PENTAKOSTA (PENantian TAnpa KOSa kaTA)

DUNIA masih menangis akibat COVID-19. Semua manusia merintih, meronta dan memohon pada Tuhan agar musiba ini bisa berlalu. Namun Tuhan sepertinya enggan untuk menjawab rintihan umatNya;

Ia seakan bungkam dengan penderitaan manusia. Setiap orang berdoa sekuat iman dengan satu harapan agar Tuhan segera mengakhiri fenomena ini, tetapi Tuhan seakan tak peduli. Bahkan semua pemuka agama sepakat menetapkan satu hari tertentu untuk berdoa secara khusus dengan intensi supaya Tuhan menjauhkan umatNya dari Covid.

Akan tetapi sepertinya perubahan tidak tampak. Akhirnya semua tiba pada suatu doa yang penuh keraguan karena merasa doa mereka tak pernah didengarkan Sang Khalik. Kemudian manusia membenci keadaan  dan mulai muncul berbagai nada  hojatan, penolakan, caci maki mengarah pada COVID-19.

“Kenapa covid-19 muncul?”

“Aku jengkel corona!”

“Aku benci pandemi covid!”

Mengapa  harus covid yang disalahkan. Padahal covid muncul bukan semata-mata ulahnya sendiri? Seharusnya manusia menanyai diri, karena bukan covid yang memunculkan dirinya sendiri.

Lalu bagaimana dengan kita umat beriman, para pengikut Kristus? Apakah kita juga harus ikut menghojat Covid? Kita juga harus menanyai diri, apakah kita sudah melakukan sesuatu yang berguna? Tentu berbagai upaya telah kita lakukan; doa, puasa dan laku tapa, kita lakukan dengan tujuan Tuhan menjauhkan kita dari musibah ini.

Namun pada kenyataannya, kita masih berpendapat bahwa Tuhan tidak mempedulikan kita, Tuhan telah melupakan kita, karena tiada mukjizat yang terjadi. Akhirnya semua tiba pada titik lelah, jenuh  untuk berdoa dan memohon karena merasa Kristus yang kita Imani seakan tutup mata  dan tidak memahami keadaan kita.

Kitapun  mulai meragukan eksistensi Allah dan kemahakuasaan Allah serta bertanya-tanya, mengapa Allah tidak mampu membuat mukjizat? Kita akan kehilangan iman jikalau dalam benak kita tumbuh suatu pengharapan akan mukjizat bahwa dalam seketika Tuhan akan menghapus pandemi ini dari muka bumi.

Pada Pentekosta kali ini Tuhan menyadarkan kita melalui SabdaNya. Ia mengunjungi para muridNya ketika mereka sedang dalam keadaan takut, cemas dan khawatir akan keselamatan mereka. Dalam Injil dikisahkan, Yesus menyapa mereka: “damai sejahtera bagi kamu” (Yoh 20:22b). Dan menghembusi mereka dengan Roh Kudus. Sesungguhnya salam dan pemberian Roh Kudus itu mau mengatakan bahwa mereka tidak perlu takut atupun khawatir sebab akan ada Roh kudus yang selalu memberi damai kepada mereka. Roh Kudus itulah yang pernah dijanjikan Yesus kepada mereka, juga tentu untuk kita para pengikut Kristus.

Semua itu menunjukkan bahwa Yesus tak pernah meninggalkan kita, walaupun Ia telah naik ke surga, masih ada Roh Kudus yang selalu menuntun kita dalam situasi sulit hidup kita. Tugas kita ialah selalu menyadari kehadiran Roh Kudus itu dalam situasi apapun.

Santo Agustinus menyebut Roh Kudus, “tamu yang hening bagi jiwa kita.” Siapa pun yang ingin merasakan kehadiran Roh Kudus harus “hening” karena seringkali Tamu ini berbicara dengan sangat lembut di dalam dan bersama kita contohnya melalui suara hati atau melalui sarana-sarana di dalam dan di luar diri kita. Maka  seiring dengan kisah Injil hari ini, dan kata-kata Santo Agustinus di atas, kita mesti belajar dari para murid yang menanti kedatangan Tuhan tanpa kosakata atau tidak berkata-kata mengungkapkan keluhan maupun keraguan, tetapi dengan suatu harapan akan janji Yesus tentang Penghibur yaitu Roh kudus, sebagai pengganti peran Yesus.

Roh Kudus-lah yang akan memberi kekuatan kepada kita ketika tidak mampu meratapi nasib ini, ketika kita cemas, gelisah, khawatir, takut, ragu dan mempertanyakan kehadiran serta peran Allah. Oleh karena itu, kita serahkan semua kegelisahan, kekhawatiran, kecemasan, ketakutan dan keraguan pada Penyelenggaraan  Tuhan, karena Dia tahu seluruh keadaan kita. Kita hanya perlu percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.

Sabda-nya, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”(Mat 28:20b). Itulah janji Tuhan yang harus  kita bawa dalam hidup  sebagai pegangan ketika kita merasa ditinggalkan Tuhan, sebab Dia tidak pernah meninggalkan kita meski kita ragu dengan KuasaNya.

Kita diajak menanti tanpa kosakata (keluhan, keraguan, kecemasan ataupun kekhawatiran) tetapi terus membuka pintu hati kita dan membiarkan Tuhan berkarya melalui Roh Kudus, sesuai kuasa dan rencanaNya. Percayalah semuanya ini akan berakhir dan akan terasa indah pada waktunya.

Semoga dalam masa ‘penantian tanpa kosakata(pentakosta)’ akan berakhirnya Covid ini, kita selalu membiarkan diri kita dicurahi Roh Kudus dan menyadari kehadiranNya. Amin.  Ari Leto OFM

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × two =