Renungan Hari Raya Tritunggal Mahakudus

       Pepatah Latin berkata “inteligo ut credam est” yang artinya “saya mengerti supaya percaya”. Pepatah ini hendak menyampaikan pesan bahwa segala upaya untuk  mencari pengertian hendaknya menghantarkan orang kepada kepercayaan. Demikian pula halnya dengan usaha kita untuk mengerti Allah Tritunggal Mahakudus. Kita mengakui kebenaran iman bahwa bahwa Allah kita adalah satu. “Akulah Tuhan Allahmu…. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku”, demikian penegasan hukum pertama dari 10 perintah Allah (Kel. 20: 1-2). Namun, dalam Allah yang satu yang kita imani itu terdapat tiga pribadi, yakni Bapa, Putera dan Roh Kudus. Tidak semua orang dapat menerima penjelasan ini. Bagi mereka yang tidak percaya, sebaik apa pun kita menjelaskannya, mereka tetap tidak akan percaya. Sebaliknya bagi kita yang percaya, sekali pun ini samar-samar bahkan misterius, kita tetap percaya karena kita mengimaninya. Kita hanya berkata “biarlah misteri tetap menjadi misteri”. Artinya, biarlah kebenaran tentang Allah Tritunggal tetap tinggal tertutup karena memang tak dapat dijelaskan dengan tuntas  dengan akal. Misteri ini hanya dapat dijelaskan dengan iman.
        Mengimani Allah Tritunggal ibarat melaksanakan kenormalan baru di masa covid 19. Penyebab covid 19 tidak seorang pun yang tahu dengan pasti. Orang hanya menduga duga saja.. Walaupun begitu, kita sudah diberi suatu batasan dalam pergaulan. Batasan itu dimaksudkan agar kita tidak terjangkit, lalu sakit dan mati. Batasan prilaku dalam relasi juga bertujuan agar kita selamat. Jadi, walau kita tidak tahu penyebabnya, kita mesti melaksanakan kenormalan baru.. supaya kita selamat.
         Inti pesan dari kenormalan baru dalam mengimani Allah Tritunggal dapat kita temukan dalam bacaan hari ini. Kitab Keluaran dan Injil Yohanes menyajikan bagaimana relasi yang terjalin antara Bapa, Putera dan Roh Kudus. Relasi ketiga pribadi itu terjalin dalam kasih sehingga terbentuklah kesatuan hidup Allah Tritunggal yang tak terpisahkan satu sama lain. Ada kesalingan yang menopang dan bersifat melanjutkan di sana. Allah Bapa ..”yang adalah pengasih dan penyayang…”mengutus Putera-Nya yang tunggal ke dunia, “bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyelamatkannya”. Pola hidup seperti inilah yang mesti kita wujudkan dalam hidup sehari-hari. Suatu pola hidup dalam kenormalan baru yang  menumbuhkan kasih dan kesatuan.
          Menghayati iman akan Allah Tritunggal secara baru itu menjadi tuntutan  mendesak saat ini. Kita menyaksikan kehidupan bersama yang berbeda watak, agama, suku, ras.  Keberdaan itu seringkali menjadi tidak indah manakala kebencian dan semangat intoleran bertumbuh dalam hidup bersama. Relasi kasih tidak lagi menjadi kenormalan baru yang mendekatkan satu dengan yang lain.
        Karena itu, hal terpenting yang dapat kita lakukan dalam merayakan  isteri iman kita adalah mengasihi, bukannya mengetahui. Tidak ada gunanya kita mengetahui rahasia Allah, tetapi hidup kita tidak mencerminkan ajaran Allah itu. Kita tidak perlu terlalu berpikir tentang Allah, tetapi mencintai Dia dan melakukan perintah-Nya. Kita juga tidak perlu terlalu banyak bicara tentang Allah, tapi banyak berbicara dengan Allah. Sebab seberapa pun dalamnya pengetahuan kita tentang Allah tidak akan menambah kemuliaan-Nya. Tuhan tidak dimuliakan hanya karena kita tahu banyak tentang Dia. Sebaliknya, Tuhan dimuliakan bila kita dapat melakukan perbuatan-perbuatan kasih atas nama Tuhan

 

RP. Ignas Wagut, OFM

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sixteen − six =