Renungan Hari Minggu Biasa XVII Tahun B

Saudara/saudari yang dikasihi dan mengasihi Tuhan

Setiap tokoh terkenal misalnya Dr Martin Luther King Jr tampil ke panggung sejarah karena mempunyai harapan dan cita-cita untuk membebaskan orang-orang kulit hitam di Amerika dari perlakuan diskriminatif oleh rezim yang berkuasa. Konon dikisahkan bahwa orang-orang kulit hitam di Amerika pada zaman itu dianggap sebagai warga negara kelas dua dan rentan dengan perlakuan diskriminatif. Posisi-posisi penting dan peran strategis lainnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara hanya diberikan kepada warga negara Amerika yang berkulit putih. Karena itu Dr Martin Luther King Jr berusaha bersama dengan teman-temannya agar possi mereka diterima di masyarakat Amerika yang kebanyakan orang-orang berkulit putih. Hak-hak mereka sebagai warga negara Amerika harus diakui dan diterima sebagai bagian yang tak terpisahkan dari warga negara Amerika. Setelah melewati perjuangan yang panjang akhirnya harapan dan impian mereka tercapai. Orang-orang kulit hitam di Amerika diakui hak-haknya dandiberi kepercayaan dan kesempatan untuk menduduki posisi penting dalam pemerintahan Amerika berdasarkan kualitas-kualitas tertentu yang mereka miliki sampai dewasa ini.

Demikianlah Dr Martin Luther King Jr bersama dengan sejawatnya tampil ke publik untuk berjuang memperbaiki situasi dan kondisi serta perlakuan diskriminatif rezim yang berkuasa di Amerika pada zamannya terhadap kaumnya yaitu orang-orang kulit hitam. Hak-hak politik dan kehidupan sosial kemasyarakatan orang orang kulit hitam di Amerika diakui dan diperhatikan karena perjuangannya.

Dalam Gereja Katolik kita mempunyai tokoh panutan yang utama sekaligus menjadi pusat iman kita yaitu: Yesus Kristus. Dia datang ke dunia ini untuk mendirikan kerajaan Allah. Demi mewujudkan kerajaan Allah itu Ia mempertaruhkan segala-gala-Nya. Melaluinya Yesus mau agar setiap orang mempunyai akses untuk menjadi bagian dari kerajaan Allah itu. Itulah sebabnya Yesus memberikan perhatian khusus kepada orang-orang yang datang dari berbagai kampung untuk mendengarkan pewartaan dan pengajaran-Nya sebagaimana diberitakan dalam Injil Minggu ini. Yesus memberikan perhatian-Nya kepada orang-orang yang lapar melalui mukjizat pergandaan roti. Lewat mukjizat pergandaan roti ini lima ribu orang bisa terlayani kebutuhannya. Pewartaan tentang Kerajaan Allah kalau mau efektif dan berhasil memang harus bersentuhan dengan pengalaman aktual yang dialami manusia. Maka Yesus Kristus dalam pewartaan mengenai Kerajaan Allah itu tidak hanya mengunjungi orang di penjara, menyembuhkan orang sakit, mencelikkan mata orang buta, tetapi juga menyangkut kebutuhan fundamental/kebutuhan jasmaniah manusia yaitu makanan. Orang akan terus berusaha untuk mendengarkan pewartaan dan pengajaran Yesus kalo perut mereka kenyang. Karena itulah kepada orang-orang banyak yang lapar Yesus Kristus melakukan mukjizat pergandaan roti, supaya orang-orang ini mendapat makanan jasmaniah.

Mereka makan sampai kenyang dan bahkan masih ada sisa dua belas bakul.Baik sejumlah roti yang sudah disantap maupun potongan-potongan roti yang sisa itu melambangkan kelimpahan rahmat Allah. Bahwa Allah memberikan rahmat-Nya dalam rupa roti tidak hanya cukup untuk sekali santap tetapi masih ada lebihnya untuk hari esok. Sehingga dengan demikian orang banyak tidak hanya terpukau oleh roti duniawi tetapi terutama termotivasi untuk memiliki roti Surgawi yang adalah tubuh Yesus Kristus sendiri. Tubuh yang memungkinkan mereka untuk bersatu dengan Yesus Kristus tidak hanya di dunia tetapi terutama dalam persatuan yang paripurna dengan Yesus Kristus dalam kerajaan-Nya.

Itulah sebabnya mukjizat pergandaan roti itu tidak hanya ditangkap secara harafiah maknanya tetapi secara rohaniah karena mengungkapkan roti Ekaristi yang tidak lain adalah tubuh Kristus sendiri. Setiap orang yang menyambut tubuh dan darah Kristus selama berziarah di dunia ini dimungkinkan untuk mengambil bagian dalam kehidupan kekal bersama Allah di dalam kerajaan-Nya. Karena pada akhir zaman akan diadakan sekali lagi perjamuan Ekaristi di mana pemimpin sekaligus tuan perjamuan-Nya adalah Yesus Kristus sendiri. Karena itulah perjamuan Ekaristi yang kita rayakan di dunia ini menjadi amat penting untuk kita perhatikan. Ekaristi yang kita rayakan di dunia ini semacam tanda pengenal sekaligus kredit point yang memungkinkan kita setelah mengakhiri peziarahan kita di bumi ini kita diperbolehkan untuk mengambil bagian dalam perjamuan terakhir yang diadakan untuk pertama kali dan terakhir kalinya di dalam kerajaan Surga bersama dengan Yesus Kristus. Jadi Ekaristi semacam tanda pengenal atau kartu identitas yang memperbolehkan kita untuk berpartisipasi dalam perkamuan terakhir dalam kerajaan Allah.

Saudara/saudari yang terkasihdalam Tuhan

Di samping itu, mukjizat pergandaan roti juga mengungkapkan kenyataan lainnya yaitu bahwa Allah dalam Yesus Kristus senantiasa menjawab permasalahan kita. Apa yang tidak terjangkau dan tidak mungkin bagi manusia menjadi terjangkau dan mungkin bagi Allah. Dalam dan bersama Allah setiap permasalahan yang kita alami memiliki jawabannya. Karena itu untuk hal yang amat penting ini yang bisa kita lakukan adalah bersyukur kepada Allah sambil berupaya untuk menjadi berkat bagi sesama sebagaimana dipertontonkan oleh Dr Martin Luther King Jr pada zamannya melalui hidup dan karya kita seturut panggilan kita masing-masing. Tanda syukur kita itu baru menjadi nyata ketika kita mengupayakan kebersamaan serta persatuan sebagaimana dikatakan oleh Paulus kepada umat di Efesus yang sedang bertikai. Apapun perbedaan dan permasalahan yang dihadapi orang harus tetap ingat dan sadar bahwa dasar kebersamaan dan persatuan mereka adalah Allah yang memanggil mereka maka mereka harus hidup sepadan dengan panggilan itu yaitu: rendah hati, lemah lembut dan sabar, menyatakan kasih dengan saling membantu.

Selamat berjuang, Tuhan memberkati

Bertolomeus Jandu OFM

Pastoran St. Paulus 23 Juli 2018

Berita dan Artikel Lainnya