Ketika diRENDAHkan… Renungan Minggu Biasa XIV

Tanggal 2 Juli yang lalu, KMP Lestari Maju kandas di perairan antar kepulauan Selayar, Sulawesi selatan. Peristiwa naas ini menewaskan sedikitnya 30 an orang. Seorang diantara mereka yang selamat adalah Pattah (38 tahun), sopir truk  yang sering menggunakan KMP Lestari Maju menyeberangkan truknya antara Bira-Selayar merasa kandasnya kapal penyeberangan itu membuat dirinya bingung. “Saya tidak tahu apa yang harus saya kerjakan”, ungkapnya ketika ditanya oleh wartawan (Kompas 6 Juli 2018, hm…).

Pengalaman Bapak Pattah di atas adalah representasi pengalaman manusia yang hidupnya sulit di zaman ini. Kesulitan hidup, seperti kecelakaan, penolakan dan perendahan oleh sesama membuat orang putusasa, kehilangan orientasi dan bahkan kehilangan energi positif dalam diri dan hidup.

Yesus pun mengalami kondisi sulit ketika masuk kampung asal-Nya, Nazaret. Orang-orang sekampungnya berusaha merendahkan Yesus dan menimbulkan prasangka-prasangka negatif dalam pikiran orang untuk melawan-Nya. Hikmat dan mukjizat yang dilakukan-Nya tidak punya nilai karena Dia hanya berpendidikan di rumah saja. Di antara saudara-saudara-Nya tidak ada yang berpendidikan tinggi, mereka sama saja dengan orang-orang sekampungnya. Bahkan Yosef, ayah-Nya adalah seorang tukang kayu. Dan mungkin juga mereka mengatakan bahwa Yesus itu tukang kayu karena bisa jadi Ia membantu ayah-Nya. Itulah bentuk-bentuk penghinaan dan sekaligus perendahan diri Yesus.

Bagaimanakah Yesus menghadapi penghinaan ini? Jawaban terhadap pertanyaan ini dapat menjadi pelajaran untuk kita ketika mengalami penghinaan dan direndahkan…Pertama, Yesus memaafkan mereka. Dia memaafkan mereka dengan memandang dan menganggap penolakan ini sebagai hal yang biasa dan sudah diduga sebelumnya, walaupun tidak masuk akal atau tidak adil (Mrk. 6: 1). Yesus berkata: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri” (Mrk. 6:5). Mengapa Yesus menanggapinya demikian? Karena kedekatan hubungan pada masa muda bisa menumbuhkan pandangan yang merendahkan. Selain itu, kemajuan yang dicapai oleh seseorang bisa menimbulkan iri hati. Sehingga kesimpulannya ialah apa yang dilakukan oleh orang-orang itu lumrah ; tetapi karena perbuatan itu tetap salah maka perlu dimaafkan..

Kedua, Yesus tetap melakukan kebaikan. Ia melakukannya di antara mereka, meskipun mereka menghina-Nya. Ia memang baik bukan hanya kepada orang-orang baik dan benar tetapi juga kepada mereka yang jahat dan bersalah. “Ia meletakkan tangan-Nya atas beberapa orang sakit dan menyembuhkan mereka” (6: . Amat mulialah bagi para pengikut Kristus untuk membahagiakan diri mereka dengan kesenangan dan kepuasan dalam berbuat baik sekalipun untuk itu mereka tidak mendapat pujian apa apa sama sekali. Jika kita, para pengikut-Nya tidak dapat melakukansuatu perbuatan baik di tempat yang kita inginkan, kita harus melakukannya di tempat yang bisa kita lakukan. Kita harus bergembira bila mendapat kesempatan sekecil apa pun, biar di desa-desa sekalipun, untuk melayani Kristus dan jiwa-jiwa: “Ia berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar” (Mrk. 6:6).

Sikap memaafkan dan berbuat baik Yesus di atas mau mengajarkan kepada kita tentang kasih karunia Allah. Seperti diyakini oleh Paulus , sikap seperti itu mau menampakkan kekuatan Tuhan. St. Paulus mengatakan: “Aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah maka aku kuat” (bdk. 2 Kor. 12: 9-10). Kekuatan Tuhan tampak pada saat kita lemah. Kekuatan-Nya bekerja secara efektif pada saat kita tidak berdaya. Di saat orang tidak berdaya, Tuhan hadir dengan kekuatan-Nya. Dan itulah yang memampukan orang untuk memaafkan dan terus melakukan perbuatan-perbuatan baik…..

Rm. Ignaz W Ofm…

Berita dan Artikel Lainnya