Renungan Minggu Biasa V

“Yesus menyembuhkan mertua Simon

Saudara-saudara yang terkasih,

Injil pada hari Minggu V tahun B ini diambil dari Mrk 1:29—39. Saya mengajak Anda merenungkan bagian pertamanya saja, yakni Yesus menyembuhkan mertua perempuan Simon Petrus yang sedang sakit. Markus menceriterakannya dengan sangat sederhana: “Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka.” Apa maknanya?

Orang yang terkena sakit, betapapun ringannya penyakit itu, tetap terhalang untuk berbuat seperti biasanya. Apalagi kalau sakit itu lebih serius. Mertua Petrus hanya dikatakan “demam”, tetapi demam itu bisa mengindikasikan berbagai penyakit, dari yang ringan sampai yang berat. Apalagi zaman pandemi Corona ini, kalau terkena demam harus hati-hati dan waspada, harus segera konsultasi dengan tenaga medis, khususnya dokter. Karena demamnya itu mertua Petrus harus berbaring, artinya dia tidak bisa berfungsi sebagai manusia, menjadi seorang ibu rumah tangga, kalau zaman sekarang bahkan harus diisolasi (mandiri) tidak boleh bergaul dengan orang lain, diasingkan dari orang lain. Dia hidup sendirian. Manusia yang harus hidup sendirian, harkat kemanusiaannya sangat dikurangi, diturunkan. Ibu mertua Petrus tidak bisa memasak untuk suami, anak dan cucunya, tidak bisa menyapu dan membersihkan rumahnya, tidak bisa menyambut tamu – kali ini Yesus dan murid-murid-Nya termasuk Simon menantunya sendiri – O, betapa bangga dia, bisa berceritera kepada tetangga-tetangganya bahwa menantunya menjadi murid orang tersohor, yang pandai mengajar, pinter menyembuhkan orang-orang sakit, bahkan mengusir setan-setan. Dengan demikian bila seseorang disembuhkan dari penyakitnya, itu berarti bahwa orang itu dipulihkan kembali harkatnya sebagai manusia: bisa berbuat sesuatu tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang lain; bisa melayani. Dalam Injil tadi pun dikakatan: “Kemudian perempuan itu melayani mereka”. Harkat kemanusiaannya utuh kembali.

Saudara-saudaraku yang terkasih. Setiap orang kukira pernah sakit. Mungkin malah dirawat di rumah sakit, bahkan di ruang VVIP. Mewah. Kalau ditanya “mau sakit lagi dan dirawat di rumah sakit dalam kamar VVIP?” Aku yakin tak seorang pun yang suka kembali sakit. Jenis penyakit apa pun, apalagi yang sampai membuat orang tidak bisa berbuat banyak, selalu menurunkan derajat kemanusiaannya. Orang merasa diri tidak berguna, tidak berharga, hanya menjadi beban bagi orang lain. Kendati orang lain itu dengan penuh kasih sayang melayaninya. Karena itu, khususnya dalam Perjanjian Lama dan zaman Yesus, penyakit itu dihayati sebagai akibat kutukan orang berdosa – dosa sendiri atau dosa orang tua, dan nenek moyangnya – penjelmaan roh jahat, setan. Karena itu Yesus banyak kali menyembuhkan orang yang menderita berbagai penyakit. Dan hal ini tiaklah sekedar harus kita maknai dari segi medis, tetapi juga dari segi keselamatan jiwa manusia. Yesus memulihkan harkat dan martabat kemanusiaan si sakit itu, dari orang yang merasa dan memang diperlakukan oleh orang lain sebagai tak berguna, menjadi berguna kembali, manusia yang utuh lengkap kembali.

Saudara-saudariku yang terkasih,

Kalau hal itu kita terapkan pada para penderita penyakit yang sekarang menghantui setiap orang di seluruh dunia: Covid 19, maka halnya lebih mengerikan lagi. Virus ini sungguh tidak pandang bulu, siapa saja, asal itu manusia, bisa kena. Dan kalau kena, sungguh harus disendirikan, diisolasi, kalau dikatakan secara kasar, “diasingkan atau dibuang dari masyarakt ramai”. Betapa si Covid itu meruntuhkan dan mendegradasikan harkat martabat manusia sampai ke dasar-dasarnya.

Katerna itu marilah kita tak henti-hentinya mendoakan mereka yang kena virus Corona ini bisa sembuh. Dan tentu para tenaga medis yang langsung terpapar dengan Virus ini, supaya tetap sehat; dan kita yang masih sehat, sambil berdoa, tetap menjaga diri, jangan menganggap sepele si Corona ini, menaati protokol kesehatan dengan sebaik-baiknya. Ingat kalau saya kena, maka seluruh keluargaku pun tinggal sedikit lagi akan terkena juga.

Semoga Tuhan Yesus, diantar oleh Simon Petrus mengunjungi mereka dan memegang tangannya sehingga sembuh dan bisa melayani lagi.

RP. Alfons S. Suhardi, OFM

 

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ten − 1 =