Mulutmu, Injilmu – Minggu Biasa Pekan III – 27 Januari 2019

Bacaan I: Neh 8:3-5a.6-7.9-11
Bacaan II: 1Kor 12:12-30
Bacaan Injil: Luk 1:1-4;4:14-21

Dalam suatu kelas, terdapat pak Slamet, seorang guru yang mengajar beberapa murid. Setiap perkataan yang keluar dari mulut sang guru sangat diperhatikan oleh murid-murid. Ucapan yang jelas dan suara yang lantang membuat para murid dapat mengerti materi yang diajarkan. Candaan-candaan yang dilontarkan juga berpengaruh kepada para murid, sehingga suasana menjadi cair. Suatu ketika, pak Slamet mengumumkan nilai ulangan harian kepada para murid. “Selamat kepada kalian karena nilai ulangannya bagus-bagus dan tidak ada yang remedial” kata pak Slamet. Mendengar hal itu, para murid senang dan spontan bersorak. Akan tetapi, disuatu waktu pak Slamet juga dapat menegur dan menasihati para murid ketika ada murid yang bermasalah. Lantas murid-murid merasa takut, lalu dengan agak terpaksa mendengarkan teguran dan nasihat dari gurunya. Pak Slamet selalu berusaha untuk menyampaikan perkataan-perkataan yang membangun murid-muridnya, sehingga murid-muridnya merasa semangat dalam belajar dan tambah pintar.

Pada awal bacaan Injil pada Minggu Biasa III ini, Lukas secara tegas menyatakan bahwa tulisan-tulisannya diperuntukkan untuk Teofilus. Apa tulisan-tulisannya Lukas? Tulisan-tulisannya ialah Injil tentang Yesus yang diyakini sebagai sesuatu yang sungguh benar. Lalu siapa itu Teofilus? Secara sepintas, mungkin ada seorang tokoh yang mempunyai nama Teofilus karena secara khusus disapa oleh Lukas dengan perkataan “yang mulia”. Tafsiran lain mengatakan Teofilus bukan sebagai pribadi, melainkan sebagai kumpulan orang-orang. Dalam bahasa Yunani, Theos berarti Allah dan philos berarti orang yang mencintai atau sahabat. Jadi, Teofilus dapat dimaknai sebagai orang-orang yang mencintai Allah atau sahabat Allah. Lukas ingin mewartakan peristiwa-peristiwa tentang Yesus kepada banyak orang yang mengasihi Allah, termasuk para pembaca sekalian. Yesus yang diwartakan Lukas kita yakini sebagai hal yang benar dan hal yang menggembirakan, sehingga membawa sukacita kepada siapapun yang mendengarnya.

Dalam perikop sambungannya, dikisahkan Yesus mewartakan isi kitab nabi Yesaya di Nazaret. Isi kitabnya adalah suatu penghiburan dan pengharapan kepada orang-orang menderita, seperti tawanan, orang buta, dan orang tertindas. Pewartaan Yesus di Nazaret merupakan suatu perkataan yang membangun dan memotivasi orang-orang agar tidak putus asa walaupun sedang merasa susah.

Sama seperti pak Slamet pada kisah di atas, Lukas dan Yesus berusaha berbicara tentang hal-hal yang menggembirakan dan membangun. Perkataan yang keluar adalah motivasi untuk memunculkan harapan dalam hidup. Dengan perkataannya, Pak Slamet mendidik dan membangun para murid agar lebih dewasa dan pintar. Dengan Kabar Gembira tentang Yesus, Lukas ingin mengajak kita untuk semakin berpengharapan dan bersuka cita karena kita adalah sahabat-sahabat Allah. Oleh karena itu, tanda orang berpengharapan dan bersuka cita adalah berani berbicara tentang suka cita yang dialaminya sendiri.

Ada peribahasa “mulutmu harimaumu”. Peribahasa tersebut berarti apa yang kita katakan dari mulut kita dapat membuat kerugian pada diri sendiri dan orang lain juga. Perkataan tidak terpuji, celaan, hinaan dapat membuat orang lain merasa kecil hati, bahkan dapat menjadi “senjata makan tuan” juga. Apa yang kita katakan akan berpengaruh kepada orang lain. Jika perkataannya baik maka pengaruhnya juga akan baik, namun jika perkataannya buruk maka pengaruhnya juga akan buruk dan cenderung merugikan. Kata-kata mempunyai kekuatan yang besar untuk merubah orang lain. Lihat saja para politikus yang berusaha mengubah pendirian masyarakat dengan kampanye-kampanye, atau suatu produk yang berusaha untuk dicintai masyarakat dengan iklan-iklannya. Kata-kata yang mereka keluarkan dirancang seindah dan semasuk akal mungkin agar banyak orang terpengaruh.

Pada masa sekarang ini, ujaran-ujaran kebencian, hoax, gosip merupakan perkataan buruk yang menjadi momok untuk munculnya kebenaran. Perkataan-perkataan tersebut hanya menimbulkan perselisihan, kesalah pahaman, bahkan dendam. Secara langsung-tidak langsung, sadar-tidak sadar, kita mudah ngarasani atau menggosipkan orang lain. Bergosip seperti menimbulkan sensasi kenikmatan tersendiri karena dalam gosip selalu menganggap orang lain lebih rendah daripada dirinya sendiri. Jika masih sering menggosipkan orang lain, berarti rasa cinta kasih belum terlalu berkembang dalam diri karena hanya melihat hal-hal negatif dalam diri orang lain.

Berbeda dengan pewartaan Yesus, pengaruhnya adalah membawa harapan dan suka cita. Kita sebagai sahabat Allah harus mengeluarkan kata-kata yang positif membangun, sehingga orang lain yang mendengarkan pun merasa suka cita. Kekuatan kata-kata yang positif hendaknya kita bawa dalam pergaulan kita. Dengan tidak pelit memberikan pujian, mengucapkan terima kasih, dan rajin menyapa, kita telah memberikan pengaruh yang baik kepada orang lain.Dengan demikian, orang lain semakin merasakan kasih Allah lewat perhatian sesamanya. Orang-orang yang mendengarkan kita tidak lagi merasa benci atau sedih, melainkan merasa dikasihi dan termotivasi. Semoga kita semakin berusaha mengeluarkan kata-kata suka cita dan pengharapan dalam pergaulan kita, sehingga mulut kita menjadi Injil bagi sesama, tidak menjadi harimau. Tuhan memberkati.

Fr. Ignatius Bahtiar

Berita dan Artikel Lainnya