Rabu, Abu, dan Angka 40 Hari Masa Prapaskah

DAUN palma kering yang sudah dikumpulkan umat Paroki St Paulus Depok selanjutnya akan dibakar petugas gereja. Setelah melalui penyaringan, terciptalah abu lembut sisa pembakaran untuk diberkati dan digunakan dalam perayaan Misa Rabu Abu sebagai tanda pertobatan.

Kitab Suci mengisahkan abu sebagai tanda pertobatan, misalnya pada pertobatan Niniwe (Yun 3:6). Di atas semua itu, ada sebuah pesan bagi kita bahwa kita ini diciptakan dari debu tanah ( Kej 2:7), dan suatu saat nanti kita akan mati dan kembali menjadi debu.

Misa Rabu Abu identik dengan pemberian abu tanda salib di dahi umat Katolik. Rabu Abu juga dimaknai sebagai hari pertama Masa Prapaskah, kita memasuki masa tobat 40 hari sebelum Paskah. Angka “40″ selalu mempunyai makna rohani sebagai lamanya persiapan.

 

Misalnya, Musa berpuasa 40 hari lamanya sebelum menerima Sepuluh Perintah Allah (lih. Kel 34:28), demikian pula Nabi Elia (1 raj 19:8). Tuhan Yesus sendiri juga berpuasa selama 40 hari 40 malam di padang gurun sebelum memulai pewartaan-Nya (Mat 4:2).

Nah, Gereja Katolik menerapkan puasa ini selama 6 hari dalam seminggu (hari Minggu tidak dihitung, karena hari Minggu dianggap sebagai peringatan Kebangkitan Yesus). Agar genap 40 hari, maka masa Puasa berlangsung selama 6 minggu atau 36 hari ditambah 4 hari. Sebaliknya, bila dihitung mundur Paskah terjadi hari Minggu, dikurangi 36 hari (6 minggu), lalu dikurangi lagi 4 hari, maka akan jatuh pada hari Rabu. Dengan demikian, hari pertama puasa jatuh pada hari Rabu. 

 (Humas Panitia Paskah 2020/disarikan dari Katolisitas.org dan sejumlah sumber).

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 × five =