Renungan Hari Minggu Biasa II

Hari Minggu Biasa II

Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan. Dalam bacaan hari ini, khususnya dalam Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus (1Kor. 12: 4-11), kita mendengar pesan rasul Paulus tentang aneka macam karunia. Karunia itu berasal dari Allah, diberikan kepada segenap umat, demi pelayanan. Kepada setiap orang, Allah menganugerahkan karunia yang berbeda-beda. Sebagaimana dikatakan Rasul Paulus, “Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.”

Sayangnya, dalam pelayanan, seringkali keunikan karunia yang dimiliki bukannya menjadi kekayaan, malah menjadi pertentangan. Tidak jarang kita jumpai adanya persaingan, perselisihan, dan iri hati di antara anggota gereja karena keunikan yang dimiliki. Setiap anggota dengan keunikannya hendak unjuk gigi menunjukkan diri sebagai yang paling menonjol, yang paling penting di antara yang lain. Apalagi di era digital ini, setiap orang seolah-olah haus pujian dan ingin menjadi pusat perhatian. Setiap bentuk pelayanan dilakukan demi dipamerkan di media sosial. Semakin banyak like dan followers, semakin orang berlomba-lomba unjuk kebolehan.

Akibatnya, pekerjaan-pekerjaan “di belakang layar” sepi peminat. Orang cenderung menolak untuk bekerja dalam diam, dalam “jalan kesunyian”. Pekerjaan-pekerjaan seperti itu dinilai tidak penting, tidak berguna. Mengapa? Karena pekerjaan “di belakang layar” tidak dilihat orang, tidak mendatangkan pujian dan apresiasi.

Untuk bertahan dalam jalan kesunyian memang tidak mudah, apalagi pada dasarnya manusia juga butuh apresiasi dan pujian demi perkembangan diri. Akan tetapi dalam pelayanan setiap orang diminta untuk menanggalkan hasrat ingin dipuji dan menjadi pusat perhatian, unsur selfishness perlu dihindari. Sebaliknya, yang dibutuhkan adalah sikap rendah hati dan rela berkorban. Apa pun tugas yang dipercayakan, dan apa pun karunia yang dimiliki, semua dilakukan dengan penuh sukacita tanpa harapan untuk menjadi pusat perhatian, atau untuk dieluk-elukan. Terlibat dalam pelayanan berarti siap menjadi pelayan, menjadi “yang paling kecil”, sebuah jalan yang melawan arus dunia.

Dalam kisah “Perkawinan di Kana” (Yoh. 2:1-11) kita menjumpai sosok Maria yang rela bekerja dalam diam. Ketika penyelenggara pesta kehabisan anggur, Maria datang kepada Puteranya, dan hanya berujar “mereka kehabisan anggur”. Dia tentu bukan sosok yang menggandakan anggur, tapi karena perannya yang tampak sederhana pihak penyelenggara pesta tidak “kehilangan muka”. Ia memainkan peran yang sederhana, “menyampaikan pesan kepada Puteranya, mendengar, dan melaksanakan tanpa protes”. Maria juga tidak memaksa Puteranya untuk menuruti keinginan dirinya sebagai ibu, tetapi dia lebih memilih diam dan mendengarkan.

Saudara-saudari terkasih. Setiap orang memiliki karunia yang berbeda. Karunia-karunia tersebut diberikan secara berbeda karena Allah pun memiliki rencana yang berbeda atas setiap orang. Perbedaan karunia itu jangan sampai menimbulkan perbantahan dan perselisihan, sebab karunia yang berasal dari Allah itu menyatukan, bukan memecahbelah umat. Sebaliknya melalui perbedaan itu setiap orang diminta untuk saling melengkapi. Tidak ada karunia yang sifatnya rendah, semua mulia di mata Tuhan. Sekecil apa pun peran yang dijalankan sesuai dengan karunia yang dimiliki, semua dilakukan demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan manusia.

Diakon Ambrosius Setiadvento Haward, OFM

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eleven + fourteen =