Renungan Minggu Biasa XXVII 2018

Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. (Kej 2:24)

Meninggalkan ayah dan ibunya berarti melepaskan sebagian dari diri kita yaitu masa lalu yang terkait dengan masa kanak-kanak, saat kita merasa aman dan terlindungi dalam pohon keluarga. Salah satu tanda kedewasaan adalah keberanian untuk melepaskan diri dari keamanan dan kenyamanan tersebut. Ini bukan hanya terkait dengan perkawinan tetapi juga dalam pengambilan keputusan untuk masa depan seseorang pada umumnya.

Salah satu contohnya adalah Santo Fransiskus Asisi. Pada masa pertobatannya, ia mengambil sikap yang cukup ekstrim. Ia meninggalkan ayah dan ibunya dalam arti yang sesungguhnya. Pertobatan Fransiskus tidak disetujui ayahnya. Apalagi ketika Fransiskus memberikan kekayaan ayahnya kepada orang-orang miskin, sang ayah pun marah dan membawa Fransiskus ke pengadilan. Di depan uskup dan warga kota Assisi, Fransiskus mengembalikan segala milik ayahnya termasuk pakaian yang melekat di badannya. Sambil menyerahkan semua kepada ayahnya, ia berkata, “sekarang aku tidak lagi menyebut lagi bapaku Pietro Bernardone melainkan Bapa Kami yang ada di surga”.  Sejak saat itu, Fransiskus sungguh menjadi manusia bebas untuk memberikan diri sepenuhnya kepada Allah.

Dalam perkawinan, hal yang sama pun seharunya diupayakan. Tak ada kebahagiaan dalam perkawinan bila suami istri hanya mencari rasa aman dalam pangkuan orang tua. Perkawinan berarti tahu dan mau suami istri mempersatukan dua pribadi yang bebas dan siap untuk bertanggungjawab satu sama lain. Mereka berdua siap meninggalkan segala sesuatu, mempertaruhkan segala sesuatu, bersedia menanggung resiko dari apapun juga yang terjadi karena saling mengandalkan “karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia”.

Ada pesan menarik dari orang tua yang pernah disampaikan kepada anaknya ketika anaknya menikah. Katanya, “Nak, setelah kalian menikah ini, kalian akan menjadi pohon keluarga yang baru. Kalian bukanlah cabang dari kami, tapi sungguh kalian menjadi pohon yang tumbuh dari dalam tanah. Ketika kalian nantinya mempunyai masalah, cekcok, dan lain sebagainya, janganlah datang kepada kami tetapi datanglah kepada pastor. Jika kalian kalian datang kepada kami, orang tua, pasti masalah kalian tidak selesai bahkan semakin besar. Tentu kami sebagai orang tua tetap akan cenderung membela anaknya, walau mungkin anak salah. Tetapi kalau kalian datang kepada pastor, tentu dia akan lebih netral”.

Apakah aku sudah sungguh berani meninggalkan ayahku dan ibuku untuk sungguh menjadi diri yang sejati?

RP Fransiskus Asisi Oki Dwihatmanto OFM

Berita dan Artikel Lainnya