Renungan Minggu Biasa II

MURID-MURID YESUS YANG PERTAMA

Yesus diutus oleh Allah ke dunia ini untuk mengeksekusi rencana keselamatan Allah bagi manusia. Dan Yesus sadar betul bahwa tidak untuk selamanya Ia berada di dunia ini. Maka supaya rencana keselamatan Allah itu masih tetap berlangsung kendati Ia akan kembali ke Rumah Bapa-Nya, Yesus membutuhkan keterlibatan orang-orang/manusia yang dengan rela menyediakan diri untuk bekerja sama dengan-Nya untuk melanjutkan karya keselamatan itu. Karena itu, beberapa orang dipanggil oleh Yesus untuk mengikuti Dia.

Panggilan para murid Yesus yang pertama terjadi dalam situasi yang amat unik. Dikatakan unik karena bukan Yesus yang secara langsung memanggil murid-murid-Nya, melainkan diawali oleh inisiatif Yohanes Pembaptis yang memperkenalkan Yesus sebagai Anak Domba Allah kepada dua muridnya dan kedua murid ini lalu mengikuti Yesus. Kepada kedua murid itu Yesus memberikan pertanyaan, “Apakah yang kamu cari?”. Pertanyaan ini amat mendasar, mengingat kecenderungan manusia pada umumnya yang senantiasa mencari popularitas, kekuasaan, kekayaan, kedudukan, posisi/pangkat.Untunglah pertanyaan Yesus ini tidak menjebak kedua murid Yohanes Pembaptis itu. Mereka masih bisa menjawab pertanyaan Yesus itu dengan bijaksana. Pertanyaan Yesus ini dijawab oleh kedua murid itu dalam bentuk pertanyaaan pula, yaitu: Rabi/Guru, di manakah Engkau tinggal? Yesus menjawab pertanyaan kedua murid itu dengan berkata, Marilah dan kamu akan melihatnya”.

Yesus mempersilahkan kedua murid itu untuk datang ke tempat di mana Yesus berada/tinggal. Kedua murid itu pun mengamini undangan Yesus itu. Mereka pergi ke tempat di mana Yesus berada dan tinggal bersama-sama dengan Yesus. Di sini Yesus membiarkan kedua murid untuk melihat, menyaksikan dan memahami Yesus dari perspektif mereka sendiri bukan berdasarkan informasi yang mereka dengar/terima dari orang lain mengenai Yesus. Siapa Yesus bagi kedua murid itu merupakan hasil dari perjumpaan dan kebersamaan mereka dengan Yesus sendiri bukan hanya mengandalkan informasi atau pemberitahuan Yohanes Pembaptis atau orang lainnya.

Para saudara/i yang dikasihi Tuhan

Ketika kedua murid itu sesaat lamanya tinggal bersama-sama dengan Yesus dan dampaknya amat-amat positif, sebab mereka bisa merumuskan tentang indentitas atau jati diri Yesus yang tinggal bersama-sama dengan mereka. Bahwa Yesus bagi mereka adalah Mesias yang berarti Kristus. Andreas sebagai salah satu dari kedua murid itu akhirnya memperkenalkan Yesus kepada  saudaranya, yaitu: Simon.   Ketika Yesus memandang Simon, Dia berkata: “Engkau Simon anak Yohanes engkau akan dinamakan Kefas yang berarti: Petrus. Nama ini sebagaimana kita ketahui mengisyaratkan akan peran Petrus di kemudian hari sebagai pemimpin kelompok dua belas di samping perannya sebagai pemimpin Gereja Yesus Kristus.

Andreas dan temannya mengenal Yesus dan menjadi murid-Nya karena diperkenalkan oleh gurunya, yaitu: Yohanes Pembaptis. Petrus mengenal Yesus karena difasilitasi oleh saudaranya Andreas. Yohanes bersaksi tentang Yesus kepada Andreas dan temannya dan Andreas pada gilirannya memberikan kesaksian tentang Yesus kepada Petrus. Pola ini sangat mirip dengan kisah panggilan Samuel sebagaimana dikisahkan dalam bacaan pertama Minggu biasa II tahun B ini. Samuel bisa mengenal Allah yang memanggilnya karena Eli ayahnya memperkenalkan Allah kepada Samuel sehingga Samuel dengan mantap menjawab kepada Tuhan yang memanggilnya dengan berkata, “Bersabdalah ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan”.

Para saudara/i yang terkasih

Saya kira pengalaman murid-murid Yesus yang pertama hampir mirip dengan pengalaman kita juga. Kita mengenal Kristus karena jasa orang lain atau keluarga, sahabat, para guru, para katekis dan terutama orangtua kita masing-masing. Karena kesaksian merekalah kita bisa mengenal Kristus yang menebus dan menyelamatkan kita. Karena itu kita pun punya tanggungjawab untuk memberikan kesaksian tentang Kristus kepada orang lain. Kita juga dipanggil untuk menarik orang lain agar datang kepada Yesus dan mengenal Dia sebagai Penebus, Penyelamat dan Anak Domba Allah yang senantiasa memberikan diri-Nya untuk kita semua. Selamat berjuang, Tuhan memberkati.

 

RP. Bertolomeus Jandu, OFM

 

 

 

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eighteen − 6 =