PAUS HEBAT & SANG PESONA (selesai) Pendobrak Dominasi Ayah dan Tiga Penggila

PAULUS  VI, Yohanes Paulus II, Benediktus XVI, dan Fransiskus adalah empat paus modern yang buka-bukaan pada publik bahwa mereka “tergila-gila” pada St Yosef.

Pada artikel bagian pertama “Paus Hebat dan Sang Pesona” telah dikisahkan Fransiskus di balik ‘Patris Corde”.

Bagaimana tiga paus pendahulunya menekuni, mendalami, dan membagikan pengalaman devosinya?

Batu Karang Komitmen

Sepanjang masa kepausannya dari 21 Juni 1963 hingga wafat 6 Agustus 1978, Santo Paulus VI selalu memakai kesempatan homilinya untuk berkatekese tentang suami Maria dan ayah Yesus tersebut. Setiap tutur kata dan tata tulis paus bernama asli Giovanni Battista Enrico Antonio Maria Montini ini menggambarkan dirinya begitu terpesona pada penyerahan dan dedikasi penuh St. Yosef atas misi pelayanan bagi Yesus dan Maria.

 Paus penerus Yohanes XXIII dalam hal melanjutkan, meresmikan, dan menutup Konsili Vatikan II ini memaknai St Yosef sebagai pria yang dikaruniai oleh “keagungan manusia super yang memesona”.  Sang suami yang memiliki mempelai Maria dan putra Yesus bisa jadi membuat dirinya orang asing di sekeliling teman-temannya. Nyatanya, St Yosef senantiasa tangguh bagai batu karang.

Tentang komitmen, Santo Paulus VI berkata pada tahun 1969, “St Yosef sosok pria berkomitmen…. Miliknya adalah beban, tanggung jawab, risiko, kesibukan kecil dari keluarga kudus. Dia adalah layanan, pekerjaan, pengorbanan, penumbra (bagian bayang-bayang) dari adegan  di mana kita suka merenungkannya. Dan tentu saja, tidak salah, sekarang setelah kita tahu segalanya, kita memanggilnya bahagia, diberkati. Inilah Injil. Di dalamnya, nilai-nilai keberadaan manusia memiliki nilai berbeda dari yang biasa kita hargai: di sini yang kecil menjadi besar.”

Pendobrak Dominasi Ayah

Dalam 26 tahun masa kepausan sejak 16 Oktober 1978 hingga wafat 2 April 2005, Yohanes Paulus II berlimpah kesempatan untuk berbagi pengalaman dan pengajaran iman tentang Santo Yosef, pelabuhan doanya setiap hari.

Dengan indah, paus bernama asli Karol Józef Wojtyła, merumuskan devosi ini dalam Seruan Apostolik “Redemptoris Custos”, diterbitkan pada 15 Agustus 1989 dan ditulis 100 tahun setelah Ensiklik “Quamquam Pluries” Paus Leo XIII.

Kendati “Redemptoris Custos” merupakan salah satu di antara sekian banyak “dokumen penebusan” dan bersumber inspirasi dari ensiklik “Redemptoris Mater” (Bunda Sang Penebus), namun seruan apostolik ini istimewa. Bahkan kaya akan katekese penting.

Paus Peziarah ini dengan jernih menuturkan posisi istimewa St Yosef di dalam Keluarga Kudus, dan peran pentingnya di dalam karya penebusan. Sari pati seruan Yohanes Paulus II adalah St. Yosef merupakan pendobrak adat kolot dominasi ayah atas keluarga dan memastikan sosok St. Yosef sebagai sosok ayah penyayang yang patut diteladani.

Teladan Keheningan

Paus yang gila pada St Yosef selanjutnya adalah Benediktus XVI. Paus emeritus ini memulai pelayanan sebagai pemimpin Takhta Suci pada 19 April 2005 dan mengundurkan diri 28 Februari 2013. Dengan kecermatan yang tajam, dia menyarikan kekayaan rohani St Yosef dalam satu kata: keheningan. Tidak ada kata-kata lain.

Paus teolog bernama baptis Joseph Alois Ratzinger ini memaknai St Yosef sebagai pria yang dengan teladan bisu-nya telah mempengaruhi pertumbuhan Yesus. Kita simak refleksi Benediktus XVI yang dikutip Alessandro De Carolis, Vatican News:

“Ini adalah keheningan karena Yosef bersama Maria menjaga Firman Tuhan. Keheningan yang terjalin dari doa tak henti, pemujaan akan kehendak Tuhan yang kudus, dan kepercayaan yang tidak dapat dipastikan kepada pemeliharaan-Nya. Tidaklah berlebihan untuk berpikir bahwa justru dari Yosef-lah Yesus belajar sebagai anak manusia.”

 Yesus dan banyak Paus belajar dari St Yosef. Bagaimana dengan kita?  Wisanggeni Napitupulu

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

20 − 19 =