Mereka yang Diutus dan yang Mau Bertobat

MEREKA YANG DIUTUS DAN YANG MAU BERTOBAT

Alex Lanur, OFM

Dalam Injil Mrk 6: 7-13 yang dibacakan pada hari Minggu XV – Juli 2018, diceriterakan tentang panggilan dan perutusan kedua belas murid Yesus. Diceriterakan, antara lain, bagaimana mereka diutus, bagaimana sikap mereka dalam pelaksanaan perutusannya serta apa yang menjadi sasaran perutusannya. Semua itu disajikan dengan cara yang cukup singkat. Yang dinyatakan secara cukup singkat itu coba dijelaskan sedikit lebih lanjut.

“Dia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua” (Mrk 6: 7). Kiranya hal itu dilakukan dengan maksud agar mereka menjaga dan melindungi satu sama lain,  membantu dan mencintai satu sama lain, serta menunjukkan semua itu dengan dan dalam perbuatannya kepada siapa mereka diutus. Atau dengan kata-kata St. Fransiskus: “…tidak menimbulkan perselisihan dan pertengkaran… dan mengakui bahwa mereka orang Kristen” (AngTBul XVI: 6). Selain itu kiranya juga supaya mereka tetap menyadari dan tetap yakin bahwa Tuhannya selalu menyertai mereka.

Dalam perutusannya mereka tidak pernah melaksanakannya sendirian. Mereka tetap melibatkan dan mengikutsertakan Tuhan dalam melaksanakan tugas perutusannya. Bukankah Tuhan itu sendiri berkata: “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18: 20). Atau dengan kata-kata Tuhan yang sangat meyakinkan: “Dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 18: 20). Artinya, di mana pun para utusan itu berada dan ke mana pun mereka pergi untuk melaksanakan tugas perutusannya mereka tidak hanya bersama dengan serta disertai oleh mereka yang sama-sama diutus, tetapi juga dan terutama bersama dengan dan disertai oleh Tuhannya sendiri yang mengutusnya.

“… dan Ia berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka…, roti pun jangan, bekal pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan…jangan memakai  dua baju…” (Mrk 6: 8-9). Kiranya maksudnya adalah agar mereka yang diutus itu tidak diganggu oleh kekuatiran dunia dalam melaksanakan tugas perutusannya. Bukankah Tuhan sendiri sudah mengatakan: “… janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula  akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Sebab    hidup itu lebih penting daripada makanan  dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian. Perhatikanlah burung gagak yang tidak menabur dan menuai…, namun demikian diberi makan oleh Allah…Perhatikanlah bunga bakung yang tidak memintal…Jadi, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu. Akan tetapi Bapamu tahu bahwa kamu memang memerlukan semuanya itu…” (Luk 12: 22-31).

Sasaran perutusan mereka dinyatakan dengan “lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat” (Mrk 6: 12). Pertobatan merupakan penentuan pendirian pribadi yang menyangkut seluruh diri manusia, terutama inti kepribadiannya. Manusia yang bertobat adalah manusia yang kembali kepada  Allah. Ingatlah kiranya akan perumpamaan tentang anak yang hilang: anak itu kembali kepada Bapa yang sudah menanti-nantikannya  (Luk 15: 11-32). “Kembalinya” itu membawa bermacam-macam  konsekuensi, seperti : menyesali dosa, mengakukannya dan memberi silih. Akan tetapi pertobatan sebagai tindakan sukarela dan pribadi itu tetap merupakan karunia Allah, sebab Dialah yang lebih dahulu menyentuh hati manusia, menyadarkannya dan mengajaknya untuk membali kepada-Nya.[1] Dan mereka yang diutus dapat menjadi dan seharusnya menjadi orang-orang lain agar mereka berdamai kembali dengan Allah serta menyatukan dirinya dengan-Nya.

Dan bila pertobatan itu terlaksana, juga ‘terpenuhilah’kiranya apa yang dikatakan St. Fransikus ini. ”Semua orang laki-laki-laki dan perempuan, apabila melakukan hal-hal itu dan bertekun hingga akhir, maka Roh Tuhan akan tinggal pada mereka dan akan memasang tempat tinggal dan kediaman di dalam mereka. Maka mereka akan menjadi anak-anak Bapa surgawi, yang karya-Nya mereka laksanakan. Mereka menjadi mempelai, saudara dan ibu Tuhan kita Yesus Kristus.

Kita menjadi mempelai bila jiwa yang setia disatukan dengan Yesus Kristus oleh Roh Kudus. Kita menjadi saudara bila kita melaksanakan hehendak Bapa-Nya yang ada di surga. Kita menjadi ibu bila kita mengandung Dia di dalam hati dan tubuh kita karena kasih dan  karena suara hati yang murni dan jernih. Kita melahirkan Dia melalui karya yang suci, yang harus bercahaya bagi orang lain sebagai contoh” (2 Sur Berim 48-53).

[1] Lih. Niko Syukur Dister OFM, Pertobatan sebagai jawaban manusia atas perdamaian Allah, PERANTAU Th VI, No 1 (Februari 1983), 3-11.

Berita dan Artikel Lainnya