yesus tidak sempat mengurus diri-Nya. Bahkan makan sebagai salah satu sarana untuk mendapatkan kekuatan dan tenaga baru tidak Ia gubris. Yesus menyemplungkan diri-Nya dalam tugas pelayanan saja. Karena itu keluarga-Nya mau membawa Dia pulang karena dianggap oleh mereka sebagai seorang yang “tidak waras lagi”. Aspek berikutnya yang dinarasikan adalah penilaian para ahli Taurat yang memvonis Yesus sebagai kerasukan Beelzebul/setan. Yesus dengan piawai melalui perumpamaan menggambarkan bahwa kekuatan yang ada pada-Nya bukan berasal usul pada kekuatan jahat atau setan melainkan bersumber pada  Roh Kudus.  Yesus mampu mengusir setan dan menyemplungkan diri-Nya dalam tugas pelayanan karena energi/tenaga yang ada pada-Nya berasal usul pada Roh Kudus Allah yang tidak lain adalah Roh Yesus Kristus yang telah bangkit.

Aspek lain yang juga mendapat perhatian Yesus dalam perikop Injil hari ini adalah soal tindakkan Yesus yang mengambil jarak dengan keluarga. Ketika orang-orang memberitau Dia akan kehadiran anggota keluarga-Nya dan mau berjumpa dengan diri-Nya, Yesus dengan tegas menyatakan bahwa hubungan kekeluargaan harus diperluas. Hubungan kekeluargaan yang berbasis biologis  hendaknya dibarengi dengan hubungan rohaniah. Kerena itu Yesus menegaskan bahwa saudara-saudari-Nya adalah mereka yang mendengarkan Dia dan melakukan kehendak Allah. Inilah ukuran atau patokan yang membuat seseorang itu dapat disebut sebagai saudara-saudari atau keluarga.

Saudara/i yang dikasihi dan mengasihi Tuhan

Berita palsu hanya akan menjerumuskan kita ke dalam dosa. Hal itu menjadi nyata dalam kehidupan adam dan Hawa. Bacaan kedua menawarkan jalan yang kita tempuh supaya tidak menjadi korban dari berita palsu yaitu iman akan Allah. Melawan kekuatan kejahatan hanya akan tercapai dengan mengandalkan Roh Yesus Kristus yakni Roh Kudus. Roh Kuduslah yang senantiasa menuntun kita sehingga kita bebas dari ti[u daya dan kekuatan kejahatan menjadi inti dari Injil Minggu ini.

 

Selamat berjuang, Tuhan memberkati.

Bertholomeus Jandu OFM

Pastoran St Paulus Depok, 8 Juni 2018

Berita dan Artikel Lainnya