Renungan Minggu Adven IV

Minggu Adven IV

 Luk 1:2638

 

Hari ini, kita sudah memasuki Minggu Adven IV, Minggu terakhir bagi kita untuk persiapan Natal. Pada persiapan akhir menjelang perayaan Natal ini, kita diajak untuk belajar dari tokoh iman: Maria.

Injil hari ini ditutup dengan kalimat yang sangat bagus, yang menggambarkan suasana hati Maria:”Lalu malaikat pergi meninggalkan dia”. Maria ditinggalkan sendirian sejak itu Maria harus mencari sendirian tidak ada lagi penjelasan-penjelasan khusus yang dapat diperoleh dari yang lain. Dalam suasana batin yang demikian danapat menerangkan ngapa ia pergi mengunjungi Elisabeth. Maria, setelah menerima kadatangan Malaikat Gabriel bergegas mengunjungi Elisabet saudarananya (Luk 1:39). Jarak yang ditempuh paling sedikit 150 km di daerah perbukitan. Bisa dibayangkan, seorang gadis harus naik-turun perbukitan menempuh jarak sejauh itu, seorang diri lagi! Tentu, ada semangat yang luar biasa dalam diri Maria. Dari manakah datangnya semangat itu?

Tentu saja dari kunjungan Malaikat Gabriel yang membawa kabar gembira baginya. Baru saja, ia menerima kasih karunia Allah (Luk 1:28). Berkat kuasa Allah dan karunia Roh Kudus yang turun atasnya, ia dipilih Allah untuk mengandung dan melahirkan Yesus, Sang Anak Allah Yang Mahatinggi (Luk 1:30-35). Mungkin, ia tidak sepenuhnya memahami kehendak Allah atas dirinya itu. Namun, keterbukaan dan kepasrahannya untuk melaksanakan kehendak Allah menjadikan ia mempunyai semangat baru. Apa yang dipahami oleh Bunda Maria adalah bahwa dirinya dicintai oleh Allah. Dengan salam yang diterimanya dari malaikat Gabriel, dia percya dirinya dipilih karena dicintai. Dan karena dicintai maka Tuhan menyertai.

Ia telah menerima warta gembira, maka dengan penuh semangat hendak berbagi kegembiraan kepada Elisabet, saudaranya. Dari sini, kita belajar bahwa warta gembira, berkat dan kasih karunia yang kita terima, tidak untuk kita simpan bagi diri kita sendiri tetapi untuk kita bagikan kepada sesama. Maka, marilah kita saling berbagi berkat, kasih karunia dan sukacita.

Untuk berbagi berkat, kasih karunia dan sukacita, Bunda Maria harus mau berlelah-lelah, mengorbankan waktu dan tenaga, juga siap menghadapi resiko di perjalanan. Jarak 150 km kemungkinan hanya ditempuh dengan jalan kaki. Kalau kecepatan rata-rata 5 km/jam, paling tidak memakan waktu 30 jam (sehari semalam lebih). Pasti melelahkan dan berisiko, apalagi pada malam hari. Namun, ia berani menghadapi semua itu karena ia percaya penuh bahwa Tuhan selalu menyertainya (Luk 1:28). Maka, dalam berbagi berkat, kasih karunia dan sukacita, hendaknya kita juga berani berkorban, berani berjerih lelah, dan berani menghadapi risiko karena yakin bahwa Tuhan selalu menyertai kita. Tuhan mencintai kita.

 

RP. Agustinus Anton Widarto, OFM

 

 

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 × 4 =